Cirebon punya empat keraton, dan yang termuda di antara keempatnya lahir dari konflik antara putra mahkota dan pemerintah kolonial Belanda. Keraton Kacirebonan terletak di Jalan Pulasaren, Kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, yang berdiri sejak 18 Maret 1808.
ย Keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari kisah Pangeran Muhammad Haerudin, putra mahkota Keraton Kanoman yang diasingkan Belanda ke Ambon dan Maluku karena terlalu aktif memimpin perlawanan rakyat Cirebon.
Ketika Belanda akhirnya memulangkannya, kursi sultan di Keraton Kanoman sudah diisi adiknya, Pangeran Imamudin, yang lebih kooperatif terhadap pemerintah kolonial. Pangeran Haerudin merespons dengan mendirikan keratonnya sendiri, Kacirebonan, dan menobatkan dirinya sebagai Sultan Carbon Amirul Mukminin Muhammad Khaerudin.
Keputusan itu bukan hanya tindakan politis, tapi juga pernyataan bahwa perlawanannya tidak selesai hanya karena kursi sultan sudah digantikan orang lain.
Kini Keraton Kacirebonan sudah memasuki generasi kesembilan, dan masih aktif menyelenggarakan berbagai tradisi adat tahunan yang terbuka untuk umum.
ย
Sekilas Mengenai Keraton Kacirebonan
Dari keempat keraton yang ada di Cirebon, yaitu Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabonan, Keraton Kacirebonan adalah yang paling muda.
Namun statusnya sebagai yang termuda tidak mengurangi bobot sejarahnya karena justru kelahirannya merupakan salah satu respons terhadap kebijakan politik Belanda di Cirebon abad ke-19.
Arsitektur bangunannya memadukan gaya kolonial dan tradisional dengan warna dominan putih dan hijau. Gapura di depan menjadi pintu pertama sebelum memasuki pintu gerbang Kahagung yang dibuat dari ukiran kayu.
Di sisi kiri dan kanan gerbang terdapat dua Paseban sebagai ruang penerimaan tamu sebelum bertemu sultan. Konsep tata ruang ini masih mengikuti tradisi keraton Jawa yang memisahkan ruang publik, semi-publik, dan privat secara bertahap.
Di dalam kompleks terdapat langgar keramat Tirta Sumirat yang menjadi bangunan pertama yang didirikan di kawasan ini, bahkan sebelum bangunan utama keraton. Di depannya tumbuh pohon tanjung yang ditanam sejak 1797, hampir sepuluh tahun sebelum keraton resmi berdiri.
ย
Daya Tarik Utama Keraton Kacirebonan
Museum di dalam Bangsal Prabayaksa adalah titik yang paling banyak diminati pengunjung. Di sini tersimpan berbagai koleksi peninggalan kesultanan, yakni naskah kuno, baju kebesaran, gamelan, wayang, pedang, batik, perhiasan, dan berbagai perabotan kuno.
Koleksi gamelan yang ada di sini termasuk yang cukup lengkap di antara koleksi keraton-keraton Cirebon yang masih digunakan dalam upacara-upacara adat tertentu.
Sumur jimat adalah elemen lain yang kerap dicari pengunjung. Air dari sumur ini dipercaya memiliki khasiat tertentu dalam tradisi kepercayaan masyarakat setempat.
Tidak jauh dari sumur, langgar keramat Tirta Sumirat berdiri sebagai bangunan tertua dalam kompleks, dengan pohon tanjung berusia lebih dari dua abad sebagai penandanya.
Setiap tahun, Keraton Kacirebonan menyelenggarakan serangkaian acara adat yang terbuka untuk umum: peringatan 1 Sura, Maulidan, Panjang Jimat, Grebeg Syawal, dan Raya Agung
Di luar acara adat, sering digelar pula pementasan wayang kulit, seni tari, karawitan, dan gamelan yang bisa disaksikan pengunjung yang datang pada waktu tertentu.
ย
Akses Menuju Keraton Kacirebonan
Keraton Kacirebonan beralamat di Jalan Pulasaren, Kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon.
Dari Alun-Alun Kejaksaan Kota Cirebon, rutenya melalui Jalan Kartini ke arah barat, kemudian belok ke Jalan Kabupaten, lalu belok kiri ke Jalan Tambun, dan kembali belok kiri ke Jalan Pekiringan sebelum akhirnya belok kiri ke Jalan Pulasaren. Keraton berada tepat di sisi jalan, di depan kawasan pertokoan.
Dari Stasiun Cirebon, perjalanan ke keraton bisa ditempuh sekitar 10 hingga 15 menit menggunakan kendaraan. Ojek online beroperasi di Kota Cirebon dan bisa dijadikan pilihan praktis. Bagi yang baru tiba dari Jakarta atau Bandung menggunakan kereta, stasiun menjadi titik transit yang sangat mudah untuk melanjutkan ke berbagai destinasi wisata Cirebon.
ย
Jam Operasional dan Harga Tiket
Keraton Kacirebonan buka setiap hari. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari saat suasana belum terlalu ramai dan kondisi lebih nyaman untuk menjelajahi setiap sudut kompleks.
Tiket masuk Rp10.000 untuk pelajar, Rp15.000 untuk umum, dan Rp20.000 untuk wisatawan mancanegara. Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir, musala, toilet, museum, dan pemandu yang bisa ditemui di lokasi. Beberapa bagian kompleks seperti Gedung Kaputren, Pringgawati, dan Gedong Ijo tidak terbuka untuk umum dan hanya bisa dimasuki atas izin istana.
Keraton Kacirebonan cocok untuk Kawan GNFI yang ingin menjelajahi Cirebon lebih dari sekadar kuliner dan batik.
Gabungkan kunjungan ini dengan Gua Sunyaragi dan Keraton Kasepuhan yang berada di kota yang sama agar perjalanan ke Cirebon terasa lebih lengkap dari sisi sejarahnya
Selamat berkunjung ya Kawan!


