9 museum dengan teknologi imersif di indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

9 Museum dengan Teknologi Imersif di Indonesia

9 Museum dengan Teknologi Imersif di Indonesia
images info

museum | Foto oleh Claire di Unsplash


Perkembangan teknologi digital kini mengubah tata pamer budaya. Terbukti makin banyak museum yang mengadopsi teknologi imersif di Indonesia. Proyeksi video mapping 360 derajat, Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan sensor gerak interaktif menjadikan kunjungan museum sebagai sarana wisata edukasi digital Indonesia yang praktis dan relevan bagi generasi muda.

Langkah modernisasi ini mendukung program strategis revitalisasi museum dan cagar budaya nasional. Berikut 9 museum dan ruang pamer di Indonesia yang telah menerapkan teknologi imersif secara mendalam.

Ruang ImersifA – Museum Nasional Indonesia (Jakarta)

Berada di Gedung A Museum Nasional, Ruang ImersifA menyajikan instalasi proyeksi digital permanen berukuran 12 × 21 meter. Memanfaatkan teknologi video mapping 360 derajat dari dinding hingga lantai, wahana berdurasi 30 menit ini memvisualisasikan sejarah Nusantara, peradaban bahari, keragaman candi, hingga era modern.

Museum Benteng Vredeburg (Yogyakarta)

Dikelola Indonesian Heritage Agency (IHA), Benteng Vredeburg melengkapi diorama perjuangannya dengan teknologi digital. Fitur unggulannya adalah Dream Corner, area interaktif tempat anak-anak mewarnai karakter sejarah secara manual, lalu memindainya agar tampil menjadi animasi bergerak di layar digital.

baca juga

Museum Negeri Sonobudoyo (Yogyakarta)

Museum Sonobudoyo mengintegrasikan koleksi keris dan wayang klasik dengan teknologi modern. Tersedia bioskop interaktif dan wahana Virtual Reality (VR) jemparingan (panahan tradisional gaya Yogyakarta) yang memungkinkan pengunjung merasakan simulasi memanah berespons visual presisi.

Museum Gedung Sate (Bandung)

Mengusung konsep smart museum, museum ini memaparkan sejarah arsitektur Gedung Sate secara digital. Fasilitasnya mencakup kacamata VR simulasi balon udara tempo dulu, teknologi AR konstruksi gedung, dan interactive floor yang merespons langkah kaki.

Museum Wayang Kota Tua

Pascarevitalisasi, Museum Wayang menghadirkan ruang imersif 360 derajat dengan animasi wayang yang responsif terhadap sentuhan dinding. Tersedia pula area super hologram 3D, gamelan virtual, pemindaian mewarnai wayang digital, serta stan foto kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Nawa Majika di Museum Bank Mandiri

Wahana Nawa Majika di gedung bersejarah Bank Mandiri merupakan hasil kolaborasi dengan studio kreatif LZY Visual. Petualangan interaktif 60 menit ini mengajak pengunjung berinteraksi dengan sensor cahaya dan proyeksi visual tematik di dalam gedung cagar budaya perbankan.

baca juga

Galeri Indonesia Kaya (Grand Indonesia, Jakarta)

Galeri Indonesia Kaya menyajikan edukasi budaya Nusantara berbasis multimedia interaktif secara gratis. Pengunjung dapat mencoba aplikasi Cermin Tari Tradisional, peraga pakaian adat digital, jelajah kuliner Nusantara, dan pertunjukan seni di auditorium digital modern.

Pipilaka di Gedung Sarinah (Jakarta)

Pameran imersif Pipilaka di Lantai 5 Gedung Sarinah memadukan pesan ekologi dan gotong royong semut (pipilaka). Instalasi ini menggabungkan tata cahaya, video mapping, patung karakter, serta narasi audio sederet seniman nasional, dengan profit dialokasikan untuk beasiswa sekolah digital.

Museum Maritim Indonesia (Jakarta Utara)

Berada di Pelabuhan Tanjung Priok, museum ini mengulas sejarah kelautan Nusantara secara interaktif. Koleksinya didukung simulator navigasi kapal laut, visualisasi rute rempah perdagangan dunia, dan sistem tiket digital terpadu.

Mengapa Teknologi Imersif Krusial bagi Pelestarian Warisan Budaya Indonesia?

Penerapan teknologi imersif di museum memiliki tiga fungsi utama:

baca juga

  1. Efektivitas Literasi: Format visual interaktif mempercepat pemahaman sejarah bagi generasi muda secara langsung dan menarik.
  2. Preservasi Fisik Artefak: Koleksi rentan usia dapat dipindai ke format 3D atau hologram, menjaga keaslian fisik artefak dari kerusakan akibat paparan lingkungan.
  3. Fleksibilitas Konten Edukasi: Kurator dapat memperbarui materi pameran secara digital tanpa harus merombak fisik bangunan cagar budaya.

Integrasi teknologi imersif membuktikan museum di Indonesia terus beradaptasi. Lewat pendekatan interaktif, edukasi nilai sejarah dan kebudayaan Nusantara kini dapat dinikmati publik secara lugas, modern, dan mudah dipahami.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Sholeh lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Sholeh.

MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.