Belum lama ini, tren โjamu partyโ sempat ramai dibicarakan di media sosial. Alih-alih berpesta dengan minuman beralkohol, mereka lebih memilih berkumpul sambil menikamati racikan jamu ala barista vintage yang dianggap lebih bermanfaat.
Mengemas kearifan lokal dengan konsep kekinian membuat tren back to nature kembali menarik perhatian. Sebab tanpa disadari tren ini juga mengajak masyarakat untuk mengenal kembali manfaat tanaman di sekitar mereka yang bisa diolah jadi ramuan kesehatan.
Kebiasaan ini sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 Masehi. Pada saat itu, ilmu pengetahuan sudah maju karena masyrakat mampu mengolah tanaman sekitar menjadi minuman yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Pengetahuan tersebut kemudian diwariskan secara turun temurun hingga tradisi minum jamu masih bertahan sampai sekarang.
Selain itu, jejak tradisi jamu juga bisa dilihat dari peninggalan arkeologi yang digunakan untuk membuat ramuan obat atau alat masak. Beberapa di antaranya ialah pipisan, gandik, alu, lumpang, dan anglo, serta wadah yang terbuat dari batu dan tanah liat. Dengan demikian, eksistensi jamu perlu tetap dilestarikan karena hal tersebut mencerminkan Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya sejak dahulu kala.
Tradisi jamu ternyata menyimpan cerita yang lebih luas dari sekadar mengolah tanaman menjadi ramuan kesehatan.Perpaduan bahan dan rasa dalam setiap racikannya juga dimaknai sebagai gambaran perjalanan hidup manusia.
Hal tersebut tertuang dalam kajian ilmiah yang bertajuk Minuman Jamu Tradisional sebagai Kearifan Lokal Masyarakat di Kerajaan Majapahit pada Abad ke-14 Masehi (2021). Bahwasanya, ada delapan jenis jamu yang memiliki makna filosofis tentang perjalanan hidup manusia.
Filosofi Jamu dalam Perjalanan Hidup Manusia
Dimulai dari kunyit asam, yang terbuat dari rimpang kunyit dan asam. Rasanya yang manis dan asam melambangkan kehidupan pada masa bayi hingga anak-anak. Fase ini digambarkan sebagai masa kehidupan yang masih terasa manis.
Memasuki masa remaja, ada Beras Kencur yang memiliki sedikit rasa pedas. Rasa ini menggambarkan peralihan menuju tahap kehidupan yang mulai diwarnai berbagai pengalaman dan tantangan. Jamu berbahan beras dan kencur ini juga dikenal dapat membantu menyegarkan tubuh serta meningkatkan nafsu makan.
Perjalanan kemudian berlanjut pada Cabe Puyang, yang menggambarkan masa dewasa ketika seseorang mulai merasakan pahitnya kehidupan. Perpaduan rasa pedas pahit pada jamu berbahan cabe jamu dan lempuyang ini menjadi gambaran bahwa kehidupan tidak selalu berjalan mulus.
Makna kehidupan yang penuh tantangan juga tergambar dalam Jamu Pahitan. Sesuai namanya, jamu ini memiliki rasa pahit dan dibuat dari bahan-bahan seperti sambiloto, brotowali, filo, widoro laut dan ada juga yang menambahkan adas sebagai resep tambahan. Khasiat dari jamu ini adalah untuk menghilangkan gatal-gatal dan mencegah alergi.
Sementara itu, Kunci Suruh menggambarkan pentingnya pelajaran yang diperoleh sejak kecil sebagai bekal untuk meraih kesuksesan di masa depan. Jamu ini rasanya pahit dan diracik dari berbagai bahan, seperti temu kunci, kunyit, jahe, kencur, kapulaga, beluntas, kayu manis, asam jawa, jeruk nipis, serai jeruk nipis dan sirih.
Ada pula Kudu Laos, jamu penghangat yang berbahan dasar mengkudu dan laos ini melambangkan tentang kedewasaan yang diharapkan mampu mengayomi orang-orang di sekitarnya. Khasiat dari jamu ini adalah untuk menurunkan tekanan darah dan mengurangi kolesterol.
Berbeda dari jenis sebelumnya, Uyup-uyup/gepyokan memiliki makna spiritual. Jamu yang diracik dari sejumlah tanaman, seperti kencur, jahe, bangle, dan lengkuas ini dimaknai sebagai bentuk pengabdian manusia kepada Tuhan yang berwujud kepasrahan tulus seorang hamba.
Rangkaian delapan jamu tersebut kemudian ditutup dengan Sinom. Jamu berbahan asam jawa ini memiliki perpaduan rasa asam, manis, dan segar yang melambangkan akhir kehidupan manusia yang kembali kepada Tuhan dalam keadaan suci, sebagaimana ketika dilahirkan.
Ajaran-ajaran yang tertuang dalam filosofi delapan jamu ini merupakan peninggalan dari leluhur yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat menjadi manusia yang lebih baik.


