nyanyikan menteri goblok hingga lempar nasi bungkus kisah demo mahasiswa 1966 di bundaran hi - News | Good News From Indonesia 2026

Nyanyikan “Menteri Goblok”, hingga Lempar Nasi Bungkus! Kisah Demo Mahasiswa 1966 di Bundaran HI

Nyanyikan “Menteri Goblok”, hingga Lempar Nasi Bungkus! Kisah Demo Mahasiswa 1966 di Bundaran HI
images info

Demo 1966/wikipedia


Demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, ternyata menyimpan cerita yang tidak biasa. Jauh sebelum aksi mahasiswa menjadi pemandangan rutin di ibu kota, kawasan ini pernah menjadi saksi perjuangan mahasiswa pada 1966. Bukan hanya orasi dan tuntutan politik, ada pula nyanyian sindiran kepada para menteri, persoalan membuat lem perekat untuk aksi, hingga nasi bungkus yang berakhir dilempar ke lantai.

Kisah tersebut bukan sekadar cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Semuanya terekam dalam buku Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie, khususnya halaman 168–173.

Catatan aktivis mahasiswa itu menjadi menarik untuk dibaca kembali setelah demonstrasi pada 28 Oktober 2026 kembali berlangsung di Bundaran HI. Meski terpaut sekitar enam dekade, tempat tersebut kembali menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah.

Dari Tritura hingga Nyanyian “Menteri Goblok” di Hotel Indonesia

Untuk memahami demonstrasi mahasiswa 1966, kita perlu melihat situasi Indonesia setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965.

baca juga

Saat itu, Indonesia mengalami ketidakstabilan politik dan ekonomi. Ketegangan politik meningkat, sementara masyarakat menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok, bahan bakar, dan biaya hidup.

Kondisi tersebut melahirkan gelombang demonstrasi mahasiswa yang kemudian dikenal melalui gerakan Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat. Isinya adalah pembubaran PKI, perombakan Kabinet Dwikora, serta penurunan harga.

Dalam catatannya, Soe Hok Gie menceritakan pergerakan mahasiswa dari Salemba menuju Rawamangun hingga kawasan Hotel Indonesia. Salah satu aksi diikuti sekitar 200 mahasiswa yang melakukan long march.

Namun, ada kejadian yang membuat demonstrasi tersebut berbeda dari aksi pada umumnya.

baca juga

Mahasiswa tidak hanya membawa poster dan menyampaikan orasi. Mereka juga menghentikan kendaraan, mencoret-coret mobil, bahkan menyampaikan kritik melalui nyanyian yang menyindir para pejabat.

Gie mencatat salah satu nyanyian mahasiswa:

“Tek, kotek, kotek,
Ada menteri kurang obyek,
Blok, goblok, goblok,
Kita ganyang… menteri goblok.”

Nyanyian tersebut menjadi bentuk sindiran keras terhadap para pejabat di tengah keresahan masyarakat.

baca juga

Ada pula slogan-slogan yang ditulis mahasiswa di kendaraan, di antaranya kritik terhadap DPR, para menteri, dan kebijakan pemerintah.

Kejadian unik lainnya muncul ketika mahasiswa membutuhkan perlengkapan untuk membuat tulisan demonstrasi. Mereka mendatangi bagian percetakan Hotel Indonesia untuk memperoleh kertas, tinta, dan alat tulis.

Sayangnya, menurut catatan Gie, proses mendapatkan perlengkapan tersebut tidak berjalan mulus. Mahasiswa merasa diperlakukan tidak menyenangkan karena harus menunggu.

Situasi kemudian berkembang menjadi aksi protes. Mahasiswa membutuhkan bahan perekat untuk memasang tulisan dan tuntutan mereka. Dalam prosesnya, pihak manajemen Hotel Indonesia turut membantu menyediakan bahan untuk membuat lem perekat.

baca juga

Dengan kertas beberapa rim, kanji, dan spidol, mahasiswa akhirnya dapat melanjutkan pekerjaan mereka.

Kejadian ini memperlihatkan sisi lain demonstrasi: di tengah ketegangan politik, kebutuhan teknis sederhana seperti kertas dan lem ternyata ikut menentukan jalannya aksi.

Nasi Bungkus dari Manajemen HI Justru Dianggap Penghinaan

Cerita paling menarik berikutnya terjadi ketika mahasiswa berada di Hotel Indonesia.

Saat itu, pihak hotel memberikan nasi bungkus kepada mahasiswa. Kemungkinan, pihak hotel mengira para demonstran kelelahan dan membutuhkan makanan setelah melakukan aksi.

baca juga

Namun, respons yang muncul justru di luar dugaan.

Dalam catatannya, Gie menceritakan bagaimana seorang mahasiswa mempertanyakan nasi yang diberikan tersebut.

“Kita apakan nasi ini?”

Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh rekannya dengan kalimat:

baca juga

“Menghina, lempar saja.”

Nasi bungkus tersebut akhirnya dilempar ke lantai.

Peristiwa ini memperlihatkan betapa sensitifnya hubungan antara mahasiswa dan pihak-pihak yang dianggap mewakili kekuasaan pada masa itu. Pemberian makanan yang mungkin dimaksudkan sebagai bentuk perhatian justru ditafsirkan sebagai penghinaan.

Gie juga mencatat bahwa mahasiswa kemudian memperoleh kertas, kanji, dan spidol untuk melanjutkan aksi mereka. Bahkan, berbagai tulisan politik dibuat untuk ditempelkan di sekitar lokasi.

baca juga

Di bagian lain bukunya, Gie menyampaikan pandangan mengenai tanggung jawab mahasiswa terhadap bangsa.

Ia menulis:

“Tujuanku sebenarnya tidak banyak. Aku ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini menyadari bahwa mereka adalah ‘too happy selected few’ yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus juga menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya.”

Pesan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari pemikiran Soe Hok Gie. Baginya, mahasiswa tidak cukup hanya menikmati kesempatan mengenyam pendidikan, tetapi juga perlu terlibat dalam persoalan masyarakat.

baca juga

Semangat menyuarakan kritik itu kembali terlihat pada demonstrasi 28 Oktober 2026. BEM UI bersama Komite Sadar menggelar aksi di Bundaran HI dengan membawa seruan “Prabowo Gibran, Ini Lima Perintah Rakyat! Tepati atau Pergi!”

Lima tuntutan tersebut menyangkut penanganan bencana, evaluasi anggaran negara, perbaikan pendidikan dan lapangan pekerjaan, pemberantasan korupsi serta penegakan hukum, hingga pemulihan kebebasan sipil dan hak asasi manusia.

Enam dekade telah berlalu. Nyanyian mahasiswa 1966 mungkin sudah menjadi bagian dari sejarah, begitu pula kisah nasi bungkus yang dilempar dan perjuangan mencari lem perekat di Hotel Indonesia.

Namun, Bundaran HI kembali menjadi saksi bahwa mahasiswa masih menggunakan ruang publik untuk menyampaikan kritik.

baca juga

Sejarah memang tidak selalu berulang dengan cara yang sama. Tetapi, satu hal tetap terlihat: ketika persoalan bangsa dianggap membutuhkan jawaban, mahasiswa tidak selalu memilih untuk diam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.