Mendekati peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang, mari kita telisik bersama siapa saja tokoh penting kongres pemuda 2 dan perannya. Apakah Kawan tahu tiga butir ikrar yang kerap diucapkan setiap akhir Oktober tersebut berakar dari pertemuan para pemuda?
Dalam tulisan Sutjiatiningsih (1999), peristiwa bersejarah ini disebut dilangsungkan pada tanggal 27 sampai 28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), dipimpin langsung oleh Soegondo Djojopoespito. Naskah ikrar Sumpah Pemuda dirumuskan oleh Muhammad Yamin, sementara alunan lagu kebangsaan Indonesia Raya pertama kalinya dikumandangkan oleh W.R. Supratman.
Melalui tulisan ini, Kawan GNFI akan diajak mengupas tuntas susunan panitia, jajaran pembicara, hingga kisah unik tokoh Sumpah Pemuda dan perannya yang jarang tersorot buku sejarah sekolah. Mari kita bedah satu per satu!
Ringkasan Cepat: Siapa Saja Tokoh Sumpah Pemuda 1928 dan Apa Perannya?
- Soegondo Djojopoespito: Ketua Kongres dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).
- R.M. Djoko Marsaid: Wakil Ketua Kongres dari Jong Java.
- Muhammad Yamin: Sekretaris Kongres dari Jong Sumatranen Bond sekaligus perumus naskah Sumpah Pemuda.
- Amir Sjarifuddin: Bendahara Kongres dari Jong Bataks Bond.
- W.R. Supratman: Wartawan Sin Po yang memperdengarkan lagu Indonesia Raya dengan biola.
- Para Pembantu (Asisten I–V): Johan Mohammad Tjaja, Katja Soengkana, R.C.L. Senduk, Johannes Leimena, dan Mohammad Rochjani Su'ud.
- Para Penasihat & Pembicara Sesi: Sunario Sastrowardoyo, Poernomowoelan, dan Sarmidi Mangoensarkoro.
Latar Singkat Awal Mula Kongres Pemuda II
Gagasan besar Kongres Pemuda II berawal dari inisiatif PPPI yang menggelar pertemuan pada 3 Mei 1928, disusul pembentukan panitia resmi pada 12 Agustus 1928 (Sutjiatiningsih, 1999). Dikutip dari Madhiyah (2021) Soegono selaku ketua PPPI baru ingin melanjutkan gagasan Mohammad Tabrani Soejowitjirto serta para pemuda lain yang pernah menggelar Kongres Pemuda I.
Merujuk pada catatan tersebut juga disebutkan bahwa pada hari ketiga kongres, Muhammad Yamin menyerahkan secarik kertas kepada Soegondo Djojopoespito yang berisi rumusan gagasan dari Kongres Pemuda I yang diprakirakan oleh tokoh Kongres Pemuda I seperti Mohammad Tabrani.
Naskah yang telah disesuaikan baris ketiganya tersebut disetujui oleh Soegondo, Amir Sjarifudin, serta seluruh panitia. Mereka membubuhkan tanda tangan sebagai wujud persetujuan. Rumusan final tersebut lantas dibacakan oleh Soegondo dan disetujui oleh seluruh peserta sebagai hasil akhir yang kini kita abadikan sebagai Sumpah Pemuda (Sutjiatiningsih, 1999).
Susunan Panitia Kongres Pemuda II dan Perannya
Berikut susunan panitia Kongres Pemuda II dan perannya dalam acara tersebut:
1. Soegondo Djojopoespito (Ketua Kongres Pemuda II)
Sebagai ketua PPPI yang baru, Soegondo dipercaya memimpin tiga rapat penting dalam Kongres Pemuda kedua ini. Dalam buku biografi Soegondo Djojopoespito: Hasil Karya dan Pengabdiannya (1999), beliau juga yang mengusulkan agar W.R. Supratman membawakan lagu Indonesia Raya tanpa lirik demi menghindari insiden dan ketegangan dengan polisi Belanda setelah hari sebelumnya pertemuan tersebut SUDAH diberi beberapa teguran di ruang sidang.
2. R.M. Djoko Marsaid (Wakil Ketua Kongres Pemuda 2)
Mewakili organisasi Jong Java, R.M. Djoko Marsaid mendampingi kepemimpinan Soegondo dengan penuh dedikasi. Ia memainkan peran krusial dalam mengarahkan fokus para pemuda agar tetap bertumpu pada satu tujuan bersama, yakni persatuan Indonesia.
3. Muhammad Yamin (Sekretaris)
Tokoh asal Jong Sumatranen Bond ini menulis draf rumusan ikrar di secarik kertas ketika Sunario sedang berpidato (Sutjiatiningsih, 1999). Yamin juga melakukan revisi penting dengan mengganti istilah bahasa persatuan dalam draf menjadi "bahasa Indonesia" sesuai usulan Mohammad Tabrani saat Kongres Pemuda I digelar (Madhiyah et al., 2021).
4. Amir Sjarifuddin (Bendahara)
Selain mengelola keuangan dari Jong Bataks Bond, Amir Sjarifuddin turut membubuhkan paraf "acc" pada secarik kertas rumusan Yamin (Sutjiatiningsih, 1999). Dukungannya memperkuat solidaritas panitia inti dalam mengambil keputusan yang revolusioner tersebut.
5. Pembantu I sampai V
Jajaran pembantu yang terdiri dari Johan Mohammad Tjaja (Jong Islamieten Bond), Katja Soengkana (Pemuda Indonesia), R.C.L. Senduk (Jong Celebes), Johannes Leimena (Jong Ambon), dan Mohammad Rochjani Su'ud (Pemuda Kaum Betawi) bekerja luar biasa di garis depan (Sutjiatiningsih, 1999). Mereka memastikan logistik, perizinan, dan keamanan teknis kongres berjalan lancar di bawah bayang-bayang aparat kolonial.
Penasihat dan Pembicara Kongres
Sidang demi sidang diisi oleh pemikiran-pemikiran para tokoh senior dan pendidik bangsa. Dikutip dari Sutjiatiningsih (1999), berikut di antaranya:
Rapat Pertama (27 Oktober 1928): Dibuka oleh Soegondo, dilanjutkan dengan pidato seputar arti dan hubungan persatuan dengan pemuda dari Muhammad Yamin.
Rapat Kedua (28 Oktober 1928): Berlangsung di Oost-Java Bioscoop, membahas pendidikan kebangsaan bersama Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro. Menurut Museum Sumpah Pemuda, kedua pembicara tersebut berbagi gagasan bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, serta memiliki keseimbangan yang baik antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Di samping itu, anak juga perlu dididik secara demokratis.
Rapat Ketiga (28 Oktober 1928): Bertempat di Indonesisch Clubhuis Kramat 106, diisi oleh pidato Sunario Sastrowardoyo mengenai "Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia", disusul paparan Ramelan dan Theo Pangemanan mengenai pentingnya gerakan kepanduan berlandaskan semangat cinta tanah air.
W.R. Supratman dan Indonesia Raya di Kongres Pemuda II

Kisah W.R. Supratman dan Indonesia Raya di Kongres Pemuda II | Koleksi Museum Sumpah Pemuda
Melalui tulisan Sutjiatiningsih (1999), W.R. Supratman diceritakan menghampiri Soegondo sewaktu istirahat untuk meminta izin memperdengarkan lagu gubahannya yang berjudul "Indonesia Raya". Mengingat ketatnya pengawasan aparat dan isi liriknya, Soegondo kemudian meminta Supratman memainkannya tanpa melantunkan lirik bersyair demi menghindari teguran.
W.R. Supratman kemudian menyanggupi permintaan itu, ia memang bermaksud memainkan lagunya dengan biola yang sudah ia siapkan. Alunan biola yang mengalun syahdu tersebut menjadi pertama kalinya lagu Indonesia Raya diperdengarkan pada khalayak ramai. Penampilan W.R. Supratman kala itu disambut tepuk tangan meriah oleh seluruh hadirin.
Tokoh di Balik Layar: Siapa yang Membawa Indonesia Raya Keluar dari Ruang Kongres?
Jejak sejarah yang jarang diulas publik sering kali berhenti pada panitia dan kisah W.R. Supratman saja. Jawa Pos mengungkap sejumlah tokoh di balik layar yang membuat lagu tersebut bisa sampai ke publik (Ravando Lie, Jawa Pos):
Sie Kong Lian: Pemilik gedung di Kramat 106 yang menjadi tempat penutupan kongres dan kini diabadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda.
Ang Yan Goan: Direktur surat kabar Sin Po yang berani memuat lirik dan partitur lengkap lagu Indonesia Raya pada edisi mingguan 10 November 1928 setelah banyak surat kabar Indonesia yang menolak memuatnya.
Yo Kim Tjan: Pemilik Toko Populair yang merekam lagu tersebut secara diam-diam di Gunung Sahari dalam versi asli dan keroncong setelah beberapa toko lain menolak karena takut delik pers kolonial. Polisi mengendus aktivitas ini dan pada akhirnya menyita rekaman tersebut. Beruntungnya, satu piringan hitam berhasil diselamatkan putri tertua Yo, Kartika Kertayasa (Yo Hoey Gwat).
Empat Pengamat Tionghoa: Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie yang hadir langsung di ruang kongres, mencerminkan semangat inklusivitas dalam perjuangan kebangsaan.
Pengawas Kolonial di Ruang Kongres
Aparat kepolisian rahasia kolonial (PID) dan penasihat urusan bumiputra seperti Van der Plas mengawasi setiap gerak-gerik peserta dengan ketat.
Tekanan politik yang konstan ini justru menuntut para tokoh pemimpin muda untuk mengambil keputusan secara taktis, cerdas, dan penuh perhitungan matang tanpa memberi celah bagi aparat kolonial untuk menjatuhkan gerakan pemuda.
Salah satunya bisa dilihat dari bagaimana lagu Indonesia Raya yang kelak menjadi lagu kemerdekaan diperdengarkan kepada audiens menggunakan alunan biola yang indah.
Peristiwa Kongres Pemuda II membuktikan dedikasi para tokoh penting Kongres Pemuda 2 yang sangat berjasa dalam merajut fondasi kebangsaan Indonesia. Melalui kepemimpinan yang berani dan kolaborasi lintas daerah, mereka sukses menyatukan tekad Nusantara menjadi satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.
Ingin mengulik lebih banyak sejarah dan kisah inspiratif seputar pahlawan nasional? Yuk, jelajahi ragam artikel edukatif lainnya di Good News From Indonesia!
REFERENSI:
- Madhiyah, F. T., & Yanuardi, M. H. (2021). Mohammad Tabrani Soejowitirjto: Peran Dalam Kongres Pemuda 1925-1928. PERIODE: Jurnal Sejarah Dan Pendidikan Sejarah, 3(2), 112-130.
- https://muspada.kemenbud.go.id/sejarah-sumpah-pemuda/
- https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/ph
- https://www.jawapos.com/halte/2010250094/tionghoa-dalam-sumpah-pemuda
- https://repositori.kemendikdasmen.go.id/8386/1/SOEGONDO%20DJOJOPOESPTO%20HASIL%20KARYA%20DAN%20PENGABDIANNYA.pdf
- https://muspada.kemenbud.go.id/sejarah-gedung/


