perbedaan hasil kongres pemuda i dan ii - News | Good News From Indonesia 2026

Perbedaan Hasil Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II, Mari Bandingkan!

Perbedaan Hasil Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II, Mari Bandingkan!
images info

Perbedaan Hasil Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II | Wikimedia Commons @Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Terdapat segelintir perbedaan hasil Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II. Kongres Pemuda I yang berlangsung 30 April sampai 2 Mei 1926 belum menghasilkan keputusan resmi akibat perdebatan Yamin dan Tabrani soal nama bahasa persatuan, sementara Kongres Pemuda II (27–28 Oktober 1928) sukses melahirkan ikrar tiga butir.

Pertemuan antara para pemuda ini menjadi tonggak sejarah Sumpah Pemuda. Kongres Pemuda sejatinya merupakan wadah konsolidasi berbagai organisasi kepemudaan yang awalnya masih bersifat kedaerahan, seperti Jong Java dan Jong Sumatranen Bond.

Di dalam artikel ini, Kawan GNFI bisa menemukan tabel perbandingan lengkap beserta alasan mendalam di balik perbedaan kedua kongres tersebut, jadi mari telisik bersama sampai akhir, ya!

Tabel Perbandingan Kongres Pemuda I dan II

Aspek PerbandinganKongres Pemuda I (1926)Kongres Pemuda II (1928)
Waktu Pelaksanaan

30 April – 2 Mei 1926

27 – 28 Oktober 1928

Tokoh Sentral

Mohammad Tabrani (Ketua)

Soegondo Djojopoespito (Ketua PPPI)

Hasil Akhir

Tanpa keputusan resmi/tertulis

Lahirnya ikrar tiga butir (Sumpah Pemuda)

Bahasa Persatuan

Diperdebatkan (Melayu vs. Indonesia)

Resmi disepakati Bahasa Indonesia

Pengawasan Kolonial

Dikelabui lewat obrolan santai dengan pengawas Visbeen

Digelar di tiga gedung berbeda tanpa intervensi langsung

baca juga

Hasil Kongres Pemuda I: Mengapa Tanpa Keputusan Resmi

Dikutip dari Madhiyah dkk. (2021), Kongres Pemuda bermula dari Konferensi Organisasi Pemuda Nasional Pertama pada 15 November 1925 yang kala itu digelar di Gedung Lux Orientis Jakarta dan diprakarsai oleh wartawan muda Mohammad Tabrani. Dari sini fondasi awal pergerakan nasional mulai dibentuk. Mereka di antaranya sepakat untuk menggelar Kongres Pemuda I pada tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926.

Sayangnya, ketika Kongres Pemuda I benar-benar berlangsung pada waktu tersebut, pertemuan ini harus berakhir tanpa keputusan resmi. Perdebatan antara Muhammad Yamin dan Mohammad Tabrani mengenai penamaan "bahasa persatuan" menjadi batu sandungan utamanya.

Dari situ, Mohammad Tabrani selaku ketua pertemuan tersebut memberi waktu kepada Muhammad Yamin untuk mempertimbangkan kembali isi butir ketiga dalam Ikrar Pemuda tersebut. Perdebatan mereka sendiri diakhiri dengan jabat tangan dan senyuman, meski belum menghasilkan keputusan final.

baca juga

Hasil Kongres Pemuda II: Lahirnya Ikrar Tiga Butir Sumpah Pemuda

Jeda dua tahun sepertinya membawa angin segar dan kematangan strategi bagi para pelajar Indonesia. Pada hari ketiga pelaksanaan Kongres Pemuda II, Muhammad Yamin memberikan secarik kertas berisi rumusan pikiran "Ikrar Pemuda" yang sempat dibuat saat Kongres Pemuda Pertama tahun 1926 kepada Ketua PPPI Soegondo Djojopoespito.

Rumusan pada butir ketiga ikrar tersebut telah sedikit direvisi oleh Muhammad Yamin, sesuai usulan Mohammad Tabrani yang kala itu menjadi Ketua Panitia Kongres Pemuda Pertama.

Setelah membaca isi dari ikrar tersebut, Soegondo Djojopoespito, Amir Sjarifudin dan semua anggota panitia menulis kata setuju dan membubuhkan tanda tangan mereka ke dalam kertas usulan. Semua panitia kongres menyetujui isi ikrar yang dibuat Muhammad Yamin sebagai hasil akhir putusan Kongres Pemuda II.

Setelahnya, Soegondo Djojopoespito selaku ketua membacakan usulan tersebut yang kemudian disetujui oleh semua peserta Kongres Pemuda Kedua. Usulan tersebut kini dikenal Kawan GNFI sekalian dengan nama “Sumpah Pemuda”. 

Adapun isi naskah keputusannya mencakup tiga rumusan yang awalnya disebut "Ikrar Pemuda", yaitu:

  1. Pertama, Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia.
  2. Kedua, Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
  3. Ketiga, Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Lima Perbedaan Utama antara Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II

Berikut sejumlah perbedaan mendasar antara Kongres Pemuda I yang digelar 1926 dan Kongres Pemuda II yang digelar tahun 1928:

1. Hasil: Tanpa Keputusan Resmi vs Ikrar Tiga Butir

Perdebatan antara Mohammad Tabrani Soejowitjirto dan Muhammad Yamin tidak mencapai suatu kesepakatan akhir. Dari situ, Mohammad Tabrani Soejowitjirto akhirnya memberi waktu kepada Muhammad Yamin untuk memikirkan usulan perubahan nama bahasa persatuan yang tertera pada butir ketiga ikrar tersebut.

Sementara itu, Kongres Pemuda II berakhir dengan hasil tiga butir Sumpah Pemuda yang Kawan GNFI bisa temukan di buku-buku sejarah. Naskah Sumpah Pemuda sendiri telah sedikit direvisi di bagian akhir yang sebelumnya menggunakan "Bahasa Melayu" sebagai bahasa persatuan bangsa menjadi "Bahasa Indonesia".

baca juga

2. Kepemimpinan: Tabrani Sang Wartawan Muda vs Soegondo dari PPPI

Kongres Pemuda I dipimpin oleh Mohammad Tabrani, seorang wartawan harian Hindia Baroe yang cerdik agar tidak terlalu mengundang kecurigaan aparat kolonial. Sebaliknya, Kongres Pemuda II dipelopori oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) di bawah kepemimpinan Soegondo Djojopoespito.

3. Bahasa Persatuan: Melayu vs Indonesia

Yamin sempat mempertahankan usulan bahasa Melayu karena posisinya sebagai bahasa pergaulan (lingua franca), sementara Tabrani bersikeras bahwa jika tanah air dan bangsanya bernama Indonesia, maka bahasanya harus disebut Bahasa Indonesia.

Dalam buku autobiografi M. Tabrani, Anak Nakal Banyak Akal (hal. 42), ia menuliskan petikan ucapan Moh. Yamin: "Bahasa Indonesia tidak ada; Tabrani tukang ngelamun."

4. Strategi Menghadapi Pengawasan Kolonial

Mohammad Tabrani Soejowitirjto menggagas strategi unik untuk menghadapi pengawasan pihak kolonial. Ia meminta bantuan para pemuda untuk mengajak bicara Visbeen (kepala kepolisian Belanda) dan para pengawas lainnya untuk mengalihkan perhatiannya. Dengan langkah ini diharapkan Visbeen dan pengawas lainnya tidak terlalu fokus mendengarkan saat kongres berjalan.

Sementara pada Kongres II, strategi diperluas dengan memanfaatkan tiga gedung berbeda (Katholieke Jongelingen Vereeniging, Oost Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw) serta alunan biola lagu Indonesia Raya oleh W.R. Supratman.

5. Dokumentasi

Tidak banyak arsip laporan Kongres I yang ditemukan, sementara itu Kongres II menghasilkan naskah putusan otentik yang disebarluaskan secara luas dan diperingati setiap tahun dalam gelaran Sumpah Pemuda 28 Oktober.

baca juga

Mengapa Kongres II Berhasil Sementara Kongres I Tidak Menghasilkan Keputusan Resmi

Keberhasilan Kongres Pemuda II didukung oleh jeda waktu dua tahun yang mematangkan kesadaran nasional, peran aktif mahasiswa melalui PPPI yang dimotori Soegondo Djojopoespito, serta kompromi matang atas perubahan satu butir rumusan bahasa yang sebelumnya tertunda. Perubahan visi ini merekatkan seluruh elemen pemuda lintas daerah tanpa sekat kedaerahan.

Sementara itu, dalam Kongres I belum tercapai kesepakatan final, terutama persoalan butir ketiga Ikrar Pemuda yang sempat menjadi perdebatan antara Muhammad Yamin dan Mohammad Tabrani.

Meski begitu, kehadiran Kongres Pemuda I sendiri penting dalam sejarah karena event tersebut memberikan cikal bakal draf Sumpah Pemuda yang akhirnya difinalisasi pada Kongres Pemuda II.

Satu Kata yang Mengubah Hasil: Dari Draf 1926 ke Ikrar Sumpah Pemuda 1928

Perbedaan hasil kedua kongres sebenarnya bertumpu pada satu kata kunci. Pada 1926, rumusan Yamin gagal karena butir ketiga menyebut bahasa Melayu. Sementara pada 1928, rumusan yang nyaris sama diterima setelah butir itu direvisi menjadi bahasa Indonesia.

ButirDraf 1926 (Kongres I)Ikrar 1928 (Kongres II)
Tanah AirKami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia

BangsaKami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa IndonesiaKami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
BahasaKami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa MelayuKami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia

Menariknya, menurut laman Republika, istilah "Sumpah Pemuda" sendiri sempat dikritik Tabrani karena menurutnya istilah "sumpah" lazimnya ditujukan kepada Tuhan, tetapi Yamin menjawab bahwa istilah tersebut terlanjur dipakai dan tidak bisa diganti lagi.

baca juga

Kesimpulan dan Inspirasi untuk Kawan GNFI

Perbedaan paling mendasar antara hasil Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II adalah ketiadaan keputusan resmi pada tahun 1926 akibat perdebatan soal bahasa persatuan bangsa, berbanding dengan terwujudnya ikrar bulat tiga butir Sumpah Pemuda pada tahun 1928 berkat diplomasi dan visi kebangsaan yang sudah lebih matang.

Meski sempat diwarnai perbedaan pendapat, para pemuda kala itu tetap teguh dengan keinginannya untuk menyatukan serta bersatu di bawah nama Indonesia. Keteguhan hati semacam ini bisa menjadi contoh bagi Kawan GNFI, terutama ketika menghadapi situasi sulit.

Yuk, terus gali wawasan sejarah Nusantara lainnya! Kawan GNFI bisa mengeksplorasi berbagai artikel edukatif dan menarik seputar pahlawan serta kebudayaan Indonesia di kanal Good News From Indonesia untuk merawat semangat nasionalisme kita hari ini.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.