tekad pemuda untuk berbahasa indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Tekad Pemuda untuk Berbahasa Indonesia

Tekad Pemuda untuk Berbahasa Indonesia
images info

Ilustrasi | DJKN


Tepat pada Rabu, 28 Oktober 2026 di pagi hari ada perasaan haru ketika saya membaca majalah peninggalan almarhum abah saya; majalah kecil yang lusuh dan harus dipegang dengan hati-hati karena usianya, yaitu majalah milik Jong Islamieten Bond (JIB) terbitan Juni–Juli tahun 1931.

Majalah tersebut bernama Het Licht – Maandblad Van Den Jong Islamieten Bond yang diterbitkan di Batavia (Jakarta). Kalau tidak salah, tahun 1931 itu Bapak Mohammad Natsir—lengkapnya Datuk Sinaro Panjang—masih berumur 23 tahun (17 Juli 1908 – 6 Februari 1993). Ia adalah seorang ulama, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang menjadi Perdana Menteri ke-5 Indonesia dan salah satu tokoh di majalah Jong Islamieten Bond.

Saya terharu membaca majalah JIB yang warnanya sudah buram kecokelatan karena ada artikel yang ditulis seorang pemuda bernama Arie tentang perlunya kesadaran kebangsaan dan menggunakan bahasa Indonesia, di mana pada tahun 1928 menjadi salah satu poin penting dalam Sumpah Pemuda yang diikrarkan oleh pemuda-pemudi Indonesia. Arie menuliskan perasaan kebangsaannya di majalah JIB itu (saya tulis dalam ejaan aslinya tahun 1931 dan saya kutip beberapa penggalannya saja):

"Barang siapa memperhatikan keadaan dikanan kirinja pada zaman achir ini, jang kami maksoedkan ialah keadaan berhoeboeng dengan pergerakan bangsa kita, tentoe melihat, bahwa keninsjafan kebangsaan makin bertambah, darah moeda makin tjepat mengalir, semangat baroe bangoen……………..Didalam keinsjafan kebangsaan, didalam oesaha-oesaha oentoek memperbaiki berdjenis-djenis hal, kita dapat joega, makin lama makin bertambah, tjinta pada bahasa sendiri ialah bahasa Indonesia. Dalam rapat-rapat persidangan-persidangan, baik antara saudara-saudara jang toea, maoepoen jang moeda, dimana dahoeloe sering kali bahasa Belanda jang dipakainja, terdengarlah sekarang bahasa Indonesia…………Pada zaman ini banjak dibitjarakan, bahasa manakah jang menjadi bahasa persatoean, bahasa Belanda atau bahasa Indonesia? Akan tetapi djika kita ditanjai, bahasa apakah jang menjadi petalian itoe dengan segera kita haroes mendjawab, dengan kejakinan hati jang ta'dapat dipatahkan oleh apa dan siapoen: Bahasa Indonesia jang menjadi pertalian...
Boekankah: Tjinta pada bahasanja, artinja Tjinta pada bangsanja"
"Sekianlah!"

Saya terharu dan bangga dengan tekad Arie karena pada tahun 1931 bangsa kita masih dalam cengkeraman penjajah Belanda, tapi ia berani dan gagah mengungkapkan kesadaran kebangsaan dan kecintaannya terhadap bahasa Indonesia. Pemuda ini tidak takut ditangkap dan dipenjara oleh Belanda karena ungkapan kebangsaannya.

Tepat di tanggal 28 Oktober 1982 ketika saya berumur 29 tahun, saya bersama 34 pemuda-pemudi utusan delegasi Indonesia pada Program Pertukaran Pemuda ASEAN-Japan (Southeast Asian Youth Exchange Program) di siang hari di geladak kapal Jepang Nippon Maru—di tengah gelombang Samudra Pasifik menuju Tokyo, Jepang—mengadakan upacara Hari Sumpah Pemuda. Upacara yang khidmat dan mengharukan itu dipimpin National Youth Leader atau Pimpinan Delegasi Indonesia, Bapak Soehardo dari Yogyakarta (almarhum). Selain beliau, delegasi Indonesia juga dipimpin Deddy Mulyana, pemuda dari Bandung (sekarang Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran) dan Daisy Laureen Lapian, pemudi dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma—putri seorang kolonel AU (sekarang menjadi istri Prof. Deddy Mulyana).

Seperti biasanya, para pemuda-pemudi yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia ini menangis terharu ketika melantunkan lagu kebangsaan Indonesia dan mengucapkan kalimat-kalimat Sumpah Pemuda yang salah satunya mengakui bahasa Indonesia yang pernah digaungkan oleh Arie di atas. Acara itu disaksikan pemuda-pemudi dari negara-negara anggota ASEAN dan Jepang, dan mereka sangat kagum dengan pelaksanaan upacara yang sakral itu.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AC
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.