menengok papua museum di jerman etalase budaya papua yang didirikan dr werner weiglein - News | Good News From Indonesia 2026

Menengok Papua Museum di Jerman: Etalase Budaya Papua yang Didirikan Dr. Werner Weiglein

Menengok Papua Museum di Jerman: Etalase Budaya Papua yang Didirikan Dr. Werner Weiglein
images info

Papua Museum di Jerman | Papua Museum


Ikuti GNFI di WhatsApp

Nun jauh di Jerman, berdiri sebuah museum yang berisikan budaya khas tanah Papua. Adalah Papua Museum, sebuah galeri yang menampilkan segala hal tentang Papua di kota Gelnhausen, Jerman.

Museum ini bukan cuma menyimpan ribuan artefak otentik dari Papua, tapi juga menjadi pusat promosi budaya Indonesia di Eropa. Tempat ini berada di dalam kompleks bangunan bersejarah yang berdampingan dengan Fรผrstliches Palais Meerholz yang berusia sekitar 300 tahun.

Selain itu, museum ini juga menjadi jembatan diplomasi budaya yang memperkenalkan sisi eksotis dan kekayaan tradisi Papua kepada masyarakat Eropa.

Yang menarik, Papua Museum ini bukan didirikan oleh diaspora Indonesia atau pemerintah Indonesia. Museum ini didirikan oleh pria asal Jerman yang pernah mendedikasikan hidupnya untuk menjelajahi pedalaman Papua. Bagaimana kisahnya?

Dr. Werner Weiglein, Orang Jerman yang Jatuh Cinta pada Papua

Dr. Werner Weiglein di tengah koleksinya di Papua Museum | Papua Museum
info gambar

Dr. Werner Weiglein di tengah koleksinya di Papua Museum | Papua Museum


Melansir dari buku antologi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jerman yang bertajuk Indonesian Cultural Heritage in Germany: A Reflection of More than 70 Years of Diplomatic Relations, sosok di balik berdirinya museum ini adalah Dr. Werner Weiglein, seorang dokter spesialis urologi, kesehatan olahraga, dan kedokteran tropis asal Jerman. Sejak muda, dokter kelahiran 1951 ini memang memiliki kecintaan yang sangat mendalam terhadap dunia petualangan.

Ketertarikannya dengan Pulau Papua dimulai tahun 1979 setelah membaca karya-karya penjelajah dunia seperti Prof. Heinrich Harrer. Bahkan, ia diangkat menjadi anak adat oleh Egidius Soter, kepala klan Asmat Beriten, dan diberi nama Emenji.

Sepanjang hidupnya, Dr. Weiglein sudah memimpin lebih dari 200 ekspedisi penjelajahan di Papua. Ia bahkan menghabiskan hingga 7 tahun tidur di dalam tenda.

Tak hanya itu, sang dokter juga menjadi pelopor pariwisata ramah lingkungan dengan membangun Baliem Valley Resort pada tahun 1997 atas izin Presiden Soeharto.

Kecintaannya pada kebudayaan Nusantara mendorongnya untuk mengumpulkan beragam artefak berharga agar tetap terlindungi dan terjaga dari kerusakan seiring perubahan zaman.

baca juga

Lahirnya Papua Museum di Jerman

Mengutip dari situs resmi Papua Museum, berdirinya museum ini bermula saat keluarga Weiglein membeli kompleks bangunan Palais Meerholz pada tahun 1989 yang saat itu terancam rusak. Setelah melalui proses restorasi bertahun-tahun, kawasan bersejarah tersebut disulap menjadi kawasan pusat pertemuan budaya.

Pemerintah Provinsi Papua kemudian meresmikan Papua Promotion House Europe di kompleks properti milik Weiglein ini pada tahun 2009. Langkah ini makin memperkuat hubungan kebudayaan antara Pemerintah Indonesia dan Jerman.

Pada 11 Oktober 2015, Papua Museum akhirnya diresmikan. Peresmiannya dilakukan langsung oleh Anies Baswedan yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Saat ini, museum tersebut masuk dalam daftar 100 tempat yang wajib dikunjungi di negara bagian Hessen serta destinasi unggulan di kawasan Frankfurt. Museum ini hanya dibuka untuk rombongan grup wisatawan, di mana mereka harus mendaftar terlebih dahulu dan nantinya akan mendapatkan tur panduan selama satu jam.

Ada Apa di Dalam Papua Museum?

Papua Museum menyimpan lebih dari 1.700 objek koleksi privat yang mencakup berbagai wilayah kebudayaan di tanah Papua. Semua benda peninggalan budaya ini dikumpulkan langsung oleh Dr. Weiglein dari ratusan ekspedisinya sejak tahun 1979.

Di dalam ruang pameran utama, pengunjung dapat menyaksikan ukiran kayu raksasa seperti patung mbis atau mbis pole khas suku Asmat. Terpajang pula perahu arwah (seelenboot) bernilai ritual tinggi serta deretan senjata tradisional dan mata uang dari kerang hingga bulu burung.

Selain itu, pameran ini menampilkan peninggalan tradisi ozeanika seperti tengkorak leluhur hias (Dambirkush) dan pisau belati dari tulang burung kasuari. Salah satu koleksi langka yang ada di sana adalah tengkorak buaya muara sepanjang 80 sentimeter dari Sungai Mamberamo.

Kompleks museum ini juga dilengkapi dengan Rumah Budaya Indonesia dan Kaffeehaus Indonesia yang dikelola oleh Claudia Weiglein. Di area ini, pengunjung bisa menikmati sajian khas sembari mengagumi berbagai ukiran kayu mahakarya dari banyak daerah di Indonesia.

baca juga

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.