Organisasi kepemudaan internasional AIESEC in UNS terus memperkuat komitmen terhadap aksi nyata pencapaian keberlanjutan global melalui penyelenggaraan program pertukaran pemuda internasional bernama Global Volunteer.
Dalam pelaksanaan program kali ini, AIESEC in UNS berkolaborasi secara strategis dengan AIESEC in FHCMC selaku host entity di Vietnam. Kegiatan sosial lintas negara ini berlangsung selama enam minggu, mulai dari 30 Desember 2025 hingga 10 Februari 2026, di Kota Da Lat, Provinsi Lam Dong, Vietnam.
Program pertukaran ini mengusung proyek spesifik bertajuk On the Map. Proyek inisiatif berbasis komunitas ini berfokus utama pada ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs), poin ke-8 dari PBB, khususnya target 8.9 tentang Decent Work and Economic Growth melalui pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Fatimah Chania, mahasiswi S-1 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret, menjadi salah satu relawan internasional yang berkontribusi langsung dalam program pertukaran ini.
Proyek On the Map bertujuan mendorong dan menaikkan angka turis lokal maupun internasional di lokasi mitra kerja. Guna memberikan gambaran konteks, para relawan ditugaskan di dua lokasi mitra utama di Da Lat, yaitu Vietponics yang berfokus pada budidaya pertanian organik dan hidroponik kepemilikan Nguyen Duc Huy, serta Dalafarm yang berkonsep agrotourism cafe interaktif.

Kegiatan Chania ketika Berkunjung ke Kebun (Sumber: Dokumentasi Pribadi Chania)
Setiap harinya, Chania bersama rekan relawan dari Australia membagi waktu antara kegiatan operasional di kebun dan pembuatan materi promosi digital.
Pada minggu pertama, Chania terjun langsung ke lapangan bersama para pekerja lokal untuk mempelajari alur kerja pertanian harian, mulai dari pembuatan pupuk organik, penyemaian benih, penanaman bibit, hingga perawatan tanaman hidroponik.
Keterlibatan fisik secara langsung ini memberikan pemahaman mendalam bagi Chania mengenai proses produksi dan perjuangan harian para petani lokal.
Sebagai mahasiswi komunikasi, Chania memanfaatkan ilmu perkuliahannya untuk membantu merancang strategi komunikasi pemasaran bagi Vietponics dan Dalafarm.
Memasuki minggu kedua hingga keempat, Chania memproduksi konten edukatif serta promosi untuk diunggah di platform TikTok dan Facebook resmi mitra.
Chania membagi segmentasi konten secara spesifik ke dalam dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan Vietnam, yang disesuaikan untuk tiga target audiens utama: mahasiswa agrikultur untuk kebutuhan penelitian, calon investor lokal maupun internasional, serta pelanggan umum.
Strategi pemasaran digital yang dirancang Chania terbukti memberikan dampak signifikan bagi mitra lokal. Rangkaian konten promosi yang diunggah berhasil meraih lebih dari 25.000 engagement di media sosial TikTok serta Facebook, meningkatkan jumlah pengikut secara signifikan, dan mendorong Vietponics untuk membuka lowongan penerimaan relawan internasional periode berikutnya.
Memasuki minggu kelima, Chania bahkan diberikan kepercayaan untuk menyampaikan pemaparan seminar di hadapan para calon investor dan host family guna menjelaskan potensi ekspos media sosial terhadap pertumbuhan bisnis agrowisata.
Selama menjalankan tugas harian dari pukul 07.00 hingga 17.00 waktu setempat, Chania menghadapi tantangan keterbatasan bahasa saat berinteraksi dengan pekerja lokal. Tantangan ini tidak menjadi penghalang bagi Chania untuk membangun komunikasi yang efektif.
Chania mengatasi hambatan tersebut dengan menggunakan sapaan bahasa Vietnam dasar, aplikasi penerjemah, serta bantuan pegawai lokal dan host family.
Pengalaman ini melatih kepekaan Chania dalam memahami kearifan lokal tanpa harus melakukan westernisasi dalam konten promosi.

Momen Chania bersama Exchange Participants (EP) Lainnya (Sumber: Dokumentasi Pribadi Chania)
Mengenai pengalamannya selama menjalankan program Global Volunteer, Chania mengungkapkan. “Bagi saya, pengalaman 6 minggu di Da Lat memberikan ruang pembelajaran yang sangat berarti. Saya belajar bahwa kontribusi nyata dapat dimulai dari hal sederhana, seperti mendengarkan cerita petani lokal dan membantu mengemas keunikan tempat mereka ke media digital. Kegiatan ini membuat saya menjadi pribadi yang jauh lebih berani mengambil inisiatif, lebih percaya diri dalam berkomunikasi, serta makin adaptif terhadap berbagai tantangan di lingkungan baru,” ujar Chania.
Selama program berlangsung, Chania membangun kebersamaan erat dengan sesama relawan antarbangsa dan masyarakat setempat. Interaksi harian ini secara efektif melatih kemampuan kepemimpinan, kerja sama tim, dan pemecahan masalah.
Kebersamaan ini turut meluaskan jaringan koneksi International networking sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa asing Chania secara signifikan.
Sinergi dan kolaborasi erat antara AIESEC in UNS dan AIESEC in FHCMC membuktikan peran aktif pemuda dalam membawa dampak positif bagi pembangunan ekonomi masyarakat global.
Pencapaian proyek On the Map ini diharapkan dapat terus memotivasi seluruh mahasiswa Universitas Sebelas Maret untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman, memperluas wawasan internasional, serta memberikan kontribusi nyata yang berkelanjutan.
Penulis: Fatimah Chania


