perempuan yang rentan saat krisis iklim mereka juga jadi garda terdepan untuk melawan - News | Good News From Indonesia 2026

Perempuan yang Rentan Saat Krisis Iklim, Mereka Juga Jadi Garda Terdepan untuk Melawan

Perempuan yang Rentan Saat Krisis Iklim, Mereka Juga Jadi Garda Terdepan untuk Melawan
images info

Aktivis perempuan Greenpeace memanjat Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Jakarta, 20 Oktober 2026.


 

 

Nita Nuryani sedang berada di tengah hutan dengan asap mengepul ketika ia menyempatkan diri melakukan panggilan video dengan anaknya yang berusia empat tahun.

Perempuan 30 tahun itu bukan sedang menjalankan pekerjaan administrasi seperti yang pernah dilakukannya di Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah.

Selama sekitar setahun terakhir, Nita menjadi relawan pemadam kebakaran yang ikut menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya.

Di dalam regunya yang berisi tujuh orang, Nita merupakan satu-satunya perempuan sekaligus seorang ibu. Saat bertugas, ia harus berhadapan dengan asap pekat, debu, panas, serta selang bertekanan air yang cukup berat.

baca juga

“Mata pedih itu pasti, karena kita kena asap, kena debu, dan kena suhu panasnya dari api. Dan badan rasanya pegal dan berat,” kata Nita, sebagaimana dikutip dari Diajeng.

Rutinitas itu bisa berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 16.00. Ketika ada kebakaran di luar jam kerja, Nita dan timnya, mau tak mau tetap harus bergerak.

Perempuan Memang Lebih Rentan, tetapi Bukan Berarti Pasif

Nita hanya satu dari perempuan yang berjibaku memadamkan api di hutan. Di berbagai wilayan, para perempuan lainnya juga tengah berjuang. Sebab, mereka menjadi bagian dari kelompok yang dirugikan saat terjadinya krisis iklim.

UN Women menyebut perubahan iklim dan bencana tidak bersifat netral gender. Dampaknya dapat berbeda bagi perempuan dan laki-laki karena adanya kesenjangan sosial, ekonomi, akses informasi, mobilitas, hingga sumber daya.

baca juga

Perempuan dan anak-anak yang disebut dapat memiliki kemungkinan hingga 14 kali lebih tinggi meninggal dalam bencana dibandingkan laki-laki. Angka tersebut berasal dari studi Neumayer dan Plümper yang kemudian dikutip dalam materi UN Women.

Kerentanan tersebut bukan semata-mata karena tubuh perempuan lebih lemah. UN Women menjelaskan bahwa ketimpangan gender turut menentukan siapa yang mendapatkan informasi peringatan dini, siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya, siapa yang bebas bergerak, serta siapa yang mengambil keputusan ketika terjadi bencana.

Contohnya sederhana. Perempuan yang sehari-hari bertanggung jawab merawat anak atau anggota keluarga lanjut usia bisa saja memiliki ruang gerak yang lebih terbatas ketika harus segera menyelamatkan diri.

Meski demikian, perempuan tidak terus dilihat hanya sebagai korban pasif. Pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan perempuan juga berperan dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi bencana.

baca juga

Karhutla di Indonesia memperlihatkan contoh itu.

The Power of Mama, Kekuatan Para Perempuan Jaga Lahan dan Hutan

Di Ketapang, Kalimantan Barat, sekelompok perempuan bahkan membentuk pasukan pemadam kebakaran sendiri. Namanya The Power of Mama.

Kelompok yang dibentuk pada 2022 oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) itu kini beranggotakan lebih dari 140 perempuan dari 10 desa. Mereka berpatroli menggunakan sepeda motor, memantau titik api, memadamkan kebakaran kecil, hingga mengedukasi warga mengenai risiko pembakaran lahan.

Sebagian besar anggotanya adalah ibu rumah tangga.

baca juga

Irma, misalnya. Alasannya bergabung bukan karena ingin menjadi pemadam kebakaran sejak kecil. Akan tetapi, ia didorong oleh pengalamannya sendiri yang merasakan dampak asap karhutla sebagai seorang ibu.

“Because we are housewives, we are the ones that feel its effects most,” kata Irma, dikutip dari The Guardian.

Tak hanya itu, relawan The Power of Mama juga dilatih menggunakan teknologi pemantauan, termasuk aplikasi patroli dan pemantauan titik api. Mereka juga melakukan edukasi kepada masyarakat.

Trio Perempuan di Kotawaringin Barat

Di Kabupaten Kotawaringin Barat, Linda, Aliza, dan Rini juga ikut dalam penanganan karhutla di sejumlah titik.

baca juga

Linda dan Aliza merupakan relawan BPBD Kotawaringin Barat. Sementara Rini bertugas bersama jajaran pemadam kebakaran.

Ketiganya berada di lapangan ketika petugas menangani kebakaran di Kilometer 11 Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama dan wilayah Tatas pada 17 Oktober 2026.

Linda menyebut keterlibatannya sebagai bentuk kepedulian kepada lingkungan dan masyarakat.

“Bagi kami, membantu memadamkan karhutla adalah bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat,” kata Linda.

baca juga

Aliza pun mengungkapkan serupa. Katanya, keterlibatan perempuan bukan semata-mata soal kemampuan fisik, tapi juga tentang kepedulian.

“Menjadi relawan bukan soal laki-laki atau perempuan, tetapi soal kepedulian dan kemauan untuk membantu,” ujarnya.

Upaya Lain: Tanam Pohon hingga Kampanye dengan Cara Panjat Bundaran HI

Nah, upaya melawan krisis iklim juga terjadi di Siak. Ceritanya berbeda.

Di Siak, Riau, Bupati Siak Afni Zulkifli ikut menanam pohon di lahan bekas karhutla seluas sekitar 4,5 hektare di kawasan pelabuhan Tanjung Buton pada 9 Oktober 2026.

baca juga

Pemerintah Kabupaten Siak menanam sejumlah jenis pohon, termasuk pulai dan petai. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari penghijauan sekaligus untuk mencegah lahan bekas terbakar beralih fungsi.

“Biasanya setelah Karhutla, lahan yang sudah terbakar berubah menjadi kebun sawit,” katanya.

Selain di Kalimantan, upaya perempuan untuk menyuarakan krisis iklim juga terjadi di ibu kota negara. Pada 20 Oktober, Greenpeace Indonesia menggelar aksi di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Enam aktivis memanjat monumen dan membentangkan spanduk terkait krisis iklim. Dua di antaranya merupakan perempuan. Mereka bertahan di atas monumen sebelum akhirnya turun menggunakan tali penyelamat.

baca juga

Salah satu spanduk berbunyi, “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.”

Greenpeace juga membawa pesan mengenai karhutla gambut dan mendesak pemerintah menangani dampak krisis iklim yang semakin terasa pada kehidupan masyarakat.

Perempuan Berdaya, Perempuan Melawan

Pada akhirnya, pembicaraan tentang perempuan dan krisis iklim tidak cukup berhenti pada pernyataan bahwa perempuan merupakan kelompok rentan.

Kerentanan itu memang nyata. Data dan penelitian menunjukkan adanya ketimpangan dampak bencana berdasarkan gender. Akan tetapi, perempuan juga memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kapasitas untuk merespons krisis tersebut.

baca juga

Mereka menunjukkan bahwa kerentanan dan keberanian bisa berada pada orang yang sama.

 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.