Rp425 ribu untuk sekali perjalanan menjadi pemasukan yang cukup menarik bagi Suryadi, sopir angkot T19 trayek Depok. Apalagi, belakangan ia mengaku sedang kesulitan mendapatkan penumpang reguler.
Suryadi mendapat tawaran untuk mengantarkan rombongan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang hendak berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Rabu (28/10/2026).
Ia pun menerimanya. Angkot yang biasanya digunakan untuk mengangkut penumpang sepanjang trayek, kini menjadi kendaraan carteran.
Suryadi menunggu sampai mahasiswa selesai berunjuk rasa. Selama itu, ia tidak melintasi jalanan yang biasa ia lalui untuk menarik penumpang reguler.
โEmang lagi susah. Kesempatan kalau ada rombongan dari UI gitu kita senang,โ ujar Suryadi, sebagaimana ditulis Tirto, Jumat (30/10/2026).
Memang, mengantar mahasiswa demonstrasi bukanlah pekerjaan yang minim risiko sebagaimana ketika para sopir angkot ini โnarikโ. Kekhawatiran ini diungkapkan oleh Masudi, salah satu sopir angkot saat dihadang polisi tak jauh dari Halte Transjakarta MH Thamrin, Jakarta.
Akan tetapi, bagi Suryadi dan rekan-rekannya, pesanan itu merupakan salah satu kesempatan mendapatkan pemasukan di tengah sulitnya mencari penumpang.
Strategi Sopir Angkot Hadapi Sepi, Mencari Penumpang Saja Tak Lagi Cukup
Kawan, sebenarnya menyewakan angkot untuk kebutuhan tertentu bukan hal baru bagi para sopir. Sejumlah sopir sudah lama menerima pesanan perjalanan rombongan, mulai dari wisata sekolah hingga acara keluarga.
Cara ini membuat angkot tidak hanya bergantung pada penumpang reguler untuk tetap menghasilkan uang.
Sebab, pemasukan harian mereka sangat bergantung pada jumlah penumpang. Para sopir angkot ini kerap mengantongi ketidakpastian saat hendak pulang ke rumah. Padahal, biaya yang butuhkan untuk operasional tidak murah.
Penelitian Fatmaningsih dan Ramadhan yang diterbitkan dalam Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi mendapati bahwa di Purwokerto, angkot beroperasi sekitar 12 jam sehari, mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Dalam sehari, sopir bisa menempuh 10 ritase (perjalanan pulang-pergi) dengan menghabiskan sekitar 20 liter bensin.
Masalahnya, jumlah penumpang tidak selalu ramai dan sekali ritase, angkot tidak selalu penuh. Ada hari ketika sopir juga harus lebih lama menunggu di pangkalan.
Kondisi tersebut membuat biaya pemasukan dan pengeluaran timpang sehingga sebagian sopir mencari pekerjaan tambahan. Salah satunya dengan menerima carter atau menyewakan angkot untuk perjalanan tertentu.
Dengan sistem ini, sopir tidak perlu mengandalkan jumlah penumpang yang naik sepanjang perjalanan. Mereka sudah memiliki pesanan dan tujuan yang jelas.
Pengalaman sopir angkot di Purwokerto memperlihatkan strategi serupa. Carter menjadi salah satu cara sopir menghadapi persaingan transportasi umum, termasuk kehadiran Trans Banyumas.
Pesanan carter datang dari berbagai kebutuhan, mulai dari perjalanan kelompok, acara khusus, hingga wisata. Sebagian sopir bahkan memberikan potongan harga agar calon penyewa tertarik menggunakan jasa mereka.
Penelitian mengenai sopir angkot di Semarang oleh Arif Luqman Ma'ruf (2024) juga menemukan praktik serupa. Sopir mengambil pekerjaan tambahan dengan menyewakan kendaraan untuk acara keluarga, seperti resepsi pernikahan, maupun perjalanan wisata.
Sasarannya antara lain rombongan anak sekolah dasar dan taman kanak-kanak.
Artinya, strategi mencari penghasilan tambahan melalui carteran bukan hanya dilakukan sopir T19 di Depok. Praktik tersebut juga ditemukan di kota lain dengan kebutuhan penyewa yang beragam.
Dari Antar Rombongan Wisata Hingga Mahasiswa Unjuk Rasa
Pesanan mengantar mahasiswa UI pada 28 Oktober 2026 menjadi salah satu bentuk pekerjaan carter yang diambil sopir T19.
Atur Santoso (56), misalnya, mengaku menerima bayaran Rp450 ribu untuk mengantarkan mahasiswa menuju Bundaran HI. Nominal awal yang disepakati sebenarnya Rp500 ribu. Namun, sebagian uang dipotong untuk koordinator.
โDibayar Rp450.000. Sebenarnya Rp500.000 tapi itu kotornya kan dipotong buat yang koordinir,โ ujar Atur, sebagaimana dikutip dari tulisan Kompas.com, Kamis (29/10/2026).
Atur sempat menunggu hingga pukul 09.00 WIB sebelum akhirnya memutuskan mengambil pekerjaan itu. Ia kemudian mengantar mahasiswa dari Lapangan FISIP UI menuju Jakarta.
Konsekuensinya, ia tidak bisa menarik penumpang reguler sepanjang hari. Bahkan, ia baru menyelesaikan pekerjaan setelah aksi demonstrasi berakhir menjelang tengah malam.
Bagi Atur, keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Ia sempat merasa takut karena harus mengantar rombongan menuju lokasi demonstrasi yang dijaga aparat. Namun, kondisi penumpang yang sedang sepi membuatnya tetap mengambil tawaran tersebut.
โYa takut, tapi terpaksa. Tarikan lagi sepi. Keluarga gimana? Masa enggak pulang bawa duit terus,โ ucapnya.
BEM UI sendiri mengakui sudah memiliki langganan penyedia angkot untuk kebutuhan mobilisasi massa. Wakil Kepala Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI 2026, Lionel Sihaloho, menyebut pemesanan kendaraan kali ini berjalan lancar.
โAman kok karena sudah langganan,โ kata Lionel, dikutip dari Tirto, Kamis (29/10/2026).
Menurut Lionel, pengalaman pada aksi sebelumnya membuat mahasiswa perlu menyiapkan beberapa pilihan transportasi. Selain angkot, mereka menggunakan Kopaja, TransJakarta, dan MRT untuk mencapai Bundaran HI.
Dengan demikian, angkot menjadi salah satu moda yang membantu mobilisasi mahasiswa dari Depok menuju Jakarta.
ย


