Berkunjung ke suatu daerah rasanya tidak lengkap jika belum mencicipi kuliner khasnya. Begitupun ketika Kawan singgah di Kabupaten Kampar, Riau, ada sate kuok yang menarik dicoba karena memiliki keunikan tersendiri dari segi penyajian hingga tradisi yang menyertainya.
Sejak dahulu, sate kuok sudah menjadi bagian dari kearifan lokal dan identitas budaya masyarkat Kabupaten Kampar. Kuliner ini dihormati sebagai kekayaan budaya yang perlu dijaga dan bisa dinikmati setiap hari tanpa harus menunggu acara tertentu.
Makna dibalik hidangan ini tentu lebih besar dari sekadar hidangan, yakni sudah menjadi representasi kuliner khas Kampar yang melambangkan hubungan dan interaksi yang baik antara sanak saudara dengan warga desa. Hal itu mencakup nilai kebersamaan, persatuan, saling menghargai dan menghormati.
Saat para warga setempat sedang menikmati hidangan ini bersama, mereka merasa jadi lebih dekat dan dapat memperkuat ikatan kekeluargaan di desa tersebut. Terutama ketika dihidangkan pada acara adat atau pertemuan keluarga.
"Sate kuok adalah bagian dari kehidupan kami. Kami menjadikannya hidangan yang tak pernah absen dalam setiap acara adat,” ujar seorang tokoh budaya, seperti dikutip dari jurnal ilmiah bertajuk Kuliner sebagai Warisan Budaya : Eksplorasi Sate Kuok dan Makan Bedulang di Desa Pulau Belimbing (2024).
Penggunaan Kode Unik Saat Beli Sate Kuok
Ada hal unik yang bisa Kawan temukan saat memesan sate kuok, yaitu penggunaan kode khusus untuk menyampaikan pesanan kepada penjual.
Setiap kode berasal dari persetujuan bersama dan memiliki arti yang dapat dipahami bersama pula. Kode tersebut digunakan sebagai cara untuk memudahkan transaksi saat memesan sate kuok.
Biasanya, kode digunakan untuk menentukan jumlah ketupat, tusuk sate, hingga porsi daging yang diinginkan. Bahkan, terdapat kode tersendiri untuk membedakan pesanan yang disantap di tempat dan dibawa pulang.
Misalnya, ketika pembeli menyebutkan kode “4 8 3”, artinya ia memesan empat buah ketupat, delapan tusuk sate, dan tiga porsi piring. Penjual pasti akan paham pada kode tersebut dan menyiapkan pesanan sesuai permintaan pembeli.
Kebiasaan menggunakan kode saat memesan sate kuok telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat. Penggunaan kode ini juga mencerminkan kedekatan antara penjual dan pembeli yang sama-sama memahami makna di balik setiap angka.
Melalui kebiasaan tersebut, interaksi saat bertransaksi memiliki ciri khas tersendiri yang tumbuh dari kesepakatan dan kebiasaan masyarakat lokal.
Keunikan rasa sate kuok tentu tidak lepas dari proses pembuatannya yang sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Kampar. Bahan-bahan yang digunakan juga mudah ditemukan, sehingga warisan kuliner ini bisa terus dijaga dari generasi ke generasi.
Resep Sate Kuok
Sate ini menggunakan daging ayam yang dibumbui dengan bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, dan daun jeruk. Sementara itu, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kuahnya adalah bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, cabai rawit, bumbu rendang, tepung beras, santan kental, kaldu bubuk, garam, daun jeruk, daun salam, dan air.
Proses pembuatannya dimulai dengan menghaluskan bumbu untuk marinasi ayam. Tumis bumbu dengan sedikit minyak hingga harum, lalu tambahkan daun jeruk dan daging ayam. Setelah ayam terbalur bumbu, masukkan sedikit air dan masak hingga air menyusut agar bumbu meresap. Setelah dingin, tusuk daging ayam menggunakan tusuk sate, kemudian bakar di atas arang hingga matang.
Untuk membuat kuahnya, haluskan bumbu lalu tumis hingga harum. Masukkan bumbu ke dalam panci berisi air, kemudian tambahkan daun salam, daun jeruk, bumbu rempah, dan tepung beras. Aduk hingga tercampur rata dan tunggu sampai mendidih.
Setelah itu, tuangkan santan kental dan kecilkan api. Tambahkan garam serta kaldu bubuk, lalu masak hingga kuah siap disajikan. Sate kuok biasanya dihidangkan bersama kuah dan ketupat. Sebagai pelengkap, bisa juga disajikan dengan bawang goreng, cabai giling mentah, serta kerupuk opak atau kerupuk ubi.
Kawan yang ingin mencicipinya dapat menemukan sate kuok di restoran lokal dan pasar tradisional di Kampar. Atau mungkin tertarik untuk coba memasak sendiri di rumah?


