Bagi sebagian orang dewasa, membeli mainan bukan lagi sekadar aktivitas untuk anak-anak. Setelah melewati hari-hari yang padat, mereka memilih menghibur diri dengan membeli komik, mengoleksi action figure, bermain gim, atau mengunjungi wahana permainan.
Kebiasaan tersebut dikenal sebagai kidult economy, yakni fenomena ekonomi yang muncul dari konsumsi orang dewasa terhadap produk dan pengalaman yang lekat dengan masa kanak-kanak.
Di Indonesia, fenomena ini terlihat dari kebiasaan sebagian konsumen yang menyisihkan uang untuk hobi dan nostalgia. Berdasarkan sejumlah survei yang dikutip Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof. Dr. Gancar C. Premananto, konsumen kidult mayoritas mengeluarkan sekitar Rp500.000 hingga Rp1.000.000 per bulan.
Pengeluaran itu dapat digunakan untuk membeli mainan koleksi, komik, action figure, maupun menikmati pengalaman bermain di berbagai wahana.
ย
Pasar Mainan Membidik Orang Dewasa
Prof. Gancar mengatakan, kidult economy tidak muncul secara kebetulan. Fenomena ini juga berkaitan dengan strategi produsen internasional dalam mencari konsumen baru yang memiliki daya beli lebih besar.
Menurut dia, perubahan demografi di negara-negara maju membuat jumlah anak-anak menurun. Kondisi tersebut berdampak pada menyusutnya pasar utama produsen mainan. Karena itu, perusahaan mulai menyasar orang dewasa sebagai konsumen potensial.
โKondisi demografis piramida terbalik di negara-negara maju memicu penurunan jumlah konsumen anak, yang berdampak pada hilangnya pasar utama bagi produsen mainan internasional,โ ungkap Prof. Gancar.
Orang dewasa dinilai memiliki kemampuan finansial yang lebih baik dibandingkan anak-anak. Mereka juga mempunyai kebebasan untuk menentukan barang atau pengalaman yang ingin dibeli menggunakan pendapatan sendiri.
Tak heran jika produk mainan kini tidak hanya dipasarkan sebagai barang untuk anak-anak. Sejumlah produk dibuat dengan desain, tingkat detail, dan harga yang menyasar kolektor dewasa.
ย
Menjadi Cara untuk Menghibur Diri
Kidult economy juga berkaitan dengan lipstick effect. Istilah ini menggambarkan kecenderungan konsumen tetap membeli barang kecil yang bersifat premium atau mewah ketika menghadapi kondisi ekonomi yang sulit.
Dalam fenomena kidult, produk yang dibeli biasanya berupa mainan, barang koleksi, atau pengalaman bermain. Nilai barang tersebut bukan hanya terletak pada fungsi, tetapi juga pada rasa senang dan kepuasan emosional yang menyertainya.
Prof. Gancar menilai, banyak orang dewasa saat ini lebih memilih kebahagiaan jangka pendek. Setelah menghadapi pekerjaan, kemacetan, dan berbagai tuntutan sehari-hari, membeli sesuatu yang disukai dianggap sebagai bentuk self-reward.
โPara konsumen kerap berdalih memberikan self-reward agar bisa tetap bahagia di tengah gempuran rutinitas harian. Aktivitas sehari-hari yang padat menjadi sumber stres (stressor) yang berpotensi mengganggu kesehatan mental mereka,โ ujar Prof. Gancar.
Dengan kata lain, membeli action figure atau bermain di wahana tidak selalu dipandang sebagai pemborosan. Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut menjadi cara untuk beristirahat sejenak dan mengurangi tekanan setelah menjalani rutinitas.
Namun, manfaat emosional itu tetap perlu diimbangi dengan kemampuan finansial. Rasa senang yang diperoleh dari pembelian seharusnya tidak berujung pada masalah keuangan di kemudian hari.
ย
Jangan Sampai Mengganggu Keuangan
Prof. Gancar mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam mengatur anggaran untuk hobi. Pengeluaran untuk nostalgia sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari anggaran hiburan, bukan menggunakan dana kebutuhan pokok atau dana darurat.
Masyarakat juga perlu berhati-hati agar tidak membiayai hobi dengan pinjaman online. Jika dilakukan tanpa perhitungan, pengeluaran yang awalnya dimaksudkan untuk menjaga suasana hati justru dapat menambah beban pikiran.
Selain itu, pembelian mainan secara berlebihan juga perlu dihindari. Mainan yang hanya dibeli, kemudian ditumpuk sebagai pajangan tanpa tujuan jelas, dapat menjadi bentuk konsumsi yang mubazir.
โMenjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian ekonomi memang penting, namun harus dibarengi dengan penganggaran yang matang. Jangan sampai menjebak diri dalam jeratan pinjol dan perilaku mubazir,โ pungkasnya.
ย

