tim 20 tep ui gali potensi kayu lawang werabur sebagai sumber minyak atsiri papua barat - News | Good News From Indonesia 2026

Tim 20 TEP UI Gali Potensi Kayu Lawang Werabur sebagai Sumber Minyak Atsiri Papua Barat

Tim 20 TEP UI Gali Potensi Kayu Lawang Werabur sebagai Sumber Minyak Atsiri Papua Barat
images info

Kulit Kayu Lawang Yang akan di jadikan minyak Atsiri oleh Muhammad Reza


Wilayah Werianggi–Werabur, Papua Barat tidak hanya dikenal karena kekayaan alam dan keindahan hutannya. Namun, juga menyimpan beragam tumbuhan yang telah dimanfaatkan masyarakat secara turun-temurun. Salah satunya adalah kayu lawang.

Bagi masyarakat setempat, kayu lawang bukan sekadar bagian dari kekayaan hutan, tetapi juga memiliki nilai guna karena dapat diolah menjadi minyak lawang atau minyak atsiri.

Pemanfaatan kayu lawang oleh masyarakat menjadi salah satu potensi lokal yang menarik untuk dikembangkan. Minyak yang dihasilkan dari pengolahan kayu lawang secara tradisional telah digunakan sebagai minyak urut dan dimanfaatkan masyarakat untuk membantu mengatasi keluhan seperti pegal-pegal serta bengkak. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan dan terus dipertahankan oleh masyarakat.

Melihat potensi tersebut, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) melihat kayu lawang sebagai salah satu sumber daya hayati yang menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut melalui pendekatan riset dan bioprospeksi.

baca juga

Kayu lawang merupakan salah satu sumber daya tumbuhan yang ditemukan di wilayah Papua dan telah dikenal masyarakat karena kandungan minyak yang dapat diperoleh melalui proses pengolahan tertentu.

Di Werianggi–Werabur, pemanfaatan kayu lawang menjadi minyak merupakan salah satu bentuk pemanfaatan hasil hutan yang bernilai bagi masyarakat.

Proses pemanfaatannya tidak terlepas dari pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan yang tersedia di lingkungan sekitar. Kayu yang diperoleh kemudian dapat diolah untuk menghasilkan minyak lawang atau minyak atsiri. Produk tersebut beraroma khas dan selama ini digunakan secara tradisional untuk kebutuhan masyarakat.

Minyak kayu lawang merupakan salah satu jenis minyak atsiri, yaitu minyak alami yang berasal dari tumbuhan dan memiliki aroma khas serta mudah menguap.

baca juga

Minyak kayu lawang biasanya diperoleh melalui proses penyulingan. Jadi, minyak atsiri adalah istilah umumnya, sedangkan minyak kayu lawang merupakan salah satu jenis minyak atsiri.

Minyak ini mengandung berbagai senyawa alami yang berpotensi dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, seperti minyak oles, roll-on, balsem, atau produk lainnya.

Minyak kayu lawang merupakan minyak atsiri yang diperoleh melalui proses penyulingan kayu atau kulit kayu lawang dan punya kandungan senyawa alami yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

Penggunaan minyak lawang sebagai minyak urut merupakan salah satu contoh bagaimana masyarakat memanfaatkan sumber daya alam berdasarkan pengalaman yang telah berlangsung secara turun-temurun. Pengetahuan tersebut bernilai penting karena menjadi bagian dari praktik pemanfaatan tumbuhan lokal.

baca juga

Minyak tersebut biasa digunakan sebagai minyak urut ketika tubuh terasa pegal setelah melakukan aktivitas fisik. Selain itu, masyarakat juga memanfaatkannya pada bagian tubuh yang mengalami bengkak atau terasa tidak nyaman.

Pemanfaatan seperti ini menunjukkan adanya hubungan erat antara masyarakat dan sumber daya alam di sekitarnya. Hutan tidak hanya menjadi tempat tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan, bahan baku, dan potensi ekonomi bagi masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Papua memiliki pengetahuan mengenai berbagai tumbuhan yang dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu.

Pengetahuan tersebut umumnya diperoleh melalui pengalaman, adat istiadat, kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya.

baca juga

Begitu pula dengan pemanfaatan kayu lawang. Masyarakat tidak hanya mengenal tumbuhannya, tetapi juga mengetahui cara memanfaatkannya menjadi minyak yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Riset tidak dimaksudkan untuk menghilangkan pengetahuan tradisional masyarakat. Sebaliknya, penelitian dapat menjadi jembatan untuk mendokumentasikan, memahami, dan mengembangkan pengetahuan tersebut sehingga memiliki nilai tambah tanpa menghilangkan konteks budaya dan kearifan lokal yang sudah ada.

Melihat Potensi tersebut membuat minyak lawang menarik untuk diteliti. Kajian ilmiah dapat dilakukan untuk mengetahui karakteristik minyak yang dihasilkan, komponen kimianya, serta potensi pemanfaatannya.

Penelitian juga penting untuk memastikan bahwa pemanfaatan suatu bahan alam dilakukan secara tepat. Dengan adanya hasil penelitian, masyarakat dan calon pelaku usaha dapat memiliki informasi yang lebih baik mengenai kualitas bahan baku dan produk yang dihasilkan.

baca juga

Kehadiran Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia di Papua Barat menjadi salah satu kesempatan untuk melihat lebih dekat potensi sumber daya hayati yang dimiliki masyarakat.

Melalui pendekatan bioprospeksi, TEP UI dapat membantu mengidentifikasi potensi tumbuhan lokal yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Kayu lawang menjadi salah satu komoditas yang menarik karena telah memiliki pemanfaatan secara langsung oleh masyarakat. Dengan demikian, penelitian dapat diarahkan tidak hanya untuk mencari potensi baru, tetapi juga memperkuat pemanfaatan yang sudah berlangsung di tingkat masyarakat.

Tri Wahyuni Ph.D., selaku Ketua Tim 20 TEP UI sekaligus peneliti menuturkan, Kayu lawang memang dikenal sebagai salah satu komoditas minyak atsiri yang bisa dipakai untuk kebutuhan kesehatan dan kecantikan.

baca juga

Tim 20 TEP UI Observasi Pengambilan Kayu Lawang di Hutan Kampung Werabur Papua Barat oleh Muhammad Reza
info gambar

Tim 20 TEP UI Observasi Pengambilan Kayu Lawang di Hutan Kampung Werabur Papua Barat oleh Muhammad Reza


Peluang tersebut memungkinkan pengembangan produk dilakukan berdasarkan data ilmiah, bukan hanya berdasarkan asumsi. Dengan demikian, proses hilirisasi dapat dilakukan secara lebih terarah.

Salah satu bentuk yang paling dekat dengan pemanfaatan masyarakat adalah minyak urut atau minyak oles. Produk tersebut dapat dikembangkan dengan memperhatikan aspek keamanan, formulasi, kebersihan produksi, serta standar yang berlaku.

Selain itu, potensi minyak atsiri juga dapat membuka peluang pengembangan produk lain, misalnya produk aromatik, kosmetik, atau produk perawatan tubuh. Namun, pengembangan tersebut tetap membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan manfaat, keamanan, stabilitas, dan kesesuaian penggunaannya.

baca juga

Pengembangan kayu lawang menjadi minyak atsiri juga berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Selama ini, bahan alam yang tersedia di lingkungan masyarakat terkadang hanya dimanfaatkan dalam skala terbatas.

Melalui pengolahan dan hilirisasi, nilai bahan baku dapat meningkat. Kayu lawang tidak hanya dipandang sebagai hasil hutan, tetapi dapat menjadi bahan baku produk yang memiliki nilai jual.

Kayu lawang Werianggi–Werabur menunjukkan bahwa potensi komoditas lokal tidak selalu harus berasal dari produk yang sudah dikenal secara luas. Tumbuhan yang selama ini dimanfaatkan masyarakat dalam skala lokal pun dapat memiliki peluang untuk dikembangkan apabila didukung oleh penelitian dan inovasi.

Proses Penyulingan Kayu Lawang menjadi Minyak Atsiri di Kampung Werabur Papua Barat oleh muhammad reza
info gambar

Proses Penyulingan Kayu Lawang menjadi Minyak Atsiri di Kampung Werabur Papua Barat oleh muhammad reza


Konsep tersebut sejalan dengan semangat hilirisasi berbasis bioprospeksi, yaitu mengidentifikasi potensi sumber daya hayati, mengkajinya melalui penelitian, kemudian mendorong pemanfaatannya menjadi produk yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

baca juga

Dalam konteks kayu lawang, proses tersebut dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana serta memahami tumbuhan yang selama ini sudah dimanfaatkan masyarakat, mengetahui bagaimana minyak dihasilkan, kemudian mengkaji kandungan dan karakteristiknya melalui penelitian.

Dari hutan Werianggi–Werabur, minyak lawang dapat menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang dari pengetahuan lokal, menuju penelitian, kemudian berkembang menjadi inovasi dan produk bernilai ekonomi yang tetap menjaga kekayaan alam Papua Barat.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.