sudah semestinya gambut itu lahan basah - News | Good News From Indonesia 2026

Sudah Semestinya Gambut Itu Lahan Basah

Sudah Semestinya Gambut Itu Lahan Basah
images info

Lahan Gambut


Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Salah satu ekosistem yang rentan terbakar adalah lahan gambut di Kalimantan. Belakangan, media sosial diramaikan oleh video yang memperlihatkan sulitnya memadamkan api di kawasan tersebut.ย 

Sebuah video di akun TikTok @konglo_clip menunjukkan tanah gambut yang tampak tidak terbakar di permukaan, tetapi menyimpan bara api di bagian dalamnya.

Kondisi tersebut berkaitan dengan karakteristik gambut yang memungkinkan api merambat hingga ke bawah permukaan tanah. Api dapat membakar material organik di dalamnya tanpa selalu menghasilkan nyala besar yang terlihat dari luar.ย 

Akibatnya, kebakaran gambut sulit dideteksi dan dipadamkan. Bara yang masih tersisa juga berpotensi memicu kebakaran kembali ketika kondisi lahan tetap kering.

baca juga

Gambut Terbentuk Selama Ribuan Tahun

Gambut merupakan lapisan tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang tidak terurai sempurna dalam kondisi tergenang atau jenuh air. Proses pembentukannya berlangsung sangat lambat. World Resources Institute (WRI) menjelaskan bahwa gambut di Kalimantan Tengah membutuhkan sekitar 140 tahun untuk mencapai ketebalan 0,5โ€“1 meter.

Sementara itu, gambut dengan kedalaman 8โ€“10 meter dapat membutuhkan waktu sekitar 13.000โ€“25.000 tahun untuk terbentuk. Lamanya proses tersebut membuat gambut menjadi ekosistem yang perlu dilindungi dari kerusakan, termasuk akibat pengeringan lahan.

Ketika air di dalam gambut berkurang, material organik yang tersimpan menjadi lebih mudah terbakar. Pengeringan juga membuat oksigen lebih mudah masuk ke dalam lapisan gambut dan bereaksi dengan bahan organik, sehingga karbon dilepaskan ke atmosfer. Proses ini dapat berlangsung meskipun tidak ada kebakaran.

Sebaliknya, gambut yang basah mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar. Mempertahankan kondisi tersebut membantu mengurangi pelepasan karbon yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

baca juga

Mengapa Api Gambut Sulit Dipadamkan?

Kebakaran gambut berbeda dari kebakaran vegetasi di permukaan tanah. Pada lahan yang mengering, api dapat merambat melalui lapisan organik di bawah permukaan. Proses pembakaran ini bisa berlangsung tanpa nyala api yang jelas, sehingga petugas tidak selalu dapat mengetahui luas kebakaran hanya dengan melihat kondisi permukaan.

Pembakaran di bawah tanah juga menghasilkan asap dalam jumlah besar. Jika tidak ditangani hingga ke lapisan yang terbakar, bara dapat bertahan dan menyebar ke bagian lain. Pemadaman karena itu membutuhkan upaya untuk menjangkau titik api di dalam gambut, sekaligus memastikan kondisi air di lahan tersebut kembali terjaga.

Kebakaran gambut juga berdampak pada iklim. Ketika material organik yang menyimpan karbon terbakar, karbon dilepaskan ke atmosfer dalam jumlah besar. Kerusakan ini sulit dipulihkan karena pembentukan kembali lapisan gambut membutuhkan waktu sangat panjang.

Rewetting, Upaya Mengembalikan Gambut Tetap Basah

Salah satu upaya untuk mengurangi risiko kebakaran adalah rewetting atau pembasahan kembali lahan gambut yang mengering. Langkah ini dilakukan melalui pengelolaan tata air, termasuk pembangunan sekat kanal untuk memperlambat aliran air keluar dari kawasan gambut.

baca juga

Namun, keberadaan sekat kanal saja tidak menjamin gambut kembali basah secara optimal. Pembasahan perlu disesuaikan dengan karakteristik lahan dan kondisi hidrologinya. Dalam tulisannya di WRI, Peatland Restoration Specialist Eli Nur Nirmala Sari menekankan pentingnya pembasahan penuh agar gambut mencapai kondisi jenuh air mendekati permukaan tanah.

Ia menjelaskan, โ€œKondisi ini, paling efektif untuk menghindari pelepasan karbon ke udara dan mencegah jadi api.โ€

Upaya tersebut memiliki tantangan. Gambut yang telanjur sangat kering dapat mengalami hidrofobisitas, yakni kondisi ketika material gambut sulit menyerap air. Karena itu, restorasi perlu disertai pemantauan muka air dan pemulihan tata air secara berkelanjutan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.