dari tutup botol jadi fashion bagaimana skyfarm glenmore banyuwangi mengubah limbah jadi berkah - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Tutup Botol jadi Fashion, Bagaimana Skyfarm Glenmore Banyuwangi Ubah Limbah jadi Berkah?

Dari Tutup Botol jadi Fashion, Bagaimana Skyfarm Glenmore Banyuwangi Ubah Limbah jadi Berkah?
images info

Ilustrasi Limbah Tutup Botol Plastik | Unsplash


Pernah membayangkan tutup botol plastik dan kain jeans bekas menjadi bagian dari pakaian yang bisa dikenakan? Di Glenmore, Banyuwangi, sampah justru menemukan kesempatan kedua melalui kreativitas industri fashion.

Setelah minuman habis, tutup botol biasanya ikut dibuang. Begitu pula potongan kain jeans yang tersisa dari aktivitas menjahit atau permak pakaian. Keduanya sering dianggap tidak lagi memiliki kegunaan.

Namun, anggapan itu tidak sepenuhnya berlaku di Skyfarm Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur.

Melalui inovasi fashion berkelanjutan, limbah plastik dan tekstil diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, mulai dari kancing, rompi, hingga jaket.

Lantas, bagaimana sampah yang kerap dipandang sebelah mata tersebut bisa berubah menjadi produk fashion?

Ketika Limbah Fashion jadi Persoalan Lingkungan

Industri fashion memang menawarkan banyak pilihan gaya. Namun, di balik pakaian yang terus berganti mengikuti tren, terdapat persoalan limbah yang tidak sederhana.

Kompas.com dalam pemberitaannya mengenai produk hijau Indonesia pada 2023 mengungkapkan bahwa industri tekstil Indonesia menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 300.000 ton atau 13 persen yang dapat didaur ulang.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan limbah tekstil bukan sekadar urusan pakaian yang tidak lagi digunakan.

Potongan kain sisa produksi, pakaian bekas, hingga material yang tidak terserap industri membutuhkan pengelolaan lebih lanjut.

Persoalan serupa juga terjadi pada plastik. Kompas.com menjelaskan bahwa pemilahan menjadi tahapan penting karena setiap jenis plastik memiliki karakteristik dan proses pengolahan berbeda.

Di tengah persoalan tersebut, muncul peluang untuk mengubah cara pandang terhadap sampah. Bukan hanya mengurangi barang yang dibuang, tetapi juga menciptakan produk baru dari material yang masih memiliki potensi.

Skyfarm Glenmore, Tempat Sampah Menemukan Nilai Baru

Salah satu inisiatif yang menarik datang dari Skyfarm Glenmore, kawasan hidup berkelanjutan di Dusun Krajan, Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Didirikan pada 2018 oleh Dr. Ananta Naufal Habibi dan Dr. Anita Yuni Kholillah, Skyfarm mengembangkan konsep kemandirian pangan, air, energi, serta pengelolaan limbah secara terpadu.

Dari ekosistem tersebut, lahir World Warrior Wear (WWW), jenama yang menghadirkan produk fashion dan perlengkapan berbahan limbah daur ulang.

Melalui laman resminya, Skyfarm memperkenalkan sejumlah produk unggulan. Ada kancing yang dibuat dari tutup botol plastik daur ulang, rompi multifungsi dari kain perca, hingga jaket yang memanfaatkan sisa kain produksi tekstil.

Salah satu koleksinya adalah Code 65, pakaian berbahan kain daur ulang yang terinspirasi dari perjuangan petugas pemadam kebakaran Banyuwangi ketika menghadapi kebakaran hutan di kawasan Taman Alam Gunung Ijen.

Artinya, material yang sebelumnya dianggap tidak berguna bukan hanya memperoleh fungsi baru, tetapi juga dapat membawa cerita tentang lingkungan dan daerah asalnya.

Dari Kain Perca dan Tutup Botol jadi Desain Fashion

Mengubah sampah menjadi pakaian tentu tidak cukup hanya dengan mengumpulkan bahan bekas. Ada proses pemilihan material, pengolahan, hingga perancangan desain agar produk tetap nyaman digunakan dan memiliki daya tarik. Contohnya dapat dilihat dari Cheris Vest, produk yang dikembangkan oleh Organic Culture, jenama fashion berkelanjutan yang tumbuh dari kawasan Skyfarm Glenmore.

Dalam pemberitaan Kompas.com pada November 2025, COO Organic Culture, Wanda Tri Utami, menjelaskan bahwa Cheris Vest dirancang agar dapat digunakan sebagai rompi sekaligus diubah menjadi tote bag dengan membuka ritsletingnya secara penuh.

Menariknya, desain tersebut memadukan kain perca jeans dengan komponen berbahan plastik daur ulang. Material plastik yang dikumpulkan dari kegiatan bersih pantai dimanfaatkan menjadi aksesori, seperti kancing dan ring gesper.

Bahkan, berdasarkan pemberitaan tersebut, Organic Culture telah mengelola sekitar 230 kilogram sampah plastik laut jenis HDPE selama periode 3 Maret 2024 hingga 10 April 2025.

Inovasi lainnya terlihat dari pendekatan desain multifungsi. Satu produk dapat memiliki lebih dari satu kegunaan sehingga konsumen tidak harus membeli barang berbeda untuk setiap kebutuhan.

Di sinilah kreativitas menjadi bagian penting dari ekonomi sirkular. Limbah tidak sekadar diproses kembali, tetapi dirancang agar memiliki fungsi, estetika, dan nilai jual.

Membuka Peluang Ekonomi dari Fashion Berkelanjutan

Inovasi pengolahan limbah tentu tidak akan berkelanjutan jika berhenti pada kegiatan daur ulang. Produk yang dihasilkan juga harus mampu menjawab kebutuhan konsumen dan memiliki nilai ekonomi.

Peluang tersebut mulai terlihat dari perjalanan Organic Culture. Dalam pemberitaan UMKMTrust pada 18 Oktober 2026, usaha ini dilaporkan memiliki omzet sekitar Rp45 juta hingga Rp50 juta per bulan dari ekosistem bisnis fashion dan edukasi Skyfarm.

Produknya juga memiliki variasi harga. Fashion berbahan daur ulang dipasarkan mulai Rp275.000 hingga Rp550.000 per potong, sedangkan koleksi berbahan kain organik memiliki rentang harga berbeda.

Selain menghasilkan produk, pengelolaan limbah turut melibatkan masyarakat. Laporan yang sama menyebutkan adanya kemitraan bank sampah dengan 273 kepala keluarga di Desa Tegalharjo.

Keterlibatan masyarakat tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi sirkular tidak harus dimulai dari industri berskala besar. Kolaborasi lokal dapat menjadi pintu masuk untuk membangun rantai pemanfaatan limbah sekaligus membuka peluang ekonomi.

Sementara itu, kesempatan tampil dalam ajang fashion internasional seperti IN2MOTIONFEST 2026 turut memperluas pengenalan produk lokal ke pasar yang lebih luas. Hal ini menjadi salah satu modal untuk membangun daya saing, meskipun belum berarti seluruh produknya telah diekspor.

Sampah Bukan Akhir dari Sebuah Produk

Kisah Skyfarm Glenmore menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan bahan baru. Terkadang, peluang justru muncul ketika seseorang mampu melihat kegunaan dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak berharga.

Tutup botol yang kecil dapat menjadi kancing. Kain perca dapat menjelma menjadi rompi. Bahkan, sebuah pakaian bisa dirancang agar memiliki fungsi tambahan sebagai tas belanja.

Tentu, fashion daur ulang bukan satu-satunya jawaban atas persoalan limbah tekstil dan plastik. Pengurangan konsumsi berlebihan, pemilahan sampah, serta tanggung jawab produsen tetap diperlukan.

Namun, inisiatif dari Glenmore ini memberikan satu pelajaran penting: kreativitas dapat mengubah cara kita memperlakukan barang yang sudah tidak terpakai.

Sebab, mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya cara berpakaian, melainkan juga cara memandang sampah. Bagaimana jika sesuatu yang selama ini kita buang ternyata masih menyimpan peluang untuk menciptakan sesuatu yang bernilai?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.