Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak mudah diketahui dari kejauhan. Api bisa membara di bawah permukaan gambut ketika permukaan tanah tampak tidak sedangΒ terbakar.Β
Asapnya pun dapat menyebar hingga ke permukiman yang jauh dari lokasi kebakaran. Karena itu, informasi langsung dari warga menjadi salah satu cara untuk mengetahui dampak karhutla yang dirasakan masyarakat.
Laporan warga yang dihimpun PetaBencana.id mencatat kejadian kebakaran dan kabut asap di 108 kota di Indonesia selama 1β20 Oktober 2026. Informasi tersebut dikirimkan masyarakat yang mendokumentasikan kondisi di lingkungan mereka, dari Sumatra hingga Papua.
Informasi Warga Bantu Keluarga Bersiap
PetaBencana.id merupakan platform terbuka yang menyediakan informasi kebencanaan berdasarkan laporan masyarakat. Berbeda dengan data titik panas atau hotspot satelit yang mendeteksi aktivitas termal, laporan warga merekam kondisi yang mereka lihat dan alami secara langsung.
Manfaat informasi tersebut dirasakan seorang ibu di Kalimantan yang mengetahui kebakaran hutan di desa tetangga melalui PetaBencana.id. Informasi itu belum ditemukannya melalui saluran informasi lain.
Setelah menerima laporan tersebut, ia mengambil sejumlah langkah antisipasi. Ia menutup celah udara di rumah, memindahkan anak-anaknya, dan menyiapkan masker pelindung sebelum kondisi memburuk.
Hal ini menunjukkan bahwa informasi kebencanaan tidak berhenti sebagai catatan kejadian. Ketika tersedia secara tepat waktu, laporan warga dapat membantu keluarga membuat keputusan untuk mengurangi paparan asap dan melindungi anggota keluarga yang rentan.
Partisipasi masyarakat juga melengkapi pemantauan berbasis teknologi. Sebab, kondisi udara dan jarak pandang dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya. Sementara itu, kebakaran gambut berpotensi bertahan lama karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah, sehingga tidak seluruh kejadian mudah terdeteksi melalui pengamatan dari udara.
Asap Karhutla dan Ancaman Serius pada Kesehatan
Pentingnya informasi tersebut semakin terlihat dari dampak kesehatan yang ditimbulkan karhutla. Kementerian Kesehatan mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di wilayah terdampak kebakaran. Dari jumlah tersebut, 75.172 kasus dialami anak berusia di bawah lima tahun, sedangkan 258.298 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menjelaskan bahwa 4.522 kasus masih ditangani saat pendataan dilakukan.
"Secara kumulatif itu ada 333.470 kasus ISPA, dengan kasus hariannya yang masih menderita ISPA adalah 4.522," kata Suyanti dalam konferensi pers penanganan karhutla di Studio Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (22/10/2026).
Asap karhutla mengandung sejumlah polutan, termasuk partikel halus PM2,5, karbon monoksida, dan nitrogen dioksida. Paparan polutan dapat memicu ISPA, memperburuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menyebabkan iritasi mata dan kulit. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan gangguan pernapasan termasuk kelompok yang rentan.
Melengkapi Pemantauan Kebakaran
Guru Besar IPB University, Budi Indra Setiawan, menjelaskan bahwa risiko kebakaran gambut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi, mulai dari penurunan muka air tanah dan cuaca kering hingga bahan bakar di permukaan serta keberadaan sumber api.
"Kebakaran gambut merupakan persoalan yang kompleks. Penurunan muka air tanah, kondisi cuaca kering, berkurangnya kelembapan gambut, banyaknya bahan bakar di permukaan, kecepatan angin, serta keberadaan sumber api dapat saling berinteraksi dan meningkatkan risiko kebakaran," kata Budi.
Menurutnya, pemantauan perlu memadukan citra satelit, sensor muka air tanah, patroli darat, dan pemeriksaan langsung. Ia mengingatkan bahwa data titik panas tidak selalu menunjukkan kebakaran, sementara api di bawah permukaan gambut juga dapat luput dari deteksi awal.
"Teknologi pemantauan sangat membantu, tetapi data titik panas tetap harus diperiksa langsung di lapangan. Tidak semua titik panas merupakan kebakaran, dan tidak semua kebakaran dapat segera terlihat dari satelit, terutama jika api berada di bawah permukaan gambut," ujarnya.
Dengan demikian, laporan masyarakat dapat menjadi sumber informasi tambahan untuk membantu mengidentifikasi kondisi yang membutuhkan perhatian.Β
Partisipasi Publik untuk Mengurangi Risiko
PetaBencana.id dikembangkan oleh Yayasan Peta Bencana untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengurangan risiko bencana melalui infrastruktur informasi yang terbuka. Data yang terkumpul juga dapat dimanfaatkan peneliti, organisasi kemanusiaan, dan instansi pemerintah untuk memahami kondisi di lapangan.
Masyarakat dapat mengirimkan laporan secara anonim melalui WhatsApp di nomor +62 858-4236-2262 atau melalui situs https://petabencana.id.


