Indonesia kaya akan rempah-rempah yang khas dari Sabang sampai Merauke. Semuanya mempunyai daya tarik dan cita rasa hingga di masa lalu, dilirik oleh negara lain.
Di Indonesia bagian barat, khususnya Kabupaten Sidoarjo, daerah ini dikenal dengan julukan โKota Udang dan Kota Bandengโ. Alasannya karena keduanya adalah komoditi utama yang menopang kehidupan masyarakat.
Yang menarik lainnya, Sidoarjo termasuk kabupaten yang memiliki pelaku UMKM terbanyak dengan 153.288 unit hingga Juli 2026. Data ini berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo.
Beragam usaha tersebut tidak hanya bertumpu pada dua komoditi utama, melainkan mengembangkan potensi alam lainnya. Salah satunya adalah Arana Space, UMKM yang berfokus pada olahan rempah utuh dan bubuk.
Cerita di Balik Layar Arana Spice
Sri Astutik adalah sosok di balik usaha UMKM dari PT. Sari Bhuwana Nusajaya dengan merek Arana Spice.
Nama ini berdiri pada tahun 2017 dan secara hukum diresmikan di tahun 2018. Fokus dalam memproduksi olahan yang berupa rempah bubuk sampai rempah utuh dari alam Indonesia, Arana Spice menjadikannya sebagai produk unggulan dan menembus ke mancanegara.
Keberhasilan tersebut tak lepas dari kejelian sang pemilik usaha dalam memperkuat rantai pasokan dengan mengajak beberapa kelompok petani serta pengusaha wanita di daerah untuk bekerja sama.
Akan tetapi, kerja sama tersebut bukan hanya hitam di atas putih, melainkan diimplementasikan dengan mengedukasi petani dan pemberianย alat tes kadar air untuk petani kunyit dan mesin raja dalam meningkatkan produksi.
Pondasi yang sudah terbangun semakin terlihat hasilnya, yang mana salah satu pemberdayaan pengusaha perempuan di Kediri menghasilkan 36 ton/ tahun dan kini kapasitas produksinya sudah mencapai 300 ton/tahun.
Bahkan, saat pandemi menyerang, produk dari Arana Spice malah memiliki penjualan yang meningkat hampir 400% tanpa mengurangi kualitas.
Inilah yang menjadi titik Sri Astutik dalam mengembangkan produk yang awalnya hanya bumbu utuh menjadi bumbu bubuk.
Dalam wawancara bersama Master Bagasi di kanal YouTube, ia menyampaikan bahwa kenapa tidak membuat produk yang lebih sederhana? Misal, membuat jamu yang tidak membuat tangan kuning, dan bumbu rendang tanpa perlu mengupas bahannya.
Produk Arana Spice
UMKM dari Jawa Timur ini memiliki beberapa produk olahan rempah penyedap makanan hingga olahan minuman, seperti Turmeric Ground (Kunyit Bubuk), Ginger Ground (Jahe Bubuk), Red GingerGround (Jahe Merah Bubuk), White Papper Ground (Lada Putih), serta Ginger Drink (Minuman Jahe Instan).
Bahkan, produknya semakin berkembang dengan inovasi olahan terbaru, yaitu Spice Chocolate (Cokelat Rempah).
Produk Arana Spice juga telah diekspor ke beberapa negara, di antaranya Jepang, India, Arab Saudi, Vietnam, Inggris, Australia, Makau, dan Nigeria.
Penghargaan Arana Spice
Berawal dari workshop di kediaman Sri Astutik, Arana Spice perlahan berkembang hingga ke mancanegara.
Perkembangan usaha menghantarkan Arana Spice meraih sejumlah apresiasi dari penghargaan.
Pada 2025 Food Start Up Indonesia, Arana Spice masuk dalam jajaran 10 besar yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Di tahun 2026, Arana Spice kembali mendapatkan penghargaan melalui Lomba UKM Berprestasi di Jawa Timur dan menduduki peringkat 1 dalam kategori Makanan dan Minuman (Mamin).
Kawan GNFI, Arana Spice mengajarkan bahwa untuk tidak takut memulai hal yang diimpikan. Usaha kecil memiliki peluang menjadi besar walaupun tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Keberanian untuk memulai, konsistensi dalam menjalankan usaha, serta berinovasi akan menjadi pondasi penting bagi UMKM.
Memulai memang selalu tidak mudah, tetapi langkah kecil membawa beribu-ribu perubahan. Jadi, jangan takut untuk berkembang.


