Kezia Monica, Project Controller Manager of Finance, Governance, and Legal of AIESEC in Semarang, berhasil meraih Djarum Beasiswa Plus 2026/2027 setelah melalui proses yang tidak hanya menguji kemampuannya, tetapi juga mengubah cara pandangnya tentang kesiapan dan keberanian.
Sejak menjadi mahasiswa baru, Kezia sudah memiliki keinginan untuk mendapatkan beasiswa. Baginya, keinginan tersebut harus diiringi dengan value yang bisa ia bangun melalui prestasi akademik, pengalaman organisasi, dan pengembangan diri. Ia pun berusaha menjaga nilai sekaligus aktif mengembangkan kemampuannya, salah satunya melalui AIESEC in Semarang.
Namun, ada satu hal yang sempat menghambat langkahnya: ia terus menunda untuk mencoba. Kezia menganggap beasiswa sebagai sesuatu yang terlalu jauh untuk dijangkau, hingga tanpa sadar ia menunggu terlalu lama untuk mengambil kesempatan tersebut. Baru pada semester empat, ia akhirnya memberanikan diri mendaftar Djarum Beasiswa Plus, yang ternyata menjadi satu-satunya beasiswa yang ia coba.
Keputusan untuk mencoba bukan berarti keraguannya langsung hilang. Pada tahap tes online, Kezia sempat merasa tertekan setelah mengetahui bahwa soal-soalnya memiliki kemiripan dengan soal penalaran UTBK, sementara ia tidak mengikuti UTBK. Alih-alih menjadikan keterbatasan tersebut sebagai alasan untuk menyerah, ia memilih fokus pada hal yang masih bisa diusahakan.
Selama liburan semester, Kezia meluangkan waktu untuk mengeksplorasi berbagai tipe soal dan melatih kemampuan penalarannya. Baginya, kesempatan mengikuti seleksi sudah cukup berharga untuk diperjuangkan. Usaha tersebut membawanya lolos ke tahap berikutnya, sekaligus membuktikan bahwa kemampuan tidak selalu harus sudah sempurna sejak awal; kemampuan juga dapat dibangun melalui proses belajar yang konsisten.
Tantangan berikutnya hadir pada seleksi offline. Berbeda dengan tes online yang bisa dipersiapkan melalui latihan soal, seleksi offline membuatnya merasa lebih tertekan karena peserta diobservasi secara langsung tanpa mengetahui secara pasti indikator penilaiannya. Namun, Kezia menyadari bahwa ia tidak bisa mengendalikan seluruh aspek seleksi. Ia memilih untuk mengurangi ekspektasi, tetap menjadi diri sendiri, dan memberikan yang terbaik, termasuk saat menjalani wawancara.
Setelah melalui rangkaian seleksi dan penantian yang cukup panjang, Kezia akhirnya dinyatakan sebagai penerima Djarum Beasiswa Plus. Salah satu hal yang paling berkesan baginya bukan hanya keberhasilan tersebut, tetapi juga kesempatan bertemu dengan Beswan Djarum regional Semarang. Ia merasa disambut dengan hangat oleh teman-teman angkatan 42 maupun kakak-kakak angkatan 41. Momen itu memberinya kebahagiaan sekaligus perasaan lega setelah seluruh usaha dan ketidakpastian yang ia lalui.
Bagi Kezia, pengalaman ini mengajarkan bahwa membangun value diri dan berani mengambil kesempatan merupakan dua hal yang perlu berjalan beriringan. Pengembangan diri memang penting untuk mempersiapkan masa depan, tetapi terlalu lama menunggu hingga merasa cukup mampu justru dapat membuat seseorang melewatkan peluang untuk berkembang lebih jauh.
Ia pun ingin menyampaikan pesan kepada mahasiswa yang masih ragu untuk mencoba sesuatu yang besar dalam hidupnya:
“You don't have to feel 100% ready to start. Kamu tidak harus punya semuanya untuk merasa layak mencoba. Yang penting, berani mengambil langkah pertama dan memberikan yang terbaik di setiap prosesnya.”
Kisah Kezia menjadi pengingat bahwa kesempatan tidak selalu datang ketika seseorang sudah merasa siap. Terkadang, kita perlu melangkah dengan segala keterbatasan, belajar sepanjang proses, dan menerima bahwa hasil akhirnya tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan diri, mengambil kesempatan yang ada, dan memberikan usaha terbaik.
“Jangan tunggu untuk hebat dulu, just give your best shot! Because being brave is already a form of being great.”
Pada akhirnya, keberanian bukan berarti tidak memiliki keraguan, melainkan memilih untuk tetap melangkah meskipun keraguan itu ada. Dan bagi Kezia, langkah yang sempat ia tunda justru menjadi awal dari pencapaian yang membuktikan bahwa dirinya mampu melangkah lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan.


