Nว hวo, Kawan GNFI! Siapa yang suka nonton Dracin? Apakah kamu salah satunya?
Tentu sudah tidak asing lagi, ya, dengan kata-kata dari bahasa Mandarin yang susah pengucapannya dan punya nada itu. Beda nada, beda arti. Belum lagi tulisannya yang superย njlimet!
Berkawan kali ini, mengajak Kawan GNFI untuk mempelajari dasar-dasar bahasa Mandarin dan berlatih untuk berdialog dengan Kawan lainnya. Seru sekali.
Melalui media Zoom Meetings pada Kamis, 29 Oktober 2026, sekitar 35 Kawan GNFI bersama-sama belajar Bahasa Mandarin yang dipandu oleh Founder Nadhika, Haki Verdian, dan tim.
Sejak pukul 19.00 WIB, Kawan GNFI menyimak dengan seksama materi dari Kak Haki.
Pada penyampaiannya, Kak Haki memaparkan soal bunyi dan nada, salam, perkenalan diri, angka, dan juga mendampingi latihan menuturkan Bahasa Mandarin.
Beda Nada Beda Arti

Bicara soal bunyi dan nada, ternyata memang โriskanโ. Bayangkan saja, ไนฐ (mวi) dan ๅ (mร i) mempunyai pinyin sama tetapi berbeda nada sehingga memiliki arti yang berbeda.
Kata ไนฐ (mวi) menggunakan nada ketiga yang berarti "membeli" dalam bahasa Mandarin, sedangkan ๅ (mร i) menggunakan nada keempat dan memiliki arti "menjual" dalam bahasa Mandarin.
Tidak perlu beda nada, ternyata tulisan pinyin yang nadanya sama pun, bisa beda arti karena berbeda aksara Hanzi. Kak Haki pun mencontohkan, kata ไป (tฤ) yang berarti Dia (laki-laki / umum) sedangkan ๅฅน (tฤ) โ Dia (perempuan).
Sebagai pemula, hal ini sungguh rumit.
Lantas, bagaimana agar bisa membedakan kata dalam bahasa Mandarin yang serupa tapi tak sama ini?
Menurut Kak Haki, harus banyak latihan agar bisa membedakan nada dan tahu konteks kalimatnya agar memahami kata yang dipakai dan nada pengucapannya.
Sesi Praktik Menuturkan Bahasa Mandarin

Setelah pemaparan materi, Kawan GNFI diberi kesempatan untuk praktik langsung selama 15 menit.
Peserta kemudian terbagi menjadi dua grup, yaitu Nailong dan Jackie Chan. Grup Nailong dipandu oleh Kak Tobi Kurniadi, sedangkan grup Jackie Chan bersama Kak Haki.
Penulis yang masuk dalam grup Nailong ini berkesempatan untuk praktik berdialog dengan kak Tobi. Dalam sesi ini, penulis dan Kawan GNFI lain juga berkesempatan bertanya ke kak Tobi.
Seperti bagaimana perbedaan pengucapan Sรฌ (ๅ) angka empat dengan Shรญ (ๅ) angka sepuluh, dan bagaimana agar bisa menempuh pendidikan di negeri Tirai Bambu atau Taiwan.
Layaknya Kak Haki, Kak Tobi juga memberikan saran kepada Kawan GNFI yang hadir agar berlatih langsung dengan penutur asli, yang salah satu caranya bisa melalui jalur pendidikan.
Menunjang hal tersebut, Kak Tobi juga memberikan insight terkait cara berkuliah di Tiongkok atau Taiwan serta opsi beasiswa yang tersedia.
Games dan Challenge Seru
Penyampaian materi sudah. Berlatih dialog juga sudah. Maka saatnya sesi games yang tidak kalah menarik untuk mengingat kembali materi tadi.
Melalui Kahoot, peserta diajak untuk posttest dengan cara yang menyenangkan dan berkesempatan mendapat hadiah juga, lho.
Intinya, seru sekali kegiatan berkawan kali ini. Tambah ilmu, pengalaman, dan skill dasar berbahasa Mandarin yang bisa dikoreksi langsung oleh tutor.
Berbicara tentang Bahasa Mandarin, funfact-nya, ternyata orang Indonesia yang menempuh pendidikan di Tiongkok atau Taiwan punya nama mandarin, lho.
Kak Haki menyebutkan bahwa nama mandarin ini sebaiknya diberikan oleh penduduk setempat. Sebab, ada โpertimbangan khususโ dalam memberi nama mandarin, salah satunya yaitu jumlah goresan aksara.
Wah, ternyata belajar bahasa juga sepaket dengan mempelajari budayanya ya, Kawan.
Ngomong-ngomong, apakah Kawan sudah punya nama mandarin? Lalu, nว jiร o shรฉnme mรญngzi (siapa namamu)?


