books and identity over coffee obrolan penulis novel indonesia austria dan ukraina tentang identitas kultural - News | Good News From Indonesia 2026

Books and Identity Over Coffee: Obrolan Penulis Novel Indonesia, Austria, dan Ukraina tentang Identitas Kultural

Books and Identity Over Coffee: Obrolan Penulis Novel Indonesia, Austria, dan Ukraina tentang Identitas Kultural
images info

Books and Identity Over Coffee di Kedutaan Besar Austria | Dokumen Istimewa


Terkadang buku, kopi, dan alunan musik bisa menyatukan dan mencairkan suasana menjadi ruang obrolan yang mengalir.

Program "Books and Identity Over Coffee: Vienna-Kyiv-Jakarta" di Kedutaan Besar Austria di Jakarta pada 19 Oktober 2026 lalu, mengajak 4 penulis dari 3 negara yakni, Laksmi Pamuntjak dan Dhianita Kusuma Pertiwi dari Indonesia, Stefan Kutzenberger dari Austria, dan Irena Karpa dari Ukraina untuk menceritakan bagaimana literasi menjaga identitas negara sambil mengajak untuk merasakan pengalaman dari luar batas.

‎Dimulai pukul 14.00 WIB, para undangan disuguhkan dengan ragam hidangan asal Austria dan Ukraina, lengkap dengan jus dan kopi. Tak lama setelahnya, tamu undangan disuguhkan dengan alunan lagu “Urip Iku Urup” yang dibawakan oleh Ananda Sukarlan.

Dipandu oleh Debra Yatim, di sesi pertamanya setiap penulis diberi kesempatan untuk menyampaikan perspektifnya lewat penggalan karya tulis novelnya. Setelah keempat penulis membacakan penggalan novelnya, sesi keduanya adalah dialog interaktif antara penulis dan moderator untuk menjelaskan makna dan isu yang disinggung dalam narasi yang mereka baca.

baca juga

Sastra, Ingatan, dan Stereotip Identitas

Di kesempatan pertama Laksmi membacakan 2 penggalan dari novelnya, salah satunya dari tulisan debutnya dalam bahasa Inggris yang berjudul Amba: The Question of Red. Di sini dirinya membacakan cerita tentang hubungan antara sastra dan ingatan. Menghubungkan hubungan personal yang intim dengan pergolakan pada tahun 1965, yang terasa mengajak pembacanya untuk merasakan trauma sejarah melalui kehidupan individu. Dialog yang terus berlanjut dalam dalam karya ini menggambarkan bagaimana fiksi dapat membawa ingatan-ingatan yang sulit melintasi berbagai generasi.

Penulis dan Duta Besar Austria di Jakarta | Dokumen Istimewa
info gambar

Penulis 3 Negara di Books and Identity Over Coffee | Dokumen Istimewa 


Di tulisan keduanya, dirinya menyinggung tentang persoalan beragama yang kerap kali mendapat stereotip identitas. “Saat itu kita sedang menggunakan pakaian renang terbuka menuju ke pesta ulang tahun. Ketika di pintu masuk, kita diberhentikan oleh petugas keamanan. Dia melihat kami dari atas hingga bawah, dari mahkota hingga ujung kaki, dengan tatapan sinis dia berkata ‘tolong gunakan pakaian yang sopan dan normal’ katanya. ‘Kalian muslim kan?’ lanjutnya saat saya belum sempat membela diri atau bahkan memeriksa daftar tamu”.

Dari narasi tersebut, dirinya menjelaskan kalau terkadang cara berpakaian seringkali dicampuri dengan hal-hal agama meskipun pada akhirnya semua itu merupakan urusan masing-masing.

Ketika Etnis Asing Lebih Diperhatikan dari Etnis Asli

Melalui narasi yang dibaca oleh Stefan Katzenberger yang berjudu Friedingerl, dirinya menanyakan garis keturunannya karena banyaknya asal usul Etnis di kisah kakek dan nenek di pihak ibunya. Melalui narasinya, akhirnya tokoh utamanya merasa mengesampingkan asal usul kisah kakek nenek dari pihak ayahnya padahal mereka sama-sama keturunan Austria.

baca juga

Inti dari ceritanya, seseorang seringkali lebih antusias dengan identitas dari suku atau etnik lain, tanpa disadari mereka mengesampingkan mencari tahu lebih dalam tentang sukunya sendiri.

Mencari Identitas dari Perjalanan

Berbeda bagi Irena Karpa. Menurutnya membaca terhubung dengan hasrat untuk menemukan sesuatu. Hubungannya dengan Indonesia juga lebih dari sekedar untuk mengunjungi. Menurut catatannya, masa yang dihabiskan untuk menempuh studi kala itu turut menginspirasi novelnya, “Freud Would Cry”. Pengalaman tersebut memberikan sentuhan personal di antara Ukraina dan Indonesia.

Dalam pelestarian budaya, perspektif Ukraina menghadirkan urgensi tersendiri. Seperti yang disampaikan pada narasinya, mengutip dari Tetiana Lytvynenko, manajer program Ukrainian Institute untuk Indonesia dan India, sastra menjaga sejarah nasional di tengah kehancuran akibat perang. Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang bagi penulis Indonesia untuk menyumbangkan perspektif mereka sendiri.

Secara keseluruhan, berbagai kontribusi ini menunjukkan bahwa identitas nasional dapat tetap berakar pada bahasa dan ingatan, sembari terus berkembang melalui perjalanan, penerjemahan, serta perjumpaan dengan budaya lain.

baca juga

Program ini merupakan kolaborasi yang sebelumnya sudah terbentuk dari pembuatan mural bertema ekologi di Taman Ismail Marzuki pada bulan Juli 2026. Kedepannya kolaborsi Indonesia, Austria, dan Ukraina akan terus berjalan demi memperkenalkan kebudayaan melalui literasi, seni, dan bidang lainnya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.