ipbenih pengabdian kelompok kknt ipb 2026 untuk tingkatkan kesejahteraan petani lahan tegalan - News | Good News From Indonesia 2026

IPBENIH: Pengabdian Kelompok KKNT IPB 2026 untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani Lahan Tegalan

IPBENIH: Pengabdian Kelompok KKNT IPB 2026 untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani Lahan Tegalan
images info

IPBENIH: Pengabdian Kelompok KKNT IPB 2026 untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani Lahan Tegalan


Kemajuan sektor pertanian di Indonesia tentunya tidak hanya membutuhkan inovasi. Namun, juga harus dibimbing dengan pemberdayaan ilmu yang bermanfaat bagi petani agar dapat meningkatkan hasil sekaligus menjamin keberlanjutan sektor pertanian di Indonesia.

Lantas, kondisi tersebut menjadi landasan visi KKN Tematik IPB University 2026 Kabupaten Jombang 07 untuk menghadirkan program IPBenih (IPB Benih) di Desa Gongseng, Kabupaten Jombang.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 15 Juli–11 Agustus 2026 ini berfokus pada pengenalan beberapa varietas unggulan padi hasil pemuliaan IPB, seperti IPB 3S dan IPB 9G, kepada para petani di kawasan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Gongseng, dengan harapan bahwa varietas unggulan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan daya hasil pertanian di Desa Gongseng.

IPBenih ini sendiri lahir dari hasil musyawarah atau rembugan bersama beberapa tokoh masyarakat mengenai kebutuhan pemberdayaan pertanian di Desa Gongseng, khususnya di kawasan Kelompok Tani (Poktan) Garurejo.

baca juga

Bakti Civitas IPB untuk Pemberdayaan Pertanian Nasional

IPB University telah lama terlibat dalam pengembangan pertanian nasional, salah satunya melalui pemuliaan tanaman komoditas pangan. Setelah sebelumnya berhasil melepas varietas padi IPB 3S untuk lahan sawah irigasi, tim pemulia tanaman IPB kembali menghasilkan varietas unggulan melalui pelepasan IPB 9G untuk lahan gogo, yang secara resmi dilepas oleh Menteri Pertanian melalui SK Nomor 335/Kpts/TP.030/5/2017.

Tahukah Kawan GNFI, kehadiran varietas padi yang mampu tumbuh pada kondisi ekosistem lahan kurang subur terus menjadi kian penting, seiring menyusutnya lahan sawah nasional akibat alih fungsi lahan, khususnya untuk pembangunan infrastruktur?

Karena itu, penting bagi pelaku pengembangan pertanian untuk berfokus tidak hanya pada pengembangan varietas padi sawah irigasi. Namun, juga pengembangan varietas lain yang cocok untuk lahan yang tergolong marjinal, seperti lahan rawa dan gogo.

Berbeda dengan lahan sawah irigasi dan rawa yang memiliki ketersediaan air relatif lebih tinggi, lahan gogo merupakan lahan kering atau tegalan yang relatif tidak mengandalkan genangan air dalam budidaya padi.

Kondisi tersebut membuat pemilihan varietas yang ideal menjadi salah satu faktor penting agar tanaman mampu beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya, sekaligus dapat optimal. Sayangnya, terkadang masih terdapat beberapa petani yang belum mengenal varietas padi yang cocok untuk ditanam di lahan gogo.

Sejauh ini sudah terdapat cukup banyak opsi varietas padi gogo yang dapat digunakan petani secara nasional, contohnya seperti varietas Inpago 12 Agritan, Inpago 13 Fortiz, Situ Bagendit, dan Situ Patenggang.

Namun jika dibandingkan varietas padi gogo lainnya, IPB 9G juga memiliki ciri khas tersendiri, yaitu mampu hidup secara amfibi, sehingga dapat tumbuh pada kondisi lahan kering maupun lahan basah. 

PB 9G sendiri diketahui memiliki rata-rata hasil sekitar 6,09 ton per hektare dengan potensi hasil mencapai 9,09 ton per hektare, serta jumlah gabah per malai sebanyak kurang lebih 158 butir.

Bagi masyarakat Desa Gongseng, keberadaan varietas tersebut menjadi sesuatu yang relatif baru. Para petani di kawasan tersebut ternyata belum banyak mengenal varietas padi hasil pemuliaan IPB. Karena itu, IPBenih menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempertemukan hasil pengembangan varietas di lingkungan kampus dengan kebutuhan pertanian yang ditemui secara langsung di masyarakat.

IPB 9G sebagai Pelopor Pertanian Gogo Lanskap Tunggorono

Tidak sebatas sosialisasi saja, Kawan GNFI, program kerja ini ternyata mampu diterima masyarakat dengan baik dan berlanjut melalui diskusi bersama Ketua Poktan Garurejo, Bapak H. Cholis Supriyanto, Drs.

Dari diskusi tersebut, mahasiswa Kelompok KKNT IPB University Kabupaten Jombang 07 melihat bahwa kebutuhan di Desa Gongseng tidak hanya terletak pada pengenalan varietas baru. Secara praktik, terdapat lahan marjinal yang juga membutuhkan benih varietas unggulan gogo, khususnya di wilayah Poktan Garurejo.

Wilayah ini merupakan dataran tegalan yang cukup tinggi dibandingkan lahan di kawasan lainnya, yang sering disebut warga setempat sebagai bagian dari ‘Gunung Tunggorono’. Selain itu, menurut Cholis, kebanyakan petani di kawasan Poktan Garurejo (termasuk mereka yang memiliki tanah di kawasan lahan tegalan) ternyata belum mengenal pembudidayaan padi menggunakan varietas gogo.

baca juga

Karena itu, IPB 9G dipilih untuk mulai diperkenalkan dan ditanam pada lahan tersebut.

Sebagai tindak lanjut sosialisasi, tentunya pelaksanaan penyemaian hingga penanaman benih IPB 9G tidak dapat dilaksanakan secara mandiri. Maka, dengan kolaborasi bersama program kerja SEMBADA (Semai Benih Padi Mandiri), masyarakat tidak hanya mendengar penjelasan mengenai IPB 9G baik secara media formal maupun informal, tetapi juga dapat melihat proses pertumbuhannya sejak awal.

Baki penyemaian yang diletakkan di halaman depan rumah Cholis pun perlahan menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat di sekitar posko. Dari sebuah baki penyemaian sederhana, warga mulai dapat melihat secara langsung tanaman yang sebelumnya hanya mereka kenal melalui sosialisasi mulut antar mulut.

Hasil penyemaian kering benih IPB 9G. Dokumentasi Pribadi

Dari Keraguan Menuju Asa di Garurejo

Sebelum penyemaian dilakukan, respons masyarakat terhadap benih IPB 9G belum sepenuhnya antusias. Sebagai contoh, beberapa warga berpendapat bahwa rata-rata hasil IPB 9G yang berada di angka 6,09 ton per hektare dianggap masih cukup rendah, khususnya bila dibandingkan dengan varietas padi sawah irigasi yang lebih dikenal warga setempat, seperti Inpari 32 dan MR 219.

Namun, bagi Cholis, angka tersebut tetap berpeluang untuk memberikan keuntungan bagi petani, khususnya untuk lahan gogo. Menurutnya, hasil rata-rata maupun potensi hasil IPB 9G masih dapat lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan komoditas pangan dan hortikultura yang selama ini banyak dibudidayakan di kawasan lanskap Tunggorono, seperti jagung Madura, timun krai, dan labu.

Di sisi lain, keraguan masyarakat terhadap varietas baru tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi Cholis.

Menurutnya, kawasan lanskap Tunggorono sebelumnya memang bukan wilayah yang mudah untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sehingga lebih sering dianggurkan atau digunakan untuk menanam komoditas pohon kayu.

“Dulu ini sebelum adanya sumur sibel ini yo angel, susah ini kalau mau ada pertanian di daerah sini, wong sana aja puncaknya Gunung Tunggorono, ini ya lahan tegal semua,” ungkap Cholis.

Kondisi tersebut mulai berubah setelah adanya dukungan Dinas Pertanian Kabupaten Jombang melalui pembangunan pompa sibel di beberapa titik kawasan lanskap Tunggorono. Kehadiran fasilitas tersebut membantu meningkatkan ketersediaan air untuk kegiatan pertanian, termasuk budidaya padi di kawasan Poktan Garurejo.

Namun, ketersediaan air belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran masyarakat. Sebagian petani masih enggan menanam padi di lahan tegalan karena khawatir mengalami gagal panen ketika terjadi kekeringan. Hasil panen yang dianggap belum memuaskan juga menjadi pertimbangan lainnya.

Dari target sekitar 60 hektare lahan yang diharapkan dapat ditanami padi, hanya sekitar 11–12 hektare yang akhirnya berhasil direalisasikan untuk budidaya padi.

Kondisi tersebut semakin menjadi tantangan karena varietas yang sebelumnya digunakan merupakan varietas yang lebih diperuntukkan bagi sawah irigasi, sehingga kurang sesuai dengan karakter lahan gogo atau tegalan.

baca juga

Di tengah kondisi tersebut, IPB 9G diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif budidaya bagi petani. Bukan untuk menggantikan apa yang telah dilakukan petani, tetapi untuk memberikan kesempatan bagi mereka mencoba varietas yang memiliki karakter berbeda pada lahan yang selama ini menjadi tantangan.

Hijau Teguh Menghadapi Mongso Ketigo

Puncak kegiatan IPBenih berlangsung bersamaan dengan kegiatan utama program SEMBADA pada 9 Agustus 2026, yaitu penanaman bibit padi berusia lebih dari 21 HSS (Hari Setelah Semai) pada lahan gogo seluas kurang lebih 2.100 m² pada sepetak lahan di kawasan lanskap Tunggorono, Poktan Garurejo, Desa Gongseng.

Kegiatan puncak ini selain dipelopori oleh Cholis sendiri, juga turut disambut baik oleh para petani yang ikut bekerja di lahan maupun masyarakat yang sedang beraktivitas di sekitar kawasan tanam. Menurut Cholis, selang beberapa hari setelah penanaman, beberapa petani justru merasa heran melihat tanaman padi yang tetap mampu bertahan dan tidak layu meskipun ditanam pada lahan tegalan.

“Biasanya orang itu nggak berani buat menanam padi di musim ketigo, tapi ya untuk ngubah mindset, saya harus yang memulai, agar petani di sini berani menanam padi, gitu lo,” tutur Cholis.

“Nanti kalau sudah mongso labuh, kan sudah panen, saya rencana mau bagi gabah (hasil panen) ke anggota Poktan Garurejo lainnya agar mereka mau menanam padi, kan begitu.”

Rangkaian kegiatan program kerja IPBenih pun berakhir dengan pengenalan bibit varietas hasil pelepasan IPB secara lebih formal dan luas dalam kegiatan penutupan Lokakarya 2 KKNT IPB 2026 di Desa Gongseng pada 11 Agustus 2026.

Dari Benih IPB, Tumbuh Harapan di Lahan Tegalan

IPB 9G sendiri masih membutuhkan perjalanan panjang untuk membuktikan kemampuannya di lanskap Tunggorono. Hasil panen nantinya akan menjadi salah satu kriteria penentu apakah varietas tersebut benar-benar dapat cocok dan sesuai bagi petani di Desa Gongseng.

Namun, proses tersebut tidak harus selalu dimulai dari hasil panen. Sebuah bibit yang mampu tumbuh di lahan yang sebelumnya dianggap sulit pun sudah dapat menjadi awal dari sebuah percobaan baru.

Bagi Kawan GNFI, kisah IPBenih menjadi gambaran bahwa pemberdayaan pertanian dapat dimulai dari langkah yang sederhana.

Sebuah karung benih gabah, beberapa baki penyemaian di depan rumah, sepetak lahan gogo, dan keberanian untuk mencoba varietas baru dapat menjadi bagian dari proses panjang menuju kemajuan dan keberlanjutan pertanian di suatu desa.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AY
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.