Kawan GNFI, masih ingatkah dengan agenda sore masa kecil ketika gawai dan internet belum semaju sekarang? Kita selalu dipenuhi dengan euforia bermain lompat karet, gasing, engklek, dakon, atau egrang bambu hingga lupa waktu hampir menembus petang. Suasana itulah yang ingin dihadirkan kembali oleh Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Iptek bagi Desa Binaan Undip (IDBU) 9 di Kelurahan Wonolopo, Kota Semarang.
Tim ini punya tema besar berupa “Kampung Literasi Dolanan Nusantara” yang berfokus pada pelestarian permainan tradisional Indonesia, loh!
Sebanyak tiga puluh mahasiswa dari berbagai program studi (prodi) dan fakultas/Sekolah Vokasi (SV) selama 42 hari bekerja sama menyusun proker pengabdian untuk mencapai tujuan revitalisasi permainan tradisional. Salah dua proker besar Tim KKN-T IDBU 9 adalah Festival Budaya (Fesbud) dan Pojok Dolanan (Polan).
Sorak dan Seru Pagelaran Fesbud
Apa, sih, Fesbud itu? Fesbud adalah pergelaran lomba permainan tradisional yang berlangsung pada tanggal 2 dan 9 Agustus 2026. Permainan tradisional yang dikompetisikan adalah egrang batok kelapa dan gobak sodor. Menjadi warna baru perlombaan di periode Agustusan, tentu dua permainan tersebut menarik perhatian warga sekitar untuk sekadar menonton atau bahkan ikut bermain.
Denny Ariawan, Seksi Pemuda dan Olahraga Rukun Tetangga (RT) 7/Rukun Warga (RW) 8, Kelurahan Wonolopo, merespons hangat keberadaan egrang batok kelapa dalam daftar lomba tujuh belasan yang ada. Menurutnya, tindakan mahasiswa KKN-T IDBU 9 mampu membangkitkan kembali budaya lokal yang sempat tergusur oleh dunia digital.
“Karena selama ini tidak ada yang membuka (memulai) kegiatan (permainan tradisional) itu, jadi peran KKN di sini itu sangat penting. Jadi bisa melestarikan budaya yang selama ini belum tersentuh” ungkap Denny, Minggu (2/8/2026).
Keseruan pertandingan permainan tradisional juga ditemukan di lomba gobak sodor, nih, Kawan GNFI.
Garis kapur putih di Lapangan Voli Embung Wonolopo menjadi saksi bisu persaingan strategi antara anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu setempat. Kehebohan dan semangat para peserta turut mengundang atensi warga sekitar yang histeris menyaksikan pertandingan.
“Seru dan menantang. Permainan (gobak sodor) ini cocok dengan konsep tujuh belasan karena seru-seruan,” tutur Ferdi Saputro, salah satu pemain lomba gobak sodor.
Menanggapi antusiasme warga, Arifa Ajda Kamila selaku Koordinator Desa Tim KKN-T IDBU 9 merasa senang karena penyelenggaraan Fesbud dapat terlaksana sesuai rencana.
“Persiapan untuk Festival Budaya sebenarnya sudah dari satu bulan yang lalu. Meskipun memang terjadi banyak perubahan, lebih disederhanakan karena keterbatasan SDM (Sumber Daya Manusia) dan waktu, alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan semoga tetap memberikan dampak positif ke masyarakat, terutama anak-anak,” terang Arifa.
Rumah Nostalgia dan Kawan Baru: Polan
Proker akbar Tim KKN-T IDBU 9 bukan hanya Fesbud, loh, Kawan GNFI. Rangkaian revitalisasi permainan tradisional diperkuat dengan kehadiran Polan.
Polan adalah ruang bermain permainan tradisional yang dikemas dalam bentuk saung di selatan Lapangan Voli Embung Wonolopo. Di Polan, berbagai permainan tradisional, seperti egrang bambu, egrang batok kelapa, dakon, engklek, lompat karet, lompat bambu, gasing, bakiak, dan yoyo dapat dimainkan oleh semua orang.
Desain dari Polan dirancang langsung oleh anggota tim yang berasal dari Prodi Arsitektur dan pengerjaannya melibatkan perajin bambu setempat. Beberapa permainan tradisional yang ada juga diproduksi sendiri oleh mahasiswa KKN, loh!
Misalnya, egrang bambu dan lompat bambu memanfaatkan hutan bambu yang melimpah di Wonolopo, egrang batok kelapa menggunakan limbah tempurung kelapa, bakiak memadukan papan kayu dengan karet ban bekas, lompat karet dibuat dengan mengepang ratusan karet gelang, dan engklek yang diwujudkan dengan menggambar pola warna-warni di sebidang lahan kecil di tepi Polan.

Anak-anak bermain engklek di samping Polan | Foto: KKN-T IDBU 9
Paundra Arane Wong Sae, mahasiswa yang menjadi kapten tim untuk membangun Polan menceritakan keseruan di balik berdirinya pondok bermain ini. Selama kurang lebih tiga minggu, seluruh mahasiswa KKN-T IDBU 9 bergotong royong mendirikan Polan. Mulai dari membersihkan rumput ilalang, membuat pagar, gapura, saung, dan atap, finishing lapisan bambu dengan cat pelitur, hingga memasang lampu dan pernak-pernik hiasan.
“Reaksi anak-anak selama pembangunan Polan ini sangat baik, ya. Soalnya tiap sore tuh kalau (anak-anak) ke posko cowok pasti (bilang) ‘Mas, ayo ke Polan’ bukan ‘Mas, ayo ke lapangan voli’. Itu sih yang paling membekas,” kata Paundra antusias.
Permainan Tradisional, Wisata, dan Roda Pelestarian
Setelah rampung, Polan akhirnya diresmikan pada Sabtu (8/8/2026) WIB lalu. Ada banyak hal menarik di acara peresmian ini, loh, Kawan GNFI.
Acara dibuka dengan bunyi kentongan bambu. Seluruh panitia dan pemandu acara adalah mahasiswa KKN-T IDBU 9 itu sendiri. Di tengah acara, terdapat sebuah pertunjukan drama berisi demonstrasi permainan tradisional. Lengkap dengan narasi dan musik pendukung, mahasiswa dan anak-anak tampil apik memperagakan cara bermain bakiak, egrang bambu, egrang batok kelapa, dan engklek. Penampilan tersebut berhasil menghibur seluruh tamu undangan yang hadir.
Omong-omong soal tamu, peresmian Polan di Lapangan Voli Embung ini juga dihadiri berbagai orang penting, loh! Sebut saja perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Camat Mijen dan Lurah Wonolopo, serta perangkat RW. Tidak hanya itu, ada pula Ketua Pusat Pelayanan Kuliah Kerja Nyata (P2KKN) Undip dan perwakilan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-T IDBU 09 yang turut meramaikan suasana.
Sekretaris Disbudpar Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar, menyatakan sangat mendukung keberadaan Polan sebagai wadah edukasi permainan tradisional. Terlebih, menurut Samsul, sektor pariwisata saat ini merupakan salah satu sektor unggulan sehingga keberadaan Polan dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekitar dan wisatawan yang hendak ke Wonolopo.
Samsul juga menambahkan bahwa eksistensi Polan menjadi pengingat bahwa perawatan saung beserta permainan tradisional di dalamnya menjadi hal yang perlu diperhatikan.
“Nanti penyerahannya (perawatan) apakah ke wilayah atau dengan Bu Lurah, Bu Camat, atau Pak RW, kami Disbudpar akan ada selalu agar ini (Polan) dikembangkan bersama menjadi salah satu rujukan pariwisata dan akan kami promosikan sebagai Polan, Pojok Dolanan,” jelas Samsul, Sabtu (8/8/2026).
Pelaksanaan Fesbud dan peresmian Polan adalah upaya Tim KKN-T IDBU 9 untuk mengembalikan minat masyarakat terhadap permainan tradisional. Program Fesbud dan Polan diharapkan mampu memotivasi kelompok mana pun dan Kawan GNFI untuk ikut melestarikan budaya nusantara serta mengedukasi generasi mendatang terkait permainan tradisional.
Seperti tagline KKN-T IDBU 9: “Merawat Tradisi, Menguatkan Generasi.”
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


