krisis fokus di era digital mindfulness sebagai human literacy dalam menghadapi distraksi digital mahasiswa - News | Good News From Indonesia 2026

Krisis Fokus di Era Digital: Mindfulness sebagai Human Literacy Hadapi Distraksi Digital Mahasiswa

Krisis Fokus di Era Digital: Mindfulness sebagai Human Literacy Hadapi Distraksi Digital Mahasiswa
images info

Foto oleh Brett Jordan di Unsplash


Pernah berniat membuka laptop untuk menyelesaikan tugas, lalu beberapa menit kemudian justru berpindah ke WhatsApp, Instagram, atau video pendek?

Situasi semacam ini mungkin terasa sepele. Namun, bagi mahasiswa, gangguan kecil yang berulang dapat membuat proses belajar terpecah menjadi potongan-potongan pendek.

Perangkat digital memang sulit dipisahkan dari kehidupan kampus. Jurnal, kelas daring, diskusi kelompok, hingga penyusunan tugas berlangsung melalui layar yang sama dengan media sosial dan hiburan.

Inilah paradoks kehidupan akademik digital: alat yang membantu belajar juga menyediakan pintu distraksi hanya dalam satu klik.

Penelitian Pérez-Juárez, González-Ortega, dan Aguiar-Pérez yang terbit dalam Sustainability pada 2023 memperlihatkan persoalan tersebut. Dalam studi terhadap 105 mahasiswa pendidikan tinggi, peserta menilai distraksi digital berdampak pada aktivitas belajar mereka, terutama ketika mengikuti sesi laboratorium.

Temuan ini tidak berarti teknologi harus dijauhkan dari ruang belajar. Tantangannya justru terletak pada kemampuan mahasiswa menentukan ke mana perhatian diarahkan.

baca juga

Fokus Bukan Berarti Tidak Pernah Terdistraksi

Kawan GNFI, fokus sering dibayangkan sebagai kemampuan bertahan tanpa gangguan selama berjam-jam. Padahal, perhatian manusia secara alami dapat berpindah.

Persoalan muncul ketika perpindahan tersebut berlangsung otomatis dan terus berulang tanpa disadari.

Di sinilah mindfulness atau kesadaran penuh menjadi relevan. Mindfulness bukan sekadar meditasi atau usaha mengosongkan pikiran. Intinya adalah menyadari apa yang sedang terjadi pada pikiran, emosi, tubuh, dan lingkungan saat ini tanpa buru-buru memberikan respons.

Dalam konteks belajar digital, bentuknya bisa sangat sederhana. Seorang mahasiswa menyadari munculnya dorongan membuka media sosial, tetapi tidak harus langsung mengikuti dorongan tersebut. Ada jeda untuk bertanya: apakah ini memang perlu sekarang atau hanya kebiasaan?

Kemampuan menciptakan jeda itulah yang penting. Fokus bukan berarti pikiran tidak pernah terganggu, melainkan mampu menyadari ketika perhatian sudah bergeser dan kemudian mengarahkannya kembali pada aktivitas utama.

Mindfulness Punya Potensi, tetapi Bukan Obat Segala Masalah

Potensi mindfulness dalam membantu mahasiswa mengelola penggunaan smartphone telah diteliti. Liu dan rekan-rekannya dalam PLOS ONE pada 2022 melibatkan 44 mahasiswa yang dibagi ke kelompok mindfulness dan kelompok kontrol.

Kelompok mindfulness mengikuti satu sesi latihan selama 30 menit. Setelah intervensi, mereka menunjukkan peningkatan state mindfulness dan pengendalian diri serta penurunan problematicsmartphone use dibandingkan kelompok kontrol.

Hasil itu tetap perlu dibaca secara proporsional. Sampelnya relatif kecil dan intervensinya hanya berlangsung dalam satu sesi. Artinya, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa mindfulness dapat menyelesaikan seluruh persoalan distraksi digital.

Namun, ada pesan yang menarik: mengelola hubungan dengan smartphone tidak selalu harus dimulai dengan menjauhi teknologi. Menguatkan kesadaran terhadap perilaku dan kemampuan mengendalikan respons juga dapat menjadi bagian dari solusi.

Di Indonesia, pendekatan semacam ini mulai mendapat ruang. Universitas Negeri Surabaya melalui Subdirektorat Mitigasi Crisis Center pada 2025 menggelar pelatihan mindfulness dan self-love bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran.

Salah satu keterampilan yang diperkenalkan adalah kesadaran penuh dalam aktivitas sehari-hari untuk membantu mahasiswa mengelola tekanan serta menjaga kestabilan diri.

Kabar ini menunjukkan bahwa mindfulness tidak harus ditempatkan sebagai lawan teknologi. Dunia pendidikan dapat tetap memanfaatkan teknologi sekaligus membekali mahasiswa dengan kemampuan menggunakannya secara lebih sadar.

baca juga

Ketika Mindfulness jadi Human Literacy

Persoalan distraksi digital sebenarnya tidak hanya menyangkut produktivitas. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang menentukan arah perhatian kita—tujuan yang kita pilih sendiri atau setiap stimulus yang muncul dari layar?

Mahasiswa mungkin sangat terampil menggunakan aplikasi, mencari informasi, dan berpindah dari satu platform ke platform lain. Namun, kecakapan menggunakan teknologi belum tentu sama dengan kemampuan hidup secara sehat bersama teknologi.

Di sinilah human literacy menjadi penting. Manusia tetap membutuhkan kesadaran diri, refleksi, pengendalian diri, dan kemampuan menentukan pilihan agar tidak sekadar menjadi penerima pasif dari setiap stimulus digital.

Mindfulness memberi bentuk praktis pada kemampuan tersebut. Ketika mahasiswa menyadari rasa bosan saat membaca, kecemasan karena belum membalas pesan, atau keinginan membuka media sosial ketika tugas mulai terasa sulit, ia memiliki kesempatan untuk memilih respons daripada sekadar bereaksi.

Cara pandang ini juga sejalan dengan semangat Society 5.0 yang menempatkan perkembangan teknologi untuk mendukung kualitas kehidupan manusia.

Teknologi boleh semakin canggih, tetapi manusia tetap perlu memegang kendali terhadap tujuan dan keputusan yang diambil.

Mulai dari Kebiasaan Kecil

Mindfulness tidak harus dimulai dengan meditasi panjang. Dalam kegiatan belajar, mahasiswa dapat memulai dengan menentukan satu tujuan sebelum membuka perangkat.

Notifikasi yang tidak penting dapat dimatikan sementara. Satu aktivitas akademik dapat diselesaikan terlebih dahulu sebelum berpindah ke aktivitas lain.

Jeda beberapa detik sebelum membuka media sosial juga dapat digunakan untuk mengenali alasan di balik tindakan tersebut. Apakah memang ada kebutuhan, atau hanya ingin menghindari rasa bosan ketika mengerjakan tugas?

Mahasiswa juga dapat mengenali pemicu distraksinya sendiri. Sebagian orang membuka media sosial ketika bosan, sebagian ketika cemas tertinggal pesan, dan sebagian lainnya menjadikannya pelarian saat menghadapi pekerjaan yang terasa sulit. Mengenali pola tersebut sering kali lebih bermakna daripada hanya melihat total screen time.

Tentu, mindfulness bukan satu-satunya jawaban. Distraksi digital juga dipengaruhi desain platform, lingkungan belajar, kondisi psikologis, dan kebiasaan sehari-hari. Karena itu, tanggung jawab menjaga fokus tidak semestinya hanya dibebankan kepada mahasiswa.

baca juga

Kampus pun dapat ikut membangun budaya digital yang lebih sehat dan lingkungan belajar yang membantu mahasiswa menjaga perhatian.

Pada akhirnya, kehidupan mahasiswa akan semakin dekat dengan teknologi, bukan semakin jauh darinya. Tantangannya bukan memilih antara dunia digital dan kehidupan nyata, melainkan belajar menggunakan teknologi tanpa kehilangan kendali atas perhatian.

Mindfulness menawarkan langkah yang sederhana: hadir, menyadari, lalu memilih. Di tengah layar yang terus meminta perhatian, kemampuan menentukan apa yang benar-benar layak diperhatikan mungkin menjadi salah satu bentuk human literacy yang paling penting.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.