IPB University melalui CEO School Ekspedisi Patriot mengajak peserta turun lapang langsung untuk membekali teknis pengembangan komoditas unggulan sesuai dengan masing-masing wilayah.
Pembekalan yang diinisiasi oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship ini merupakan rangkaian persiapan pelaksanaan penugasan di lapangan. Program pelatihan dilaksanakan secara intensif untuk membekali peserta dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan selama melaksanakan pendampingan.
Melalui observasi, praktik, dan interaksi dengan objek pembelajaran di lapangan, peserta diharapkan mampu memahami materi secara lebih komprehensif serta meningkatkan keterampilan teknis dan kemampuan analisis dalam konteks nyata.
Pendekatan ini memungkinkan peserta melihat secara langsung penerapan inovasi, teknologi, dan praktik terbaik pada berbagai sektor agromaritim yang berkembang di wilayah masing-masing.
Perikanan Budidaya Ikan Air Tawar & Ekosistem Bisnis Perikanan
Beranjak ke sektor perikanan, peserta diajak memahami bagaimana sistem budidaya dapat dikelola secara efektif, mulai dari pengelolaan kolam, pemilihan benih, manajemen pakan, pemeliharaan kualitas air, hingga pengendalian kesehatan ikan. Didampingi Dr. Irzal Effendi, pembelajaran tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi juga mengajak peserta melihat perikanan sebagai salah satu komoditas unggulan yang berpotensi dikembangkan melalui penerapan teknologi dan prinsip budidaya berkelanjutan.
Pengembangan Sentra Peternakan Sapi Terintegrasi
Pengalaman lapangan berlanjut pada sektor peternakan melalui materi pengembangan sentra peternakan sapi terintegrasi. Di Kandangku Farm, peserta mengamati secara langsung praktik pemeliharaan ternak, mulai dari manajemen pakan dan kesehatan hingga penerapan sistem peternakan yang terintegrasi dengan pertanian.
Dr. Tekad Urip Pambudi Sujarnoko mendorong peserta untuk belajar langsung dari praktik di lapangan, termasuk mengenai breeding sapi berbasis pakan terfermentasi, pengembangan kawasan transmigrasi Kurik sebagai sentra peternakan, serta penerapan konsep pertanian agrosilvopastoral.
“Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan peternakan tidak berdiri sendiri, melainkan dapat dirancang sebagai bagian dari ekosistem usaha tani yang saling terhubung,” ujarnya.
Penguatan Ekosistem Padi
Pada komoditas padi, peserta diperkenalkan pada varietas unggul hasil inovasi IPB University sekaligus praktik budidaya yang disesuaikan dengan kondisi agroekosistem. Dr. Ir. Ahmad Junaedi, Lilis Sucahyo, dan Dr. Muhammad Syukur Sarfat, membagikan pembelajaran mengenai karakteristik varietas, teknik budidaya, hingga pengembangan produksi benih berkualitas.
Tak hanya berhenti pada budidaya, peserta juga melihat bagaimana inovasi dapat diterapkan dari hulu hingga hilir, melalui mekanisasi pengolahan dan hilirisasi, pendekatan biointensif Pengendalian Hama Terpadu (PHT), serta produksi benih padi berkualitas. Praktik tersebut menjadi contoh bagaimana inovasi varietas dan teknologi dapat dipadukan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat sistem pertanian di kawasan transmigrasi Papua Selatan.
Mengenal Peluang Pengembangan Sagu untuk Ketahanan Pangan Lokal
Sagu menjadi komoditas berikutnya yang dipelajari peserta, terutama dalam konteks ketahanan pangan dan pengembangan potensi lokal di wilayah timur Indonesia. Bersama para ahli di ini, Muhammad Iqbal Nurulhaq, Agief Julio Pratama, dan Prof. Dr. Bintoro, mengajak peserta mengenal karakteristik tanaman sagu, pengelolaan dan budidayanya, hingga peluang pengolahan hasil menjadi produk bernilai tambah.
Pembelajaran ini memperlihatkan bahwa sagu memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai komoditas strategis yang mendukung ketahanan pangan sekaligus membuka ruang bagi peningkatan nilai ekonomi masyarakat dengan tetap menjaga sumber daya lokal.
Hilirisasi dan Rantai Nilai Perkebunan Sawit dan Kelapa
Sektor perkebunan menjadi bagian penting dalam rangkaian pembelajaran, khususnya melalui materi hilirisasi dan rantai nilai sawit dan kelapa. Prof. Dr. Ma'mun dan Dr. Veralianta Br. Sebayang, mengajak peserta melihat pentingnya revitalisasi agroindustri dan penguatan rantai pasok sebagai bagian dari transformasi ekonomi petani.
Materi tidak hanya membahas komoditas dari sisi produksi, tetapi juga bagaimana sawit dan kelapa dapat dikembangkan melalui hilirisasi, diversifikasi produk, koperasi, dan kemitraan. Pendekatan ini menjadi penting untuk memastikan komoditas perkebunan tidak berhenti pada penjualan bahan baku, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi petani dan daerah.
Budidaya Pertanian Hortikultura dan Urban Farming
Sementara itu, pada bidang hortikultura, peserta mempelajari praktik budidaya pertanian dan urban farming yang adaptif terhadap keterbatasan lahan. Dr. Endang Gunawan dan Prof. Syukur membagikan pembelajaran mengenai pemanfaatan lahan secara efisien, penerapan teknologi sederhana, pemeliharaan tanaman, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
Pendekatan urban farming menunjukkan bahwa produksi pangan dapat dikembangkan di berbagai ruang, termasuk lahan terbatas di kawasan perkotaan. Selain mendukung ketahanan pangan, pengelolaan hortikultura yang tepat juga membuka peluang pengembangan usaha berbasis komoditas bernilai ekonomi.
Melalui rangkaian praktikum lapangan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga pengalaman nyata dalam mengelola berbagai komoditas unggulan berbasis potensi lokal.
Pembelajaran yang mengintegrasikan teori, praktik, dan inovasi ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam mengembangkan sektor agromaritim yang produktif, adaptif, dan berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


