Selama masa awal merdekanya Republik Indonesia dari belenggu penjajahan, negara ini tengah menghadapi pelbagai gejolak multidimensi, terutama mengenai sosiopolitik dan ekonomi.
Sebagaimana diinformasikan dari gramedia.com, era Orde Lama yang dilekatkan pada citra Soekarno-Hatta sebagai pemimpin yang visioner dan karismatik adalah momen krusial untuk membangun stabilitas pemerintahan yang kuat, menentukan kiblat perekonomian negara yang mandiri dan berdaulat, hingga mempertegas ideologi bangsa yang akan menjadi identitas diri.
Dalam konteks ini, komunisme dahulu pernah jadi satu bagian dari sejarah politik tanah air. Sebelum kini dianggap sebagai bahaya laten di Indonesia, komunisme bisa dibilang sukses mendulang banyak suara dari kaum proletar.
Didukung oleh fundamental ekonomi yang belum stabil serta peran feodalisme yang mengakar kuat, paham tentang komunis cenderung cepat diadaptasi sebagian besar masyarakat kala itu.
Temuan menarik seputar Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagaimana disitat dari tempo.co (30/9/2017) dipaparkan oleh Ngatiyar selaku aktivis LSM Mitra Wacana. Berdasarkan penelitian magisternya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Ngatiyar membeberkan bahwa faktor kepemimpinan desa mendukung wilayahnya guna meraih suara terbanyak. Dengan sampel penelitian sekitar tujuh desa dalam satu kecamatan, ditemukan sebesar 80% warga di desa tersebut menjadi simpatisan PKI.
Selain itu, faktor berupa bahasa simbolis tidak kalah penting dalam menghimpun suara rakyat. Ngatiyar pun meyakini sampai sekarang, simbol PKI dinilai paling menarik dari simbol yang dimiliki pelbagai partai politik tanah air.
Mayoritas warga beralasan bahwa simbol kerbau pada Partai Nasional Indonesia (PNI) menunjukkan borjuasi. Simbol dari Nahdlatul Ulama (NU) sendiri yang berupa tali jagat sulit dipahami masyarakat awam. Justru simbol palu dan arit lebih terasa “dekat tak bersekat”, terutama bagi warga desa yang setiap hari bekerja di sawah.
Menyelisik Asal-usul Sosoknya
Menurut historiografinya, kita tidak bisa mentah-mentah menampik bahwa dahulu sosiopolitik Indonesia cenderung berhaluan komunis. Ini tidak lepas dari pengaruh Soekarno yang tampak getol menerapkan aspek komunistis ke dalam negara.
Dalam konteks yang sinkronis, Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit merupakan sosok pemimpin PKI nan terpopuler di antara para petinggi komunis tanah air lainnya. Yang menjadikan citranya kontradiktif dengan kiprahnya di partai adalah karena latar belakang keluarganya yang disiplin dalam keislaman.
Nama aslinya sebelum ‘terkontaminasi’ komunisme yaitu Achmad Aidit. Ia banyak dikenal oleh orang-orang di kampungnya sebagai bocah alim, rajin beribadah, serta pandai mengaji. Bahkan, Aidit pun kerap dipercayai menjadi muazin semasa remaja di masjid kampungnya itu.
Lahir pada 30 Juli 1923 di Tanjung Pandan, Belitung, keluarga Aidit yang asli dari Sumatra Barat ini begitu terpandang walau berstatus sebagai pendatang. Ayahnya yang bernama Abdullah bin Ismail dikenal sebagai tokoh agama dan pelopor pendidikan Islam di Belitung yang sangat disegani masyarakat.
Ayah Aidit yang muslim taat ini diketahui pernah menggagas dan memimpin gerakan kepemudaan untuk menentang kolonialisme di Hindia Belanda. Pada tanggal 10 November 1937, Abdullah menjadi salah satu pendiri perhimpunan agama yang dinamai Nurul Islam. Hingga awal 1941, Nurul Islam memiliki 6 cabang dan 4 ranting di luar Kota Tanjung Pandan dengan anggota berjumlah 497 orang.
Secara tidak langsung, ini memperlihatkan bahwa kemampuan leadership sudah ada lintas generasi dalam keluarga Aidit, meskipun ideologi maupun tendensinya berbeda jauh. Sekadar informasi, Achmad Aidit masih terbilang punya darah bangsawan.
Ibunya yang bernama Ayu Mailan berasal dari keluarga ningrat. Ayah Mailan yang dikenal sebagai Ki Agus Haji Abdul Rahman adalah seorang haji sekaligus tuan tanah.
Sepak Terjang Aidit Menakhodai Komunisme: Awal dan Akhir
Sebagaimana dilansir dari tirto.id (2/9/2025), dalam “Seri Buku Tempo” dengan tajuk Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara (2010), disebut Achmad mengganti nama menjadi Dipa Nusantara dan telah mendapat persetujuan dari ayahnya.
Saat perantauannya di Jakarta, Aidit mulai mempelajari paham Marxisme yang ketika itu belum dikategorikan sebagai ajaran terlarang di Indonesia. Ia menapaki karier politik di asrama mahasiswa Menteng 31 yang identik sebagai markas aktivis pemuda “radikal” kala itu.
DN Aidit berproses bersama kaum muda revolusioner seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, Subadio Sastrotomo, dan lain-lain.
Sejarah mencatat bahwa Aidit turut terlibat dalam pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Kemudian, rumor menyebutkan ia berada di Vietnam Utara, sebelum muncul kembali menjelang Pemilu 1955—diduga untuk menghilangkan jejak dari kejaran aparat.
Dengan manuver politik yang gesit, Aidit mengambil alih kendali partai dari golongan tua macam Alimin dan Tan Ling Djie.
Dalam kepemimpinan Aidit, PKI secara cermat mampu menangkap keresahan masyarakat. Berbagai program partai seperti pemberian upah kerja yang manusiawi, pembagian tanah, jaminan kesehatan, pendidikan, hingga sarana rekreasi telah sukses membangun citra sebagai partai rakyat.
Dengan garis komando terpadu dari Central Comite (CC) sampai tingkat desa, program PKI nyaris selalu diminati warga. Ini dapat disaksikan sendiri melalui cara kerja awak media PKI yang mengadopsi gaya ‘militan’, secara spesifik membedakannya dengan corong partai yang lain.
Berkat program kerja dan agitasi propaganda media yang membumi, jaringan PKI berkembang pesat. Jangan heran apabila memasuki periode 1960, partai yang diketuai DN Aidit ini menjelma sebagai partai politik terkuat di Indonesia, bahkan level dunia.
Beragam versi menyebut jumlah massa PKI konsisten antara 3-5 juta anggota. Laman revolusioner.org (13/10/2015) merinci pelbagai organisasi massa afiliasi, seperti Pemuda Rakyat sebesar 1,5 juta anggota, SOBSI sebesar 3,8 juta dari total 7 juta buruh terorganisasi, Barisan Tani Indonesia sebesar 5 juta, hingga Gerwani sebesar 750 ribu.
Secara faktual, DN Aidit berhasil membangun jutaan konsentrasi massa, membuat PKI dianggap sebagai partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Uni Soviet dan Tiongkok.
Bersamaan dengan terjadinya Perang Dingin, kenyataan tersebut kian membikin Blok Barat ketar-ketir. Dalam konteks ini, Amerika Serikat (AS) berupaya meredam laju pertumbuhan komunisme di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
Dilansir dari tempo.co (2/10/2022), Hari Priyantono selaku pengamat militer dari Pro Patria memastikan terlibatnya CIA dalam G30S/PKI. Selain itu, dalam Arsip Keamanan Nasional AS, tercatat pihak Amerika memberikan bantuan ekonomi serta militer kepada rezim Orde Baru guna menumpas segala elemen komunisme di tanah air.
Di sisi keluarga besar DN Aidit, Ibarruri Putri Alam sebagai putri sulung mengaku ayahnya tidak tahu-menahu soal peristiwa pembunuhan perwira Angkatan Darat. Hal tersebut memunculkan pandangan baru bahwa Aidit justru ditelikung oleh pihak lain. Maka dari itulah, narasi bahwa DN Aidit merupakan tokoh kunci G30S/PKI masih menjadi misteri hingga kini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


