mengenal tosora bekas pusat kerajaan wajo yang kaya warisan bugis - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Tosora, Bekas Pusat Kerajaan Wajo yang Kaya Warisan Bugis

Mengenal Tosora, Bekas Pusat Kerajaan Wajo yang Kaya Warisan Bugis
images info

Timur angin @yusran darmawan


Kawan GNFI mungkin lebih mengenal Wajo lewat Danau Tempe, sutra, atau kuliner tradisionalnya. Namun, sekitar 19 kilometer dari Sengkang, ada sebuah desa yang menyimpan lapisan sejarah jauh lebih tua.

Namanya Tosora, kawasan yang pernah menjadi pusat Kerajaan Wajo sekaligus ruang pertemuan antara pemerintahan, Islam, arsitektur, dan pengetahuan Bugis.

Tosora berada di Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Saat ini, suasananya tampak seperti desa agraris yang tenang.

Akan tetapi, jejak masa lalu masih dapat ditemukan melalui reruntuhan Masjid Tua Tosora, kompleks makam, sisa benteng, dan sejumlah tapak yang berkaitan dengan pemerintahan Kerajaan Wajo.

Laman resmi Pemerintah Kabupaten Wajo mencatat Tosora sebagai tempat berlangsungnya perjanjian antara rakyat dan pemimpin adat yang kemudian menjadi bagian penting dalam pembentukan Kerajaan Wajo. Versi Boli menetapkan 1399 sebagai tahun pelantikan Latenri Bali sebagai Batara Wajo pertama di bawah pohon bajo di kawasan Wajo-Wajo, Tosora.

Dinukil dari catatan sejarah Pemerintah Kabupaten Wajo, perjanjian tersebut ditutup dengan kalimat, “Hanya Batara Langit di atas perjanjian kita, dan bumi di bawahnya.”

Ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan penguasa dan rakyat di Wajo dibangun melalui kesepakatan, bukan semata-mata garis keturunan. Pemerintah Kabupaten Wajo bahkan menggambarkan kerajaan ini sebagai kerajaan elektif atau demokrasi terbatas.

baca juga

Masjid Tua yang Menyimpan Ilmu dan Filosofi

Salah satu penanda terkuat Tosora adalah reruntuhan Masjid Tua Tosora. Sebagian besar bangunan memang tidak lagi berdiri utuh, tetapi mihrab, pondasi, sudut bangunan, dan jejak tiang masih dapat dibaca sebagai arsip arsitektur.

Penelitian Negara Mangkubumi K. yang terbit dalam Southeast Asian Mathematics Education Journal pada 2021 menemukan bahwa bangunan tersebut memuat konsep geometri. Denah masjid berbentuk persegi, mihrab tersusun dari bentuk persegi panjang dan setengah lingkaran, sementara ventilasi, sudut, garis, dan pondasinya dapat digunakan untuk menjelaskan konsep matematika secara kontekstual.

Masjid ini juga memuat filosofi sulapa eppa. Empat tiang utamanya dipahami sebagai gambaran kualitas hidup orang Bugis: panrita atau bijaksana dan jujur, warani atau berani, macca atau cerdas, serta sugi atau berkecukupan.

Dengan demikian, bangunan ibadah tersebut tidak hanya dirancang untuk fungsi ritual, tetapi juga menyimpan pelajaran tentang karakter.

Reruntuhan dinding batu bangunan Masjid Tua Tosora https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Moskee_te_Tosora,_KITLV_29608.tiff
info gambar

Reruntuhan dinding batu bangunan Masjid Tua Tosora https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Moskee_te_Tosora,_KITLV_29608.tiff


Jejak Islam yang Tumbuh Bersama Budaya

Tosora turut menjadi bagian penting dalam sejarah Islam di Wajo. Islam ditetapkan sebagai agama resmi Kerajaan Wajo pada 1610, ketika La Sangkuru Patau Mulajaji Sultan Abdurrahman memerintah.

Namun, ingatan masyarakat Tosora juga berkaitan erat dengan Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini, yang dikenal sebagai Syekh Tosora.

Kajian Kartini, Zaenal Abidin, dan Andi Arif Pamessangi pada 2023 menggambarkan pola dakwah Syekh Jamaluddin sebagai pendekatan yang kultural dan moderat. Nilai agama tidak hadir untuk menghapus budaya setempat, melainkan berinteraksi dengannya.

Jejaknya terlihat dalam pangngadereng, lempu’, getteng, ada tongeng, sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge’. Salah satu pappaseng yang dikutip dalam penelitian tersebut berbunyi sebagai berikut.

“Rebba sipatokkong, mali siparappe. Siru’i menre, tessirui’ no. Malilu sipakainge, mainge’pi naja.”

Secara bebas, pesan itu mengajak masyarakat untuk saling menegakkan ketika jatuh, saling menyelamatkan ketika hanyut, menarik ke atas tanpa menjatuhkan, dan mengingatkan ketika ada kekeliruan. Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi relevan untuk membaca kehidupan sosial hari ini.

baca juga

Tosora sebagai Ruang Belajar yang Hidup

Tosora tidak hanya menyimpan cerita kerajaan dan agama. Pengetahuan Bugis tentang alam juga hadir dalam tradisi Kutika, yaitu sistem pengetahuan mengenai waktu, arah, cuaca, pertanian, pelayaran, hingga pembangunan rumah.

Kajian Widyaningrum pada 2026 menjelaskan bahwa Kutika tidak cukup dipahami sebagai hitungan “hari baik” dan “hari buruk”. Naskah ini merekam cara masyarakat Bugis membaca tanda alam dan menempatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem.

Dalam praktik pembangunan rumah di Tosora, misalnya, orientasi bangunan mempertimbangkan arah angin, cahaya bulan, dan posisi lahan.

Lapisan-lapisan pengetahuan tersebut membuat Tosora lebih dari sekadar objek wisata sejarah. Tempat ini dapat menjadi ruang belajar lintas bidang: sejarah politik, arkeologi Islam, matematika, arsitektur, bahasa, hingga ekologi.

Lebih dari Reruntuhan

Pemerintah Kabupaten Wajo pernah menyatakan harapan agar Tosora berkembang sebagai destinasi wisata budaya dan tempat belajar sejarah. Gagasan itu penting, tetapi pengembangan kawasan bersejarah tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas atau memperbanyak kunjungan.

Yang perlu dijaga adalah keterhubungan antara situs, cerita, masyarakat, dan pengetahuan yang menghidupinya. Reruntuhan tanpa penjelasan akan terlihat seperti batu tua. Sebaliknya, ketika sejarahnya dirawat, setiap pondasi, mihrab, makam, dan pappaseng dapat membantu generasi baru memahami dari mana Wajo bertumbuh.

Bagi Kawan GNFI, Tosora memberi satu pelajaran penting: kota tua tidak selalu hadir dengan bangunan megah. Kadang-kadang, ia tinggal dalam tembok yang tak lagi utuh, kalimat perjanjian yang diwariskan, dan kebiasaan masyarakat yang terus menjaga ingatan bersama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.