sekolah film desa dan pentingnya pemuda menceritakan desanya sendiri - News | Good News From Indonesia 2026

"Sekolah Film Desa" dan Pentingnya Pemuda Menceritakan Desanya Sendiri

"Sekolah Film Desa" dan Pentingnya Pemuda Menceritakan Desanya Sendiri
images info

Tim Sekolah Film Desa pada sesi foto bersama peserta kegiatan | sumber: Dok. Pribadi Moch. Aldy / Sekolah Film Desa


Film tidak hanya tentang hiburan, tetapi juga dapat menjadi cara untuk melihat, memahami, dan menceritakan kehidupan di sekitar kita. Karena itu, ketika film dibawa ke desa, yang dipelajari sebenarnya bukan hanya bagaimana menggunakan kamera, merekam suara, atau menyunting gambar. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana pemuda melihat desanya sendiri dan menemukan cerita dari kehidupan yang mereka jalani sehari-hari.

Gagasan tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan Sekolah Film Desa Kelas Dasar 1 di Aula Kecamatan Cigombong, Sabtu (1/8/2026).

Program yang merupakan kolaborasi IPB University, Pemerintah Kecamatan Cigombong, DPK KNPI Kecamatan Cigombong, dan Kolektips Cinema Cigombong ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas pemuda dalam bidang perfilman sekaligus mendorong tumbuhnya ekosistem kreatif di desa.

Menurut saya, salah satu hal yang menarik dari Sekolah Film Desa adalah gagasan bahwa desa tidak seharusnya hanya menjadi tempat yang diceritakan oleh orang lain. Desa juga perlu memiliki kemampuan untuk memproduksi dan menyampaikan ceritanya sendiri.

Selama ini, banyak cerita tentang desa memang datang dari sudut pandang pihak luar. Orang dari luar datang, melihat kehidupan masyarakat, mengambil gambar, melakukan wawancara, lalu membawa cerita tersebut ke publik. Tidak ada yang salah dengan hal itu.

baca juga

Namun, akan jauh lebih menarik apabila masyarakat desa, terutama pemudanya, juga memiliki kemampuan untuk menentukan sendiri cerita apa yang ingin mereka sampaikan, bagaimana mereka ingin melihat desanya, dan persoalan apa yang menurut mereka penting untuk dibicarakan.

Di sinilah pemuda memiliki posisi yang penting.

Pemuda tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan teknologi digital. Mereka terbiasa membuat foto, video, menggunakan media sosial, dan mengonsumsi berbagai bentuk konten. Kemampuan tersebut sebenarnya dapat dikembangkan lebih jauh.

Pemuda desa tidak harus berhenti sebagai penonton dan konsumen konten. Mereka juga dapat menjadi produsen cerita, pengetahuan, dan karya dari lingkungannya sendiri.

Cerita itu sebenarnya ada di sekitar mereka.

Ada tokoh masyarakat yang menyimpan sejarah kampung. Ada kebudayaan yang mulai jarang dikenal generasi muda. Ada potensi ekonomi yang belum banyak diketahui. Ada persoalan lingkungan.

Ada perubahan kehidupan masyarakat. Ada berbagai persoalan sosial yang mungkin selama ini hanya menjadi pembicaraan sehari-hari tanpa pernah didokumentasikan.

Semua itu dapat menjadi cerita film.

Karena itu, belajar film di desa seharusnya tidak hanya berarti belajar membuat gambar yang bagus. Peserta juga perlu belajar bagaimana menemukan cerita, melakukan wawancara, memahami persoalan, dan menentukan sudut pandang.

Dalam pertemuan pertama Sekolah Film Desa, peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai storyboard, pengambilan gambar, perekaman suara, wawancara, penyuntingan, dan manajemen produksi. Namun, juga mulai bekerja dalam kelompok dengan pembagian peran sebagai sutradara, kamerawan, penulis naskah, pewawancara, dan editor.

baca juga

Menurut saya, bagian ini justru penting. Sebab membuat film adalah pekerjaan bersama.

Seorang sutradara harus belajar mendengarkan kamerawan. Penulis harus memahami kebutuhan produksi. Pewawancara harus mampu membangun komunikasi dengan narasumber.

Editor harus memahami maksud dari gambar dan suara yang telah direkam. Di dalam proses tersebut, peserta belajar berkomunikasi, membagi tanggung jawab, menyelesaikan perbedaan gagasan, dan bekerja bersama.

Dengan demikian, Sekolah Film Desa bukan hanya mengajarkan keterampilan teknis. Ia juga menjadi ruang bagi pemuda untuk belajar bekerja bersama dan membaca kehidupan di sekitarnya.

Hal lain yang menurut saya penting adalah keterlibatan komunitas film lokal. Kolektips Cinema Cigombong—yang diwakili Moch Aldy MA, Dandy Vieri, dan Agung Firmansyah—hadir mendampingi peserta dalam proses pengembangan gagasan, penyusunan cerita, pengambilan gambar, wawancara, hingga produksi audiovisual.

Pengalaman komunitas lokal tentu bernilai tersendiri karena proses belajar tidak hanya berasal dari teori, tetapi juga dari pengalaman membuat film di lingkungan sendiri.

Kolektips sendiri memiliki pengalaman dalam perfilman daerah, salah satunya melalui film Mulih ka Jati, Mulang ka Asal yang meraih Juara I Festival Film Kabupaten Bogor 2025.

Pengalaman tersebut menjadi modal untuk mendampingi peserta dalam melihat kehidupan masyarakat dan mengolahnya menjadi cerita audiovisual.

Namun, ada satu hal yang menurut saya perlu menjadi perhatian: Sekolah Film Desa jangan berhenti sebagai kegiatan pelatihan.

Pelatihan adalah awal. Setelah peserta mengetahui bagaimana membuat film, pertanyaan berikutnya adalah apakah mereka akan terus membuatnya.

Harapannya, peserta dapat membentuk kelompok produksi, memperluas jejaring, dan terus melahirkan film yang mengangkat kehidupan masyarakat Cigombong.

Dengan begitu, Sekolah Film Desa tidak hanya menghasilkan orang yang mampu menggunakan kamera, tetapi juga melahirkan pemuda yang memiliki kemampuan untuk menemukan dan mengolah cerita dari desanya sendiri.

baca juga

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat, kemampuan tersebut semakin penting.

Keterampilan sinematografi, fotografi, penyuntingan, dan produksi konten memang memiliki peluang di dunia kerja dan industri kreatif. Namun, seperti yang disampaikan Camat Cigombong, R.E. Irwan Somantri, S.STP., karya yang dihasilkan juga perlu membawa nilai, pengetahuan, dan manfaat bagi masyarakat. Film tidak cukup hanya menjadi tontonan, tetapi juga diharapkan dapat menjadi tuntunan.

Pada akhirnya, Sekolah Film Desa bukan hanya tentang bagaimana pemuda Cigombong belajar membuat film.

Lebih dari itu, program ini adalah upaya untuk mendorong pemuda agar lebih dekat dengan lingkungannya sendiri. Mereka belajar melihat kembali tokoh, kebudayaan, sejarah, potensi, dan persoalan yang ada di sekitar mereka.

Sebab sebuah desa tidak pernah kekurangan cerita.

Yang terkadang kurang adalah kesempatan untuk menceritakannya.

Dan ketika pemuda desa mulai memegang kamera, menentukan sudut pandang, dan menyampaikan cerita dari lingkungan mereka sendiri, desa tidak lagi hanya menjadi objek yang dilihat. Desa mulai menjadi subjek yang mampu berbicara melalui ceritanya sendiri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.