Menyambut peringatan Hari Pramuka yang diperingati pada tanggal 14 Agustus mendatang, Kawan GNFI tentu perlu mengenal sosok Robert Baden-Powell sebagai bapak Pramuka dunia agar momen perayaan itu tidak terasa sekadar momen lalu.
Sebelum berkembang seperti sekarang, gerakan Pramuka tadinya hanya difokuskan pada remaja dari rentang usia 11-18 tahun serta terbatas untuk laki-laki. Baru pada tahun 1910, program untuk golongan siaga, unit satuan karya, dan penegak/pandega mulai disusun, dan 2 tahun setelahnya organisasi kepramukaan wanita dibentuk.
Nah, jika ada Robert Baden-Powell sebagai Bapak Pandu Dunia, apakah kita punya Bapak Pramuka Indonesia? Bagi Kawan GNFI yang penasaran, artikel ini akan mengenalkan sosok Baden-Powell, menemani Kawan menggali sejarah Pramuka dunia, serta mengenalkan figur Bapak Pramuka Indonesia. Jadi, simak sampai habis, ya!
Mengenal Robert Baden-Powell, Si Bapak Pramuka Dunia

Foto Robert Baden-Powell si Bapak Pramuka Dunia Bersama Keluarga, Begini Sejarah Kepanduan Dunia | World Scouting
Menjawab rasa penasaran mengenai siapa sebenarnya nama Bapak Pramuka dunia ini, Lord Baden-Powell lahir pada tanggal 22 Februari 1857 dengan nama asli Robert Stephenson Smyth. Gelar Lord diperoleh B-P dari Raja George pada tahun 1929. Sementara Powell, diperoleh dari nama ayahnya.
Jurnal UII menyebut bahwa ayah Robert Baden-Powell adalah seorang profesor geometri di Universitas Oxford. Ia berpulang ketika Powell kecil usianya masih sangat muda.
Setelah wafatnya sang ayah, Ibu Baden-Powell menjadi sosok yang bertanggung jawab atas pembinaan wataknya. Ia juga aktif mempelajari keterampilan tangguh seperti berlayar, berenang, dan berkemah dari sang kakak.
Sejak belia, sosok Bapak Pramuka Dunia ini dikenal sebagai anak yang cerdas, gembira, suka bermain musik, bersandiwara, dan berolahraga, sehingga teman-temannya begitu menyukainya.
Bicara kehidupan pribadinya, ia menikah pada tahun 1912 dengan Olave St Clair Soames dan dari pernikahan tersebut mereka memiliki 3 anak. Robert sendiri menghembuskan napas terakhir pada tanggal 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya, Afrika.
Sebelum menjadi pionir kepanduan dunia, ia terhitung memiliki karier militer yang cemerlang. Pengalamannya bertugas di India sebagai pembantu letnan sangat mengasah instingnya, terbukti dari prestasinya dalam melacak jejak kuda yang hilang di puncak gunung dan keberhasilan melatih panca indera kepada Kimball O’Hara.
Powell dewasa juga pernah terkepung oleh bangsa Boer di kota Mafeking, Afrika Selatan, selama 127 hari dalam kondisi kekurangan persediaan makanan. Ia bahkan juga berpengalaman mengalahkan Kerajaan Zulu di Afrika dan mengambil kalung manik kayu milik Raja Dinizulu.
Pengalaman hidup dan militer ini kemudian dituangkan dalam buku karangannya yang berjudul Aids To Scouting. Buku ini ditulis agar para tentara Inggris bisa melakukan tugas penyelidikan dengan lebih lancar.
Di samping itu, pengalaman dan prestasi gemilang tersebut juga membuat seorang pemimpin Boys Brigade di Inggris bernama William Smyth meminta Baden-Powell untuk memberi latihan kepada pasukannya.
Dari situ, dikumpulkan 21 pemuda Boys Brigade dari beragam daerah Inggris untuk mengikuti perkemahan dan pelatihan selama 8 hari di Pulau Browns Sea pada tanggal 25 Juli 1907. Dari sumber yang sama sempat disebutkan bahwa kelompok yang menghadiri acara tersebut terdiri dari anak-anak muda Inggris yang pernah terlibat dalam aksi kekerasan dan kejahatan.
Sebagai pembanding, sumber lain yakni laman resmi World Scouting, menyebutkan anggota acara perkemahan tersebut hanya berjumlah 20 orang yang berasal dari beragam status ekonomi.
Meski begitu, cakupan output acara tersebut tetap sama. Hasil kegiatan tersebut ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul "Scouting for Boys" dan berhasil terjual hingga lebih dari 100 juta salinan serta diterjemahkan ke dalam 5 bahasa.
Nama buku tersebut kemudian diadopsi menjadi nama gerakan Pramuka dunia yang disebut “The Boy Scouts”. Dari nama buku hingga gerakannya, dapat Kawan lihat bagaimana mulanya gerakan Pramuka masih terbatas pada lingkup laki-laki.
Sejarah Pramuka Dunia, Bagaimana Asal Usulnya?

Sejarah Pramuka Dunia, Bagaimana Asal-Usulnya Bisa Sampai Indonesia | World Scouting
Dikutip dari jurnal UII, beberapa bulan pasca keberhasilan perkemahan pemuda di Pulau Browns Sea, Baden-Powell menuangkan pengalamannya secara khusus untuk acara latihan Pramuka yang dicetuskannya. Tepat pada awal tahun 1908, tulisan tersebut diterbitkan menjadi buku legendaris berjudul Scouting For Boys.
Buku ini menyebar dengan sangat cepat di seluruh penjuru Inggris dan meluas ke negara-negara lain, yang kemudian memicu berdirinya berbagai organisasi kepramukaan laki-laki.
Pada mulanya, gerakan yang sering disebut The Boy Scouts ini memang dirancang khusus untuk membina anak laki-laki. Namun, dua tahun kemudian gerakan ini menjadi kian inklusif.
Pada tahun 1912, berdirilah organisasi kepramukaan wanita yang diberi nama Girl Guides. Organisasi ini digagas dengan bantuan adik perempuannya yang bernama Agnes. Perjuangan intelektualnya ini kemudian diteruskan oleh istri Baden-Powell, Olave St Clair Soames.
Baden-Powell baru kemudian menulis petunjuk kursus Pembina Pramuka pada tahun 1914. Kegiatannya sendiri baru bisa dilaksanakan sejak tahun 1919. Sosok sahabatnya bernama W.F. de Bois Maclarren memberi dukungan dengan menghibahkan tanah di wilayah Chingford, yang dimanfaatkan untuk tempat pendidikan Pembina Pramuka dengan nama Gilwell Park.
Pada tahun 1920 terjadi 2 peristiwa penting dalam sejarah kepramukaan, yakni penyelenggaraan Jambore Dunia pertama dan pembentukan Dewan Internasional.
Jambore Dunia Pertama sendiri digelar di Olympia Hall, London. Terdapat anggota Pramuka dari 27 negara yang mengikuti kegiatan tersebut. Pada momen itu pula, akhirnya Baden-Powell menerima gelar sebagai Bapak Pramuka Sedunia atau disebut juga Bapak Pandu Dunia.
Sementara itu, Dewan Internasional dibentuk dengan susunan 9 anggota dan Biro Sekretariatnya bertempat di London, Inggris. Pada tahun 1958, Biro Kepramukaan Sedunia ini dipindahkan ke Ottawa, Kanada. Kemudian 10 tahun setelahnya atau pada 1 Mei 1968, lokasinya dipindahkan lagi ke Geneva, Swiss.
Apakah Ada Bapak Pramuka Indonesia?

Foto Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX | Kraton Jogja
Tentu saja ada. Bapak Pramuka Indonesia adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sultan kesembilan dari Keraton Jogja sekaligus mantan wakil presiden Indonesia.
Sedikit menyinggung soal sejarah Pramuka Indonesia, kepanduan sendiri mulai sampai ke Tanah Nusantara karena dibawa oleh orang-orang Belanda.
Setelahnya, organisasi kepramukaan Indonesia mulai terbentuk. Mulanya hanya Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO), tetapi kemudian organisasi berubah nama menjadi Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda.
Sejak itu, organisasi lain bermunculan. Hingga kemudian dilebur atas gagasan Soekarno dan Sultan Hamengku Buwono IX di dalam satu nama: Pramuka.
Hari Pramuka sendiri jatuh pada tanggal 14 Agustus. Tanggal ini sekaligus menjadi momen pertama Pramuka diperkenalkan ke publik dan Sultan Hamengku Buwono IX mendapat gelar Bapak Pramuka Indonesia.
Sebagai Bapak Pandu Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah menerima Bronze Wolf Award pada tahun 1973, sebuah penghargaan tertinggi kepramukaan yang dicetuskan Baden-Powell yang terinspirasi dari Silver Wolf milik Inggris.
Di samping Sultan, ada pula 3 nama orang Indonesia lain yang menerima penghargaan ini. Di antaranya: Dr. Abdul Azis Saleh tahun 1978, John Beng Kiat Liem tahun 1982, dan Lt Gen (Ret.) Mashudi pada tahun 1985.
Sekian artikel berjudul "Robert Baden-Powell, Bapak Pramuka Dunia yang Menginspirasi Gerakan Kepramukaan Global".
Semoga artikel ini memberi Kawan pemahaman serta kekaguman kepada sosok Bapak Pramuka Dunia dan Indonesia!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


