Tak kenal maka tak sayang—jika Kawan sudah mengenali Robert Baden-Powell sebagai bapak Pramuka Sedunia, rasanya tidak lengkap jika Kawan belum tahu siapa bapak Pramuka Indonesia. Ia adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Tidak hanya pernah menjadi Wakil Presiden Indonesia, semasa hidupnya, Sultan juga pernah berkontribusi untuk kemajuan gerakan Pramuka Indonesia. Ia bahkan pernah melelang mobilnya lho, Kawan!
Menjelang peringatan Hari Pramuka yang diperingati pada tanggal 14 Agustus mendatang, yuk cari tahu sejarah Pramuka Indonesia, mulai dari cerita asal-usul pembentukan organisasinya hingga informasi seputar sosok bapak Pramuka Indonesia yang pernah terima penghargaan Bronze Wolf Award. Simak sampai habis ya, Kawan!
Sejarah Pramuka di Indonesia, Bagaimana Kepanduan Berkembang di Nusantara?

Sejarah Kepanduan Indonesia, Siapa Bapak Pramuka Indonesia? | Kwartir Nasional
Dispora Jambi melalui jurnalnya menyebutkan bahwa gagasan kepanduan dunia awalnya dibawa oleh orang-orang Belanda ke Indonesia. Tak mengherankan, memang sejarah Pramuka dunia pada dasarnya diawali di Eropa sana.
Senada dengan itu, laman Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia berbagi bahwa gerakan pendidikan kepanduan Nusantara sudah mulai ada sejak zaman Hindia-Belanda. Tepatnya pada tahun 1912, dimulai latihan kelompok pandu di Jakarta. Kelompok itu kemudian berubah menjadi cabang Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO).
Pasca 2 tahun, cabang NPO ini menerima pengesahan sebagai organisasi bernama Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda.
Mulanya anggota NIPV didominasi oleh pandu-pandu berdarah Belanda, tetapi pada tahun 1916 kemudian berdiri organisasi kepanduan Javaansche Padvinders Organisatie yang anggotanya diisi oleh pandu-pandu Nusantara. Pencetusnya adalah Mangkunegara VII, pemimpin Keraton Solo. Dari sini terpantik beragam organisasi kepanduan bernuansa agama dan suku lainnya.
Perkembangan kepramukaan yang begitu baik menarik minat Bapak Pandu Dunia Robert Baden-Powell serta anak dan istrinya untuk berkunjung ke beberapa organisasi kepanduan di Batavia, Semarang, dan Surabaya pada awal Desember 1934.
Tak berhenti di situ, ternyata para anggota organisasi kepanduan Indonesia juga sampai bisa mengikuti Jambore Sedunia di Hungaria pada 1933 dan di Belanda pada tahun 1937. Bahkan Jambore di Belanda terasa lebih istimewa karena dihadiri oleh banyak delegasi dari berbagai kelompok Pandu Hindia-Belanda yang berasal dari banyak suku dan ras berbeda.
Di Nusantara, Jambore juga dilaksanakan, misalnya pada 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta digelar acara All Indonesian Jamboree atau “Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem.”
Organisasi kepanduan di Nusantara sempat tumbuh sangat pesat dan beragam pada kurun waktu 1950 hingga 1960. Sayangnya, keberadaan berbagai ragam organisasi tersebut dinilai tidak efektif karena jumlah anggota yang tidak sebanding dengan banyaknya organisasi yang terbentuk, serta perbedaan organisasi memantik perasaan golongan yang tinggi.
Agar Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo) tetap tangguh, akhirnya beragam organisasi itu dilebur menjadi satu di bawah nama Pramuka. Gagasan ini dicetuskan Presiden Soekarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu menjabat Pandu Agung.
Nama Pramuka diresmikan pada 9 Maret 1961 dan hari itu diperingati sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka.
Pada 20 Juli 1961, pernyataan peleburan diri dibuat oleh para wakil organisasi kepanduan Indonesia di Istana Olahraga Senayan. Dari situ, tanggal 20 Juli diperingati sebagai Hari Ikrar Gerakan Pramuka.
Setelah itu, pada 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat luas, ditandai dengan penyerahan Panji Gerakan Pramuka dari Presiden Soekarno kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pada momen itu, Sultan juga resmi menjadi Ketua pertama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia.
Dari situ kemudian Hari Pramuka diperingati setiap tanggal 14 Agustus dan Sultan Hamengku Buwono IX mendapat gelar Bapak Pramuka Indonesia.
Bapak Pramuka Indonesia Sultan Hamengku Buwono IX, Pernah Lelang Mobil Demi Pendidikan Kepanduan?

Foto Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX | Kraton Jogja
Seperti yang sudah disinggung, jika Bapak Pramuka sedunia adalah Robert Baden-Powell, Bapak Pramuka Indonesia adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Nama aslinya yakni Gusti Raden Mas Dorojatun dan dirinya merupakan putra kesembilan dari pasangan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dari istri kelimanya, Raden Ajeng Kustilah atau Kanjeng Ratu Alit.
Ia merupakan tokoh penting yang menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) pertama, sekaligus pilar utama yang menghidupkan napas kepanduan di bumi nusantara sesudah kemerdekaan. Dedikasi beliau melampaui sekadar kepemimpinan birokrasi semata.
Laman Dispora Karangasem menyebut bahwa Sri Sultan Hamengku Huwono IX menjabat sebagai Ketua Kwarnas selama empat periode berturut-turut, yakni pada masa bakti 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970 dan 1970-1974.
Sultan bahkan diceritakan sangat totalitas dalam mendukung pendidikan generasi muda melalui Pramuka ini. Pada September 1974, Kwartir Nasional tidak memiliki donatur dan perlu menggalang dana. Sultan membantu penggalangan dana dengan mencarinya dari berbagai kalangan pengusaha.
Bahkan, Sultan rela menyerahkan satu unit mobil sedan Holden Statesman keluaran tahun 1974 miliknya untuk dilelang, di mana seluruh hasil lelang tersebut langsung diserahkan kepada panitia untuk operasional kegiatan.
Pengabdian yang tulus ini nyatanya diakui dan diapresiasi secara global. Sri Sultan Hamengku Buwono IX dianugerahi Bronze Wolf Award pada tahun 1973, yang merupakan bentuk penghargaan tertinggi dari Komite Kepramukaan Sedunia atau World Scouting.
Penghargaan bergengsi ini sangatlah langka karena sampai hari ini hanya diberikan kepada empat ratus tokoh pergerakan Pramuka di seluruh dunia.
Hingga saat ini, tercatat hanya ada empat orang penerima Bronze Wolf Award yang berasal dari Indonesia, dengan Sultan HB IX sebagai penerima pertama yang berhasil mengharumkan nama bangsa di kancah gerakan Pramuka internasional.
Sekian artikel berjudul "Sultan Hamengku Buwono IX, Sosok Bapak Pramuka Indonesia yang Pernah Lelang Mobil Demi Kepanduan".
Semoga artikel ini memberi Kawan pemahaman serta kekaguman kepada sosok Bapak Pramuka Indonesia!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


