brigadir renita polwan indonesia yang lebih dulu raih penghargaan pbb lalu kini raih hoegeng awards 2026 - News | Good News From Indonesia 2026

Brigadir Renita, Polwan Indonesia yang Lebih Dulu Raih Penghargaan PBB Lalu Kini Raih Hoegeng Awards 2026

Brigadir Renita, Polwan Indonesia yang Lebih Dulu Raih Penghargaan PBB Lalu Kini Raih Hoegeng Awards 2026
images info

Brigadir Renita Rismayanti saat menerima penghargaan United Nations Woman Police Officer of the Year tahun 2023


Seorang polisi wanita Indonesia pernah membuat kagum jajaran PBB karena kemampuannya menata data. Namanya Brigadir Renita Rismayanti. Dia mengubah cara bekerja para personel keamanan di negara yang tengah dilanda konflik bersenjata.

Kemampuannya itu membuat Renita menjadi penerima penghargaan United Nations Woman Police Officer of the Year termuda yang tercatat dalam dalam sejarah.

Cerita ini makin lengkap akhir Juli 2026. Renita kembali naik panggung. Kali ini, ia mengantongi penghargaan di Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Inovatif. Malam penganugerahan digelar di The Tribrata Darmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (31/7/2026).

Siapa Brigadir Renita?

Renita, kelahiran Magelang 28 Oktober 1996, adalah anggota Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri. Pada 2023-2024, dia dikirim ke Republik Afrika Tengah sebagai bagian dari MINUSCA, singkatan dari United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic.

MINUSCA sendiri adalah misi penjaga perdamaian PBB yang beroperasi di negara itu sejak konflik bersenjata pecah pada 2012-2013 antara kelompok bersenjata Seleka dan Anti-Balaka. Situasi keamanannya jauh dari stabil.

"Saya diperkenalkan dengan negara yang masih banyak sekali terjadi konflik di sana. Jadi berbeda sekali dengan negara kita Indonesia," kata Renita, seperti dikutip dari detikcom.

Di sana, dia ditempatkan sebagai Crime Database Officer, semacam petugas yang bertugas mencatat dan mengelola seluruh data tindak pidana kriminal yang terjadi di wilayah misi.

Akar Inovasi adalah Ketika Semua Masih Dicatat Manual

Ketika tiba, Renita mendapati bahwa pendataan kasus kriminal masih dilakukan secara manual. Cara kerja seperti ini dinilai bukan cuma lambat, tapi juga rawan data hilang atau tidak akurat.

Lebih parah lagi, kepolisian lokal Afrika Tengah saat itu bahkan belum punya database kriminal sama sekali. Akibatnya, banyak pelaku kejahatan yang belum terdata dan masih bebas berkeliaran di tengah masyarakat.

Dari situ, dia mendapat tugas untuk merekam data secara digital dan menyambungkannya langsung ke markas UNPOL (United Nations Police).

Lahirnya UNPOL Case Management

Ide awal inovasi itu diilhami oleh gagasan atasannya.

"Chief Section saya mempunyai ide untuk mengotomatisasikan register tersebut ke platform yang sudah dimiliki UN," ujar Renita.

Platform bawaan PBB itu belum sempurna, sehingga tim membangun sistem baru bernama UNPOL Case Management.

Sederhananya, UNPOL Case Management adalah sistem basis data digital yang mencatat seluruh laporan kejahatan secara real time, lalu bisa langsung diolah menjadi statistik yang dibutuhkan pimpinan misi. Setelah sistem ini jalan, pekerjaan yang tadinya berhari-hari bisa selesai jauh lebih cepat.

Tidak berhenti di situ, Renita juga menangani proyek instalasi database untuk kepolisian lokal. Timnya kemudian membuat hot spot map, semacam peta digital yang menandai titik-titik rawan kejahatan atau kriminogen. Peta ini dipakai personel PBB lain untuk menyusun rute dan jadwal patroli.

Dipuji Atasan, Diakui Lintas Negara

Atasan langsung Renita di MINUSCA, Ipda Sugiandono yang saat itu menjabat Kepala Unit Kriminal Analisis Database, menyebut migrasi database itu sebagai terobosan nyata.

"Database analis kriminal adalah salah satu terobosan, menurut saya, karena pada waktu itu database tersebut di bawah sistem atau platformnya UN. Sehingga memberikan kontribusi yang besar baik terhadap misi maupun level strategis di kepolisian atau sektor keamanan lokal di Republik Afrika Tengah," kata Ipda Sugi.

Menariknya, unit kerja Renita bukan cuma diisi personel Indonesia. Ada juga polisi dari Senegal, Mali, hingga Jordania, menurut keterangan Ipda Sugi. Artinya, sistem yang dibangun Renita dipakai lintas negara dan lintas budaya kerja, bukan sekadar proyek lokal.

Ipda Sugi juga menjelaskan manfaat praktis sistem ini di lapangan.

"Ketika saya pengen mengetahui situasi suatu wilayah A, nah itu akan muncul di wilayah A ini tren kejahatannya seperti ini... jam-jam rawannya itu muncul otomatis," jelasnya. Dengan data itu, tim operasi bisa langsung menerjunkan patroli di jam dan lokasi yang tepat.

Penerima Termuda dalam Sejarah Penghargaan PBB

Atas kerja kerasnya, Renita meraih penghargaan UN Woman Police Officer of the Year 2023, menjadikannya Polwan Indonesia pertama yang menerima gelar tersebut. Ipda Sugi menegaskan persaingannya tidak main-main karena kandidat datang dari berbagai misi PBB di dunia, mulai dari Kongo, Siprus, sampai Sudan Selatan.

Duta Besar Kanada untuk Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan, Jacquilline O'Neill, menyebut Renita sebagai penerima termuda dalam sejarah penghargaan itu.

"Sebagai penerima termuda dalam sejarah penghargaan ini, Anda tanpa diragukan telah menginspirasi banyak perempuan, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia," tulis O'Neill dalam apresiasi tertulisnya.

O'Neill bahkan sempat mengunjungi Police Peacekeeping Center Polri di Indonesia dan mengaku terkesan dengan dedikasi para Polwan yang ditemuinya di sana.

Momen di Depan Kapolri: Ingin Sekolah Inspektur

Kembali ke panggung Hoegeng Awards 2026, ada momen personal yang terekam. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bertanya langsung kepada Renita soal permintaan pribadinya setelah menang kategori Polisi Inovatif.

"Siap terima kasih jenderal apabila diperkenankan saya berminat untuk mengikuti sekolah inspektur polisi," jawab Renita.

Perjalanan Renita menggambarkan sesuatu yang lebih besar dari satu penghargaan. Ini soal bagaimana keahlian teknis pengelolaan data bisa berdampak nyata pada keselamatan warga sipil di negara konflik, termasuk kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.

Kiprahnya juga jadi bagian dari agenda global PBB soal Women, Peace, and Security, yang mendorong keterlibatan lebih banyak perempuan dalam misi penjaga perdamaian dunia. Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo menyebut Polri akan terus mendukung personel yang berprestasi dan mendorong inovasi di berbagai bidang tugas.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.