Jika Kawan GNFI menebak Kuala Lumpur hanya ada di Malaysia, maka Kawan salah besar. Indonesia ternyata juga punya sebuah daerah yang dinamakan Kuala Lumpur.
Di Malaysia, Kuala Lumpur merupakan ibu kota negara. Sementara itu, di Indonesia, tepatnya di Gorontalo, Kuala Lumpur adalah sebuah wilayah administratif setingkat desa.
Desa Kuala Lumpur terletak di Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boleamo, Gorontalo. Desa ini memiliki total luas sekitar 450 hektare.
Kira-kira, kenapa desa tersebut dinamakan dengan Kuala Lumpur? Apakah ada hubungannya dengan Kuala Lumpur di Malaysia?
Kenapa Dinamakan Desa Kuala Lumpur?
Disadur dari situs resmi Desa Kuala Lumpur, penamaan desa ini bisa dibilang cukup unik karena berkaitan dengan aktivitas ekonomi di masa lalu. Dulu, sebelum menjadi desa, wilayah ini dikenal sebagai jalur utama kendaraan operasional milik Perusahaan Rajawali.
Perusahaan ini dulunya mengelola lahan tebu di kawasan sekitar. Kendaraan berat milik perusahaan sering melewati jalur itu.
Jalur itu sangat berlumpur, terutama saat musim hujan. Saking lembeknya tanah di kawasan sekitar yang penuh dengan lumpur, sopir dan warga sekitar akhirnya menjulukinya “Jalan Kuala Lumpur”. Nama ini juga merujuk pada Kuala Lumpur di Malaysia yang kala itu sering diasosiasikan dengan modernitas, tapi sering terjadi banjir.
Sebagai informasi, nama “Kuala Lumpur” yang kini menjadi ibu kota Malaysia juga diberikan karena dahulu kota ini berada di muara sungai yang berlumpur, tepatnya di titik pertemuan antara Sungai Klang dan Sungai Gombak.
Dalam bahasa Melayu, “kuala” bermakna muara atau tempat bertemunya dua sungai. Sementara itu, “lumpur” merujuk pada tanah basah.
Wilayah Kuala Lumpur di Malaysia awalnya dibuka tahun 1850-an saat penambang Timah tradisional membuka tambang di sekitar daerah Ampang. Lokasinya yang dekat dengan sungai menjadikannya pos yang strategis dan penting. Seiring berjalannya waktu, Kuala Lumpur terus berkembang dan menjadi ibu kota Malaysia.
Sejarah Desa Kuala Lumpur
Desa Kuala Lumpur baru berdiri pada 6 Januari 2003. Desa ini merupakan hasil dari kebijakan pemekaran wilayah administratif desa di Kabupaten Boalemo. Latar belakang pemekaran itu adalah agar masyarakat bisa mendapatkan pelayanan pemerintahan yang lebih dekat, efektif, dan efisien.
Sebelum dimekarkan, Desa Kuala Lumpur adalah bagian dari Desa Molombuahe. Desa ini memiliki beberapa dusun, termasuk Dusun Palawija dan Dusun Eling. Dua dusun inilah yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Desa Kuala Lumpur.
Jauh sebelum 2003, masyarakat Dusun Palawija sudah menyuarakan agar dusun mereka dipisah dari desa induk. Hal ini disebabkan karena mereka ingin membentuk pemerintahan desa yang lebih dekat dan responsif terhadap kebutuhan lokal. Tak hanya itu, jarak Dusun Eling dan pusat pemerintahan yang mencapai 2 km juga menjadi pertimbangan utama.
Walhasil, ada beberapa tokoh yang berupaya keras untuk mewujudkan hal tersebut. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya pemekaran disetujui.
Tepat pada 6 Januari 2003, Dusun Palawija, Dusun Eling, Dusun Helumo, Dusun Musyawarah, dan Dusun Ayuhulawa resmi dijadikan satu desa definitif yang diberi nama Desa Kuala Lumpur.
Uniknya, awalnya ada beberapa pilihan nama lain yang akan dipakai untuk nama desa ini, yakni Desa Molombuahe Utara dan Desa Lihepi. Namun, setelah melalui musyawarah yang panjang, nama “Kuala Lumpur” dipilih karena dianggap memiliki alasan historis dan daya ingat yang kuat di kalangan masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


