jangan jangan rahasia indonesia bukan toleransi tapi rasa memiliki - News | Good News From Indonesia 2026

Jangan-Jangan Rahasia Indonesia Bukan Toleransi, tapi Rasa Memiliki?

Jangan-Jangan Rahasia Indonesia Bukan Toleransi, tapi Rasa Memiliki?
images info

Foto: Wikimedia Commons/CEphoto, Uwe Aranas


Tidak banyak negara di dunia yang mayoritas penduduknya menganut satu agama, tetapi begitu bangga terhadap peninggalan peradaban yang lahir dari agama-agama lain. Indonesia adalah salah satunya.

Misalnya, ketika berbicara tentang Borobudur, Prambanan, arca-arca Buddha, arca-arca Hindu, atau kisah Ramayana, kebanyakan dari kita tidak merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang asing. Padahal jika dilihat dari identitas keagamaan saat ini, mayoritas masyarakat Indonesia bukanlah penganut agama yang melahirkan karya-karya tersebut.

Saya sendiri seorang Muslim. Namun setiap kali mengunjungi museum dan melihat arca-arca kuno, yang muncul bukanlah perasaan berjarak. Yang muncul justru kekaguman. Saya membayangkan bagaimana para pemahat berabad-abad lalu mampu menciptakan karya yang begitu rumit dan indah yang mungkin hanya dengan alat-alat sederhana. Ketika berkunjung ke Prambanan, saya tidak merasa sedang melihat peninggalan milik orang lain. Saya merasa sedang melihat salah satu puncak pencapaian peradaban di tanah yang saya sebut rumah dan saya yakin saya tidak sendirian.

Setiap tahun jutaan orang Indonesia mengunjungi Borobudur dan Prambanan. Mereka datang dari berbagai agama dan latar belakang. Ada yang datang untuk belajar sejarah, ada yang ingin menikmati arsitekturnya, ada yang sekadar berjalan-jalan bersama keluarga, study tour, dan ada pula yang ingin merasakan suasana yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Lihat saja Prambanan Jazz Festival. Puluhan ribu orang datang untuk menikmati musik dengan latar candi yang telah berdiri lebih dari seribu tahun. Bahkan pada Prambanan Jazz Festival 2026, jumlah pengunjung mencapai sekitar 85 ribu orang. Sulit membayangkan antusiasme sebesar itu jika masyarakat memandang Prambanan sebagai simbol yang jauh dari kehidupan mereka. Yang terlihat justru sebaliknya. Candi itu telah menjadi ruang bersama yang dinikmati siapa saja.

baca juga

Hal yang sama juga terlihat pada Sendratari Ramayana.

Sampai hari ini pertunjukan Ramayana masih terus dipentaskan dan tetap memiliki penontonnya. Dari kawasan Candi Prambanan, di Purawisata Kota Yogyakarta, bahkan di saat-saat tertentu dipentaskan juga di Lampung Timur, tempat kelahiran saya. Yang lebih menarik lagi, banyak pelakonnya adalah Muslim. Banyak penontonnya juga Muslim. Mereka menghafal jalan cerita Rama, Sinta, Hanoman, dan Rahwana. Mereka menikmati pertunjukannya, mengagumi koreografinya, dan terhanyut dalam kisahnya.

Tidak ada yang merasa identitas agamanya terancam karena menyaksikan Ramayana. Mungkin karena dalam benak kita, Ramayana telah menjadi bagian dari budaya Indonesia itu sendiri. Telah diceritakan turun temurun dari Kakek Nenek kita.

Pertanyaan muncul di benak saya. Apakah Indonesia berhasil menjaga warisan Hindu dan Buddha karena toleransi? Sepertinya bukan. Saya tidak menolak pentingnya toleransi. Namun jangan-jangan toleransi bukanlah penjelasan utamanya.

Sebab toleransi biasanya mengandung sedikit jarak. Kita menghormati sesuatu karena itu milik orang lain dan kita memilih untuk menghargainya. Sementara hubungan masyarakat Indonesia dengan Borobudur, Prambanan, arca-arca kuno, dan kisah Ramayana terasa jauh lebih dekat daripada itu.

Kita tidak hanya menghormatinya. Kita menikmatinya, mengunjunginya, membanggakannya, bahkan menjadikannya simbol Indonesia di mata dunia. Itu terasa lebih dekat dengan rasa memiliki daripada sekadar toleransi.

(Preview akan muncul di halaman artikel)

Belum lama ini timeline Instagram saya dihujani kabar mengenai kerja sama Indonesia dan India dalam upaya restorasi kawasan Prambanan. Sebagai masyarakat yang beberapa kali mengunjungi Prambanan, saya merasa antusias membayangkan apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan. Bayangkan jika lima hingga sepuluh tahun mendatang semakin banyak candi-candi kecil di kawasan Prambanan berhasil direstorasi dan kembali berdiri utuh. Saya benar-benar tidak sabar untuk menyaksikannya secara langsung.

Perasaan antusias seperti itu rasanya sulit dijelaskan jika kita hanya menggunakan kata toleransi. Kita cenderung tidak bersemangat menunggu restorasi sesuatu yang kita anggap milik orang lain. Kita bersemangat karena merasa itu juga milik kita.

baca juga

Beberapa waktu lalu, saat Perdana Menteri India Narendra Modi berkunjung ke Prambanan. Banyak media India yang menyoroti satu hal yang bagi kita mungkin terasa biasa. Mereka kagum melihat bagaimana sebuah negara dengan mayoritas penduduk Muslim tetap merawat candi Hindu terbesar di Indonesia dan terus menghidupkan kisah Ramayana melalui berbagai pertunjukan budaya.

Bahkan tidak sedikit netizen India yang kagum atas fakta bahwa sejak 1961 sampai hari ini kisah Ramayana terus dipentaskan di Indonesia. Bagi kita mungkin itu hal yang lumrah. Namun justru karena terlalu lumrah, kita sering lupa betapa uniknya fenomena tersebut.

Mungkin rahasia Indonesia memang bukan sekadar toleransi. Mungkin rahasia Indonesia adalah kemampuan untuk menganggap warisan masa lalu sebagai bagian dari diri kita sendiri, bahkan ketika keyakinan yang melahirkannya sudah tidak lagi menjadi keyakinan mayoritas masyarakat.

Kita tidak harus memeluk agama yang sama dengan para pembangun Borobudur untuk bangga terhadap Borobudur. Kita tidak harus menjadi Hindu untuk mengagumi Prambanan. Kita tidak harus mempercayai kisah Ramayana sebagai ajaran agama untuk menikmati keindahan ceritanya. Karena yang kita warisi bukan hanya agama-agama yang pernah hadir di Nusantara. Kita juga mewarisi peradaban yang leluhur kita tinggalkan.

Dan mungkin itulah sebabnya ketika melihat Borobudur, Prambanan, arca-arca kuno, atau pertunjukan Ramayana, banyak orang Indonesia tidak merasa sedang melihat milik orang lain. Kita merasa sedang melihat sebagian dari kisah kita sendiri.

Lalu, pertanyaan yang muncul selanjutnya di benak saya adalah, jika rasa memiliki mampu membuat jutaan orang Indonesia mencintai Borobudur, Prambanan, arca-arca kuno, dan kisah Ramayana yang lahir dari tradisi yang berbeda dengan identitas mayoritas masyarakat saat ini, bisakah semangat yang sama kita bawa ke ruang-ruang lain dalam kehidupan sehari-hari?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

VF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.