bukan sekadar konten cara pemuda selaawi 07 menjadikan media sosial sebagai panggung cerita desa - News | Good News From Indonesia 2026

Cara Pemuda Selaawi 07 Jadikan Media Sosial sebagai Panggung Cerita Desa

Cara Pemuda Selaawi 07 Jadikan Media Sosial sebagai Panggung Cerita Desa
images info

Para pemeran dalam salah satu adegan konten video | Sumber: Instagram Pemuda Selaawi 07


Di tengah derasnya arus konten digital yang didominasi hiburan instan, sekelompok anak muda di Kampung Selaawi, Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, memilih mengambil jalan berbeda.

Mereka membangun ruang berkarya melalui media visual dengan menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ruang kreatif itu dikenal melalui komunitas Pemuda Selaawi 07, sebuah kelompok yang menjadikan kamera bukan sekadar alat dokumentasi, melainkan medium untuk menyampaikan pesan sosial.

Melalui akun media sosial mereka, berbagai video pendek diproduksi dengan mengangkat realitas kehidupan desa. Ceritanya sederhana, tetapi penuh makna: tentang persahabatan, kepedulian terhadap sesama, kehidupan keluarga, hingga dinamika sosial yang sering terjadi di lingkungan sekitar.

Alih-alih mengejar sensasi, mereka memilih menghadirkan kisah yang mampu mengajak penonton merenung sekaligus merasa dekat dengan cerita yang ditampilkan.

baca juga

Para pemuda Selaawi 07 pada saat proses syuting pengambilan video konten | sumber: Instagram Pemuda Selaawi 07 /@pemuda_selaawi07
info gambar

Para pemuda Selaawi 07 pada saat proses syuting pengambilan video konten | sumber: Instagram Pemuda Selaawi 07 /@pemuda_selaawi07


Di balik layar, terdapat sosok Taovik Rian Hidayat, yang berperan sebagai kameramen sekaligus penulis naskah. Baginya, setiap cerita yang lahir dari kampung memiliki nilai yang layak diabadikan.

Melalui proses penulisan skenario, ia mencoba menerjemahkan berbagai fenomena sosial menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki pesan yang dapat dipetik masyarakat.

Dalam proses produksinya, Taovik tidak bekerja sendiri. Ia didampingi oleh Nandar Septiandi, yang turut berkontribusi dalam proses kreatif maupun produksi di lapangan. Kolaborasi keduanya menjadi fondasi lahirnya berbagai karya Pemuda Selaawi 07.

Dengan peralatan yang sederhana dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai lokasi syuting, mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya yang berkualitas.

Dedikasi tersebut bukan tanpa hasil. Pada Festival Film Kabupaten Bogor 2025, mereka turut membawa nama Kecamatan Cigombong meraih Juara 1 melalui karya film yang berhasil mendapat apresiasi dewan juri.

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa talenta kreatif dari desa mampu bersaing di tingkat kabupaten, sekaligus mematahkan anggapan bahwa karya berkualitas hanya lahir dari kota-kota besar.

Namun, pencapaian tersebut bukan menjadi garis akhir. Bagi Taovik, film hanyalah pintu masuk untuk membangun sesuatu yang lebih besar. Ia mencoba mencari jalan baru guna membentuk ekosistem kreatif di wilayah desa maupun kampung.

Harapannya, semakin banyak pemuda yang berani belajar menulis naskah, menjadi kameramen, editor, aktor, hingga kreator konten yang mampu mengangkat potensi daerahnya sendiri.

baca juga

Taovik Rian Hidayat pada saat memegang piala dalam Festival Film Kabupaten Bogor | sumber: Instagram @aksarasenja
info gambar

Taovik Rian Hidayat pada saat memegang piala dalam Festival Film Kabupaten Bogor | sumber: Instagram @aksarasenja


Gagasan ini sejalan dengan perkembangan ekonomi kreatif Indonesia yang semakin menempatkan kreativitas sebagai modal utama pembangunan.

Ketika pemuda desa memiliki ruang untuk berekspresi, mereka tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menciptakan peluang kolaborasi dengan UMKM, pemerintah desa, komunitas seni, hingga sektor pariwisata berbasis budaya lokal.

Menariknya, seluruh proses tersebut tumbuh secara organik dari semangat gotong royong. Para pemain berasal dari warga sekitar, lokasi syuting memanfaatkan sudut-sudut Kampung Selaawi, sementara cerita yang diangkat pun lahir dari pengalaman masyarakat itu sendiri.

Pendekatan inilah yang membuat setiap video terasa autentik dan memiliki kedekatan emosional dengan penontonnya.

Fenomena Pemuda Selaawi 07 menunjukkan bahwa desa bukan lagi sekadar objek cerita, melainkan dapat menjadi pusat lahirnya kreativitas baru.

Dari gang-gang kecil di Kampung Selaawi, lahir karya yang mampu membawa nama Cigombong ke panggung festival film sekaligus menginspirasi pemuda lain untuk berani berkarya.

Di era digital saat ini, membangun ekosistem kreatif tidak selalu membutuhkan studio besar atau peralatan mahal. Yang jauh lebih penting adalah keberanian untuk memulai, kemauan untuk belajar, dan konsistensi dalam menghasilkan karya. Nilai-nilai itulah yang terus dijaga oleh Taovik Rian Hidayat, Nandar Septiandi, dan seluruh anggota Pemuda Selaawi 07.

Barangkali, dari sebuah kampung di kaki Gunung Salak ini, akan lahir lebih banyak sineas muda yang mampu membawa cerita-cerita lokal menuju panggung yang lebih luas. Karena sejatinya, setiap desa menyimpan kisah. Yang dibutuhkan hanyalah mereka yang bersedia merekam, menuliskannya, lalu membagikannya kepada dunia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.