menyelami riksa wisesa cara seru belgi alhuda ajak anak muda bogor akrab dengan museum pajajaran - News | Good News From Indonesia 2026

Menyelami 'Riksa Wisesa': Cara Seru Belgi Alhuda Ajak Anak Muda Bogor Akrab dengan Museum Pajajaran

Menyelami 'Riksa Wisesa': Cara Seru Belgi Alhuda Ajak Anak Muda Bogor Akrab dengan Museum Pajajaran
images info

Belgi Alhuda pada saat berfoto di Museum Pajajaran | sumber: Dok. Pribadi Belgi Alhuda


Pernahkah kamu membayangkan museum sebagai tempat yang sunyi, berdebu, penuh aura mistis, dan membosankan?

Stigma kuno itu seketika runtuh saat kita melihat pergerakan anak-anak muda di Bogor belakangan ini. Di balik layar, ada sosok Belgi Alhuda, seorang pemuda yang gencar menularkan virus cinta budaya dengan cara yang sangat segar, santai, dan kekinian.

Langkah nyatanya terlihat jelas saat mengajak berbagai komunitas dan masyarakat lokal untuk melihat jejak sejarah dan peradaban masa kerajaan Sunda Pajajaran: Kuasa, Pusaka, dan Ajaran Sunda di Museum Pajajaran Bogor.

Kegiatan jelajah budaya yang informatif ini sekaligus menjadi pemantik semangat menyambut ajang Lomba Konten Museum dan Cagar Budaya 2026 yang sedang naik daun.

Suasana ruang pameran utama siang itu terasa sangat hidup dan berbeda dari biasanya. Alih-alih hanya berjalan cepat melewati lemari display, para pengunjung yang didominasi oleh generasi Z dan milenial tampak betah berdiri berlama-lama. Mengenakan pakaian kasual dengan sentuhan kain etnik, mereka tampak fokus mengamati barisan senjata tradisional Tosan Aji yang tertata rapi di dalam etalase kaca yang diterangi lampu sorot minimalis.

Di sinilah peran Belgi masuk; dengan gaya komunikasinya yang santai dan jauh dari kesan menggurui, ia mengajak peserta membedah anatomi, lekukan, hingga makna filosofis mendalam di balik sebilah keris, kudi, dan tombak peninggalan masa lampau.

Di tangan Belgi, sejarah tidak lagi terasa seperti hafalan teks buku sekolah yang kaku, melainkan sebuah cerita petualangan masa lalu yang kembali bernyawa.

"Museum itu sebenarnya adalah ruang cerita yang punya jiwa. Kalau kita mengemasnya dengan cara yang asyik, anak muda pasti akan datang dengan sendirinya," ujar Belgi di sela-sela kegiatannya.

baca juga

Pendekatan narasi visual dan storytelling inilah yang menjadi kunci sukses utama dari gerakannya. Kunjungan budaya dirancang mengalir begitu saja tanpa sekat formalitas yang kaku. Setelah menyimak penjelasan informatif mengenai ragam benda pusaka penanda kekuasaan Sunda, para pengunjung museum ini dibebaskan untuk berdiskusi, bertukar pikiran secara kasual, hingga berburu dokumentasi visual yang estetis di sudut-sudut museum.

Kombinasi unik antara edukasi sejarah Kerajaan Pajajaran dan tren pembuatan konten kreatif digital terbukti ampuh menarik minat anak muda yang awalnya merasa asing dengan dunia pelestarian cagar budaya.

Dampak positif dari gerakan yang konsisten ini kini mulai meluas di Kota Hujan. Menghubungkan kenyamanan fasilitas modern yang ada di Museum Pajajaran Bogor dengan kesakralan situs Prasasti Batutulis yang berada di dekatnya memberikan sebuah pengalaman literasi sejarah yang utuh bagi masyarakat umum.

Rasa kepemilikan dan kebanggaan terhadap identitas lokal pun tumbuh secara organik di dalam sanubari para pengunjung yang hadir. Ketika ruang-ruang pameran museum mulai ramai oleh langkah kaki generasi muda yang antusias, kesadaran kolektif untuk ikut menjaga, merawat, dan menghormati situs-situs bersejarah dari ancaman kerusakan pun otomatis ikut terbangun dengan sendirinya.

baca juga

Langkah konkret yang digerakkan oleh Belgi Alhuda ini menjadi bukti nyata bahwa merawat kebudayaan adalah sebuah tugas komunal, bukan cuma urusan para arkeolog, sejarawan, atau pihak pemerintah semata. Di era digital yang bergerak serba cepat dan penuh disrupsi ini, menengok kembali akar budaya adalah cara terbaik agar kita tidak kehilangan arah dan jati diri sebagai sebuah bangsa.

Melalui video yang diambil oleh kamera ponsel, pembuatan konten kreatif yang informatif, dan diskusi santai di depan etalase museum, Belgi bersama generasi muda Bogor sedang menulis ulang cara mencintai sejarah mereka sendiri, sebuah upaya estetis untuk memastikan bahwa warisan luhur Tatar Sunda akan tetap abadi, relevan, dan terus menginspirasi zaman yang terus berganti.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.