Sadarkah bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri? Ya, selalu ada sesuatu yang melekat di tubuh. Setiap hari, tanpa banyak kata, ia mengikuti ke mana arah langkah membawanya. Ia adalah kain.
Pada dasarnya, kain bukan sekadar bahan. Ia merupakan saksi hidup manusia dari lahir hingga berbaring di peristirahatan terakhir.
Sendiri tak berarti bersama baru perkasa, sebuah kutipan yang menggambarkan semangat peserta Jahita di Kampung Sorowajan, Yogyakarta. Berkumpul saat matahari tepat berada di atas kepala, sambil menikmati sajian pelepas dahaga, sejumlah peserta tampak antusias mengikuti pelatihan menjahit.
Tampak tiga boks countainer berukuran sedang penuh dengan pakaian. Ini adalah hasil donasi dari para peserta berupa pakaian bekas dan limbah kain yang mereka punya. Limbah ini yang akan digunakan sebagai bahan pelatihan menjahit.
“Mas, ini donasi saya. Tadinya mau saya bakar. Siapa tahu di sini jadi bermanfaat,” ucap peserta perempuan paruh baya sambil membawa satu kantong plastik besar sebelum Jahita dimulai.
Perempuan itu disambut baik oleh panitia. Sambil mengambil kantong, panitia mempersilakan perempuan itu bergabung dengan peserta lain yang telah duduk melingkar.
Jangan bayangkan bahwa Jahita adalah pelatihan menjahit biasa. Jahita merupakan program yang diinisiasi oleh Matrahita, kolektif seni beranggotakan Kemala Hayati, Hafizh Hanani, Shidqi Annas Al Haris Sholih dan Nella Katarthika. Mereka merupakan rekan sejawat sejak menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Jahita memadukan teknik menjahit sebagai media penyampaian isu. Peserta akan menceritakan permasalahan atau isu tertentu dalam satu bidang kain berukuran kurang lebih 30 kali 30 sentimeter.
Dalam bidang itu, peserta bebas menggambar, membentuk, memotong dan menjahit dengan bahan limbah kain yang telah terkumpul.
Sebidang kain itu, kini berubah menjadi media yang aman untuk bersuara. Sebab, setiap karya memiliki cerita personal masing-masing perupanya.
“Sebenarnya kita bukan ngajarin jahit yang teknis kayak bikin baju, ya. Tapi lebih ke kasih ruang buat mereka bersuara atau cerita soal apa yang mereka rasain lewat pola dan gambar di kain,” jelas Shidqi.
Di balik gagasan ini, ada perjalanan panjang yang dilalui Matrahita sebagai kolektif seni. Matrahita berawal dari inisiatif Mala dan Hafizh untuk membangun jenama fesyen ramah lingkungan. Nama Matrahita diadaptasi dari bahasa Sanskerta, matra atau mantra berarti doa dan hita bermakna kebaikan.
Awalnya, proyek ini berjalan untuk mendapatkan hibah dana kementerian. Namun, mereka gagal. Kegagalan tidak lantas membuat semangat mereka untuk menyuarakan isu lingkungan pudar. Mereka melanjutkan produksi mode busana berbahan dasar limbah kain. Produksi ini sempat berjalan dan menghasilkan keuntungan.
Namun, tahun 2020 saat pandemi Covid-19, produksi mereka mandek. Tak berjarak lama, sejumlah tawaran menggarap mural, proyek kolaborasi kreatif hingga pameran datang.
Kesempatan ini membawa mereka kembali aktif. Pada tahun 2023, mereka resmi menjadi sebuah kelompok seni.
Berangkat dari titik balik itulah, kain tidak lagi sekadar berperan dalam medium produksi, tetapi juga menjadi alat eksplorasi artistik dan komunikasi sosial.
Untuk mendukung pendekatan ini, Matrahita membuka donasi limbah kain melalui bank sampah di kawasan Purwomartani, Kalasan, Sleman.
Tidak disangka, upaya mereka mendapatkan antusias tinggi dari masyarakat dan mengalami lonjakan donasi yang lebih dari cukup untuk proses kreatif.
Melimpahnya partisipasi inilah yang mendorong Matrahita membentuk program Jahita, sebuah ruang untuk menampung keresahan sosial masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran mengenai limbah kain.
“Kesadaran adalah titik pertama seseorang dapat memikirkan suatu hal ke depannya. Melalui Jahita, kami ingin menyampaikan kesadaran tentang limbah tekstil, kesadaran untuk menyuarakan sesuatu, dan kesadaran ingin mandiri untuk bisa bergerak sendiri,” jelas Mala.
Tidak hanya itu, Matrahita juga membuka ruang kelas pelatihan pengolahan limbah kain. Dalam lokakarya itu, peserta akan dibekali pengetahuan mengolah sampah kain, mulai dari menumbuhkan kesadaran, pengenalan jenis bahan, alat dan teknik jahit, teknik sulam hingga dapat menghasilkan produk bernilai guna seperti gantungan kunci dan jepitan rambut.
“Kita tahu semua fast fashion itu punya dampak cukup signifikan terhadap sampah di bumi saat ini. Matrahita walaupun dengan skala kecil, kami berharapnya kita bisa memberikan dampak yang cukup besar, mulai dari kesadaran masyarakat terhadap pemakaian sampah tekstil, penggunaan pakaian itu sendiri, dan juga kegiatan belanja,” Jelas Hafizh.
Apa yang disampaikan Hafizh bukanlah kekhawatiran kosong. Isu mengenai mode busana cepat tengah menjadi sorotan global karena pengaruhnya terhadap kelestarian lingkungan.
Di Indonesia pada 2024, sampah tekstil menyumbang 2,55 persen dari total timbulan sampah nasional, setara dengan 861.055 ton. Matrahita menjadi salah satu yang menyoroti persoalan ini dengan serius.
Gaung mereka kini telah melampaui Yogyakarta. Pada April 2025, Matrahita diundang mengisi lokakarya dalam Pameran Tapa Ngeli: Muria, Santri, Kretek di Kudus.
Bahkan, karya mereka sempat dipamerkan di Jakarta Convention Center dalam program GoTo Impact Foundation di ajang IdeaFest 2023.
Melalui program-program yang menyasar masyarakat, Matrahita berperan sebagai jembatan antara suara kecil dan perubahan besar. Dengan pendekatan dan teknik sederhana, mereka membuktikan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari panggung yang besar, cukup dari sehelai kain dengan bumbu kesadaran.
Di tangan Matrahita, sehelai kain tak hanya menutup tubuh, tapi juga membuka mata tentang bumi, tentang sesama, dan tentang cara paling sederhana untuk merawat keduanya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


