Skor TOEFL-nya sempat mentok di angka 437. Tapi seorang anak gembala dari Lombok Tengah ini kadung berjanji ke ibunya bahwa suatu hari ia akan kuliah di Australia, dengan beasiswa. Janji itu, benar-benar terbukti walaupun harus menunggu lima belas tahun kemudian lamanya.
Apa yang dipertaruhkan Ahmad Munjizun ketika mengatakan kepada ibunya bahwa ia akan kuliah di luar negeri? Sedang, kala itu ketika masih berstatus mahasiswa baru yang bahasa Inggrisnya belum lancar, bahkan mengucapkan kata "university" saja masih terbata-bata.
Lalu, dengan percaya diri ia pulang ke rumah dan berkata ke ibunya bahwa ia akan kuliah di University of Queensland, Australia—dengan beasiswa.
Tapi memang itulah yang dilakukan Ahmad Munjizun pada suatu akhir pekan di tahun 2009. Ibunya, wajar saja, langsung bertanya balik, dari mana uang untuk membiayai itu semua?
"Tenang, Mak. Saya akan dapat beasiswa," jawab Jizun, sapaan akrabnya, seperti dikutip dari Media Keuangan.
Kalimat itu terdengar seperti mimpi siang bolong. Tapi buktinya, hari ini, nama Ahmad Munjizun tercatat sebagai lulusan magister University of Queensland dan doktor dari North Carolina State University, Amerika Serikat, di bidang Animal Science dengan spesialisasi Equine Science alias ilmu tentang kuda.
Anak Penjaga Kandang Itu Pernah Bercita-Cita Jadi Guru Matematika
Sebelum mengejar mimpi ke luar negeri, hidup Jizun berputar di sekitar kandang. Di sana lah mimpi itu bersemi.
Jizun lahir dan besar di Desa Batunyale, Lombok Tengah, sekitar dua puluh menit dari Bandara Internasional Lombok. Sejak kakak-kakaknya kuliah dan orang yang biasa membantu keluarga pulang kampung, tanggung jawab mengurus ternak jatuh ke pundak Jizun dan dua adiknya. Pagi sebelum sekolah, ia memastikan sapi dan kuda sudah makan. Sepulang sekolah, ia menggembala, mencari rumput, membersihkan kandang.
Jumlah kuda di rumahnya kadang lebih dari 15 ekor, sebagian untuk pacuan. Jizun bahkan sempat jadi joki latihan sebelum badannya terlalu besar untuk itu.

Jizun dan kuda peliharaannya
Nah ketika ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, minat awal Jizun bukan di bidang peternakan, melainkan matematika. Sebab, sejak SD ia rutin ikut lomba matematika hingga tingkat kabupaten dan provinsi, meski belum pernah tembus nasional. Cita-citanya ingin jadi guru matematika, lalu mengantar murid-muridnya lebih jauh dan lebih tinggi dari dirinya sendiri.
Rencana jadi guru matematika hampir terwujud, sampai sebuah insiden kecelakaan mengubah rencana dan arah hidupnya.
Menjelang pengumuman kelulusan SMA, kaki Jizun tertusuk paku tua di kandang saat membawa rumput untuk sapi. Luka luarnya memang cepat kering, tapi bagian dalamnya butuh sekitar sebulan untuk sembuh. Ia lebih banyak terbaring, tepat ketika seharusnya mengikuti tes masuk jurusan lain.
Karena kondisi tubuh belum pulih, ia memilih tidak ikut tes dan menerima kursi di Fakultas Peternakan Universitas Mataram—jurusan yang justru sudah sangat ia kenal sejak kecil.
Ada cerita unik pada masa awal kuliahnya tahun 2009. Prof. Suhubdy Yasin, dosen sekaligus alumnus Fakultas Peternakan Unram yang menempuh doktoral di University of Queensland, membuka kuliahnya dengan kalimat yang menarik.
"Ilmu peternakan akan membawa kalian ke surga," katanya
Masih dari sosok yang sama. Jizun juga sempat terpaku pada cerita perjalanan sang profesor ke Australia, lengkap dengan foto-foto kampus yang megah. Dari situ lah lahir satu keyakinan di kepalanya bahwa jika orang lain bisa, ia juga harus bisa. Makanya ia berani mengatakan janji kepada sang ibu.
TOEFL 437 dan Jalur Afirmasi LPDP
Lulus dari Universitas Mataram pada 2014, Jizun mulai serius berburu beasiswa. Sayangnya, saat itu kendala terbesarnya terletak pada kemampuan bahasa Inggris. Ini dibuktikan pada nilai TOEFL prediksinya yang bertahan di angka 437. Jelas, angka ini jauh dari standar umum kampus luar negeri.
Kesempatan ke luar negeri akhirnya datang ketika Jizun mengetahui program Beasiswa Daerah Afirmasi dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program ini merupakan skema beasiswa pemerintah yang ditujukan bagi putra-putri dari daerah afirmasi—wilayah yang masih memerlukan dukungan lebih dalam pemerataan akses pendidikan tinggi.
Melalui skema tersebut, penerima beasiswa tidak hanya memperoleh pendanaan penuh untuk studi magister atau doktor, tetapi juga berbagai program persiapan, termasuk penguatan kemampuan bahasa bagi peserta yang membutuhkannya sebelum memulai perkuliahan.
Jizun pun mendaftar, meskipun proses wawancaranya jauh dari sempurna. Ia sempat dibombardir pertanyaan seputar ekonomi karena sempat mempertimbangkan jurusan lain, dan kemampuan bahasa Inggrisnya pun masih terbatas. Modalnya hanya pengalaman singkat mengikuti program di Northern Territory, Australia.
Dengan keterbatasan itu, Ahmad Munjizun pada akhirnya tetap lolos di jurusan Animal Science, University of Queensland, Australia.
Kenapa Jizun pilih jurusan Animal Science? Ada satu peristiwa yang membuat Jizun serius pada ilmu yang berkaitan dengan hewan, yakni kematian Gong Datu, kuda kesayangannya semasa SMA. Kuda itu sempat sakit. Setelah dirawat intensif hingga sehat kembali, kuda tersebut malah mati akibat diberi ramuan tradisional manusia. Rasa bersalah dan penyesalan itu menumbuhkan angan-angan kecil dalam diri Jizun—andai saja ia lebih memahami dunia kuda secara ilmiah. Angan itulah yang menjadi bidang studi pilihannya di Australia dan Amerika.
Nah, di Queensland, Jizun belajar dan terlibat langsung dalam perawatan kuda yang dilakukan dengan pendekatan sains. Di sana, reproduksi dipantau teknologi, dokter hewan terlibat rutin, bahkan siklus hormonal diamati secara berkala. Praktik-praktik yang dulu dilakukan Jizun berdasarkan kebiasaan turun-temurun, kini ia telah memahami dasar ilmiahnya.
Dari sana ia mulai menaruh perhatian pada animal welfare atau kesejahteraan hewan. Ini adalah konsep yang memandang kuda bukan semata hewan kerja atau aset ekonomi, melainkan juga companion animal yang berhak atas perawatan dan perlakuan layak.
Kelar studi dari Australia, Jizun makin percaya diri. Ia pun berani melanjutkan langkahnya dengan mendaftar beasiswa Fulbright, program beasiswa bergengsi dari pemerintah Amerika Serikat. Di negara itu, ia diterima untuk menempuh studi doktoral di North Carolina State University.
Pulang ke NTB, Membawa Ilmu Dunia
Pendidikan tinggi tidak membuat Jizun menjauh dari akarnya. Kini ia menjabat sebagai salah satu asisten Gubernur Nusa Tenggara Barat, dengan cakupan kerja meluas ke bidang energi, pariwisata, investasi, hingga hubungan eksternal—termasuk menjembatani rencana investasi daerah dengan negara-negara sahabat.
Bidang peternakan dan pengembangan kuda tetap kerap muncul dalam pertemuannya dengan perwakilan negara sahabat, membuktikan bahwa ilmu yang ia perjuangkan susah payah kini punya objek di kampung halamannya sendiri.
Lima belas tahun lalu, seorang ibu di Batunyale bertanya dari mana biaya kuliah anaknya ke Australia. Jawabannya kini tertulis jelas: bukan dari kekayaan atau koneksi, tapi dari keyakinan yang tidak pernah ditarik kembali, dan kerja keras yang dijalani sampai jalan itu benar-benar terbuka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


