susah bilang tidak ini penjelasan psikologisnya kawan - News | Good News From Indonesia 2026

Susah Bilang Tidak? Ini Penjelasan Psikologisnya!

Susah Bilang Tidak? Ini Penjelasan Psikologisnya!
images info

Sumber : Pexels/Keira Burton


Pernahkah Kawan merasa tidak enak hati saat harus menolak permintaan teman? Atau akhirnya berkata "iya" padahal dalam hati ingin sekali bilang "tidak"? Kalau demikian, kamu tidak sendirian.

Smita Dinakaramani, dosen Fakultas Psikologi UGM, dalam Detik.com, menjelaskan bahwa kecenderungan selalu menyenangkan orang lain meskipun harus mengorbankan kebutuhan diri sendiri ini disebut people pleasing.

Menurutnya, budaya juga berperan besar dalam membentuk perilaku ini, terutama di masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kepentingan kelompok seperti Indonesia.

Banyak orang menganggap perilaku ini sebagai kelemahan pribadi. Padahal, ada penjelasan psikologis yang jauh lebih dalam di baliknya. Memahaminya bukan untuk mencari pembenaran, tetapi untuk mengenal diri sendiri lebih baik.

Bukan Lemah, Otak Kawan Sedang Melindungi Diri

Ketika Kawan menghindari menolak permintaan orang lain, bukan berarti tidak punya pendirian. Ada mekanisme psikologis yang bekerja di balik keputusan itu. Salah satunya adalah rasa takut dinilai buruk oleh orang lain, sebuah perasaan yang ternyata dialami oleh banyak orang tanpa mereka sadari.

Azis, Purwasetiawatik, dan Taibe dalam penelitiannya yang diterbitkan di Jurnal Psikologi Karakter menemukan bahwa semakin tinggi rasa takut seseorang akan penilaian negatif dari orang lain, semakin sulit pula ia untuk berbicara jujur tentang apa yang ia inginkan atau rasakan.

Temuan ini menunjukkan bahwa kesulitan menyampaikan kebutuhan diri sendiri secara terbuka bisa berakar dari kekhawatiran mendalam akan cara orang lain memandang kita, bukan dari ketidakmampuan atau kelemahan pribadi.

baca juga

Otak manusia secara alami berusaha menghindari situasi yang bisa membuat orang lain kecewa. Sebab, sejak dulu, diterima oleh orang-orang di sekitar kita adalah hal yang penting bagi kelangsungan hubungan sosial.

Jadi apa yang Kawan rasakan bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan, melainkan sesuatu yang perlu dipahami. Karenanya, memahami adalah langkah pertama yang jauh lebih berguna dari sekadar menyalahkan diri sendiri.

Berani Jujur pada Diri Sendiri Juga Bentuk Menghargai Orang Lain

Banyak orang mengira bahwa berani menolak permintaan orang lain berarti tidak peduli atau tidak punya rasa empati. Padahal, ada perbedaan besar antara bersikap egois dan bersikap jujur pada diri sendiri.

Kemampuan untuk menyampaikan apa yang kita inginkan, rasakan, atau butuhkan secara terbuka tanpa menyakiti orang lain inilah yang dalam psikologi disebut sebagai perilaku asertif.

Yang menarik, kemampuan ini bukan sesuatu yang harus dimiliki sejak lahir. Penelitian yang diterbitkan di Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar menunjukkan bahwa pendekatan konseling asertif terbukti membantu mahasiswa untuk lebih berani menyampaikan kebutuhan dan pendapat mereka secara terbuka.

Mahasiswa yang mengikuti pendekatan ini menunjukkan adanya peningkatan keberanian menolak permintaan yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka, berkurangnya rasa tidak enak hati yang berlebihan, serta menurunnya beban psikologis akibat tuntutan sosial yang selama ini mereka tanggung sendirian.

Jujur pada diri sendiri justru bisa menjadi bentuk menghargai orang lain yang lebih tulus. Ketika Kawan terus berkata "iya" pada hal-hal yang sebenarnya di luar kemampuan atau keinginan, rasa lelah dan kecewa itu akan menumpuk dan berdampak pada kualitas hubungan dengan orang lain.

Sebaliknya, ketika Kawan belajar menyampaikan kebutuhan diri sendiri dengan jujur dan tetap sopan, hubungan yang terjalin menjadi lebih tulus karena dibangun di atas kejujuran, bukan keterpaksaan.

Susah bilang "tidak" bukan aib yang harus disembunyikan. Di balik kebiasaan yang selama ini mungkin Kawan anggap sebagai kelemahan, ada mekanisme psikologis yang bekerja diam-diam untuk menjaga hubungan sosial tetap harmonis.

baca juga

Sebuah nilai yang pada dasarnya sudah lama hidup dalam budaya Indonesia sebagai bentuk rasa peduli pada orang lain.

Yang perlu diingat, peduli pada orang lain dan peduli pada diri sendiri bukan dua hal yang saling bertentangan. Masyarakat Indonesia dikenal hangat, penuh empati, dan menjunjung tinggi kebersamaan.

Justru karena itulah, belajar untuk jujur pada diri sendiri sambil tetap menghargai orang lain bukan melemahkan nilai-nilai itu, melainkan menyempurnakannya.

Kawan tidak perlu berubah menjadi orang yang berbeda untuk memulai perubahan itu. Cukup mulai dengan memahami bahwa kejujuran pada diri sendiri dan kepedulian pada orang lain bisa berjalan beriringan.

Di sinilah letak kekuatan yang sesungguhnya, bukan pada seberapa sering Kawan berkata "iya", melainkan pada seberapa tulus Kawan melakukannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.