Ada sebuah cerita rakyat dari Sumatera Utara yang berkisah tentang legenda Kecak Mendai. Cerita rakyat ini berkembang di tengah masyarakat Melayu yang ada di daerah Serdang Bedagai.
Konon kisah dalam legenda ini menjadi asal usul penamaan tiga daerah yang ada di sana. Ketiga daerah tersebut di antaranya Batang Kuis, Lubuk Pakam, dan Matapao.
Bagaimana cerita yang terdapat dalam legenda Kecak Mandai tersebut? Berikut kisah lengkap dari legenda Kecak Mendai dalam cerita rakyat Sumatera Utara.
Legenda Kecak Mendai yang Perkasa, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
Dikutip dari buku Asal Usul: Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumatera Utara, pada zaman dahulu ada seorang pangeran yang bernama Kecak Mendai. Dirinya merupakan putra dari datuk di Pulau Berayun.
Nama Kecak Mendai sendiri berasal dari parasnya yang tampan dan rupawan. Jika diartikan, nama Kecak Mendai memiliki makna Kecak yang tampan.
Kecak Mendai ditugaskan oleh ayahnya untuk menghadang lanun-lanun yang datang menyerang. Salah satu lanun yang sering mengganggu keamanan di sana adalah Datuk Pao dari Negeri Cina.
Pada suatu hari, Datuk Pao datang dengan armadanya mendekati laut Belawan menuju Deli Serdang. Mendengarkan hal ini, Kecak Mendai langsung pergi menghadang armada tersebut.
Datuk Pao dikenal sebagai seorang pendekar yang sakti mandraguna. Meskipun demikian, hal ini tidak membuat Kecak Mendai gentar.
Pertempuran antara kedua petarung ini akhirnya tidak terelakkan. Tiga hari tiga malam pertarungan antara mereka berdua berlangsung dengan seimbang.
Memasuki hari keempat, angin mulai berpihak pada Kecak Mendai. Dalam satu serangan, Kecak Mendai berhasil mencabut kedua mata Datuk Pao dan menghabisi pendekar tersebut.
Mata Datuk Pao ini kemudian dilemparkan jauh oleh Kecak Mendai. Konon tempat jatuhnya kedua mata Datuk Pao ini sekarang dikenal dengan nama Matapao.
Sejak saat itu, Pulau Berayun menjadi aman dan tentram. Keberadaan Kecak Mendai berhasil melindungi keamanan masyarakat yang ada di sana.
Atas jasanya ini, sang datuk kemudian menghadiahi seekor kuda pada Kecak Mendai. Kuda ini sering dia gunakan dalam berbagai macam pertempuran.
Dalam satu kesempatan, kuda Kecak Mendai terkena racun dari seekor naga. Sayangnya, kuda Kecak Mendai tidak berhasil diselamatkan dan menemui ajalnya.
Pada awalnya, Kecak Mendai sempat menebas bagian kudanya yang terkena racun dari naga. Dia berharap tebasan itu berhasil menahan racun agar tidak menyebar lebih luas.
Namun usaha Kecak Mendai tidak seperti yang diharapkan. Konon kuda dari Kecak Mendai ini dikuburkan di daerah Pulau Berayun.
Seiring berjalannya waktu, Kecak Mendai kemudian diangkat menjadi datuk menggantikan sang ayah. Ketika menjadi datuk ini, Kecak Mendai memutuskan untuk pergi bertapa ke sebuah daerah.
Dalam perjalanannya, dia singgah di sebuah lubuk yang ada di Serdang Bedagai. Di lubuk tersebut banyak tumbuh pohon-pohon pakam.
Atas dasar ini, Kecak Mendai kemudian menamai daerah yang dia datangi tersebut dengan nama Lubuk Pakam. Di sana Kecak Mendai mulai melakukan pertapaan hingga akhir hayatnya.
Sejak saat itu, Kecak Mendai tidak beranjak dari pertapaannya. Dia pun menemui ajalnya dalam pertapaan di daerah tersebut.
Saat meninggal dunia, tubuh Kecak Mendai perlahan mulai kaku. Lama kelamaan tubuh Kecak Mendai makin mengeras layaknya sebuah batang.
Daerah tempat beradanya Kecak Mendai ini kemudian diberi nama Batang Kuis. Hal ini berdasarkan pada sosok Kecak Mendai yang berkumis dan tubuhnya mengeras layaknya batang di sana.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


