Kulit bawang yang terkelupas, ampas kopi yang mengendap di dasar gelas, hingga potongan sayur yang tidak lagi terpakai sering kali kita membuangnya ke dalam satu kantong plastik yang sama, kemudian meletakkannya di depan rumah. Ketika petugas pengangkut sampah datang, kita merasa urusan telah selesai.
Padahal, persoalan sampah tidak pernah benar-benar berakhir ketika truk meninggalkan lingkungan tempat tinggal kita. Sampah hanya berpindah tempat, dari rumah menuju tempat pembuangan sementara, lalu berakhir di tempat pemrosesan akhir yang daya tampungnya semakin terbatas. Menahun sudah pola pikir ini yang membentuk kebiasaan kita sebagai masyarakat tentang cara membuang sampah. buang, angkut, selesai deh.
Melalui gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong masyarakat untuk mengambil peran lebih besar dalam menyelesaikan persoalan sampah. Salah satu upaya yang kini mendapat perhatian adalah penggunaan lubang resapan biopori, khususnya biopori jumbo, sebagai solusi sederhana menuju target Jakarta Zero Waste.
Banyak orang mungkin menganggap biopori hanyalah lubang kecil di dalam tanah. Sesuatu yang sederhana, bahkan tampak sepele. Tetapi justru dari kesederhanaan itu tersimpan potensi perubahan yang besar.
Warga RW 014 Kelurahan Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus menunggu teknologi canggih atau anggaran besar. Mereka memanfaatkan tong berukuran besar yang dilubangi pada bagian samping, kemudian ditanam di dalam tanah untuk menampung sampah organik rumah tangga. Warga menyebutnya sebagai "biopori jumbo."
Meski sama-sama disebut biopori, biopori jumbo memiliki fungsi yang sedikit berbeda dengan biopori yang selama ini kita kenal. Jika biopori umumnya berupa lubang berdiameter kecil yang dibuat untuk meningkatkan daya resap tanah dan mengurangi genangan air saat hujan, biopori jumbo dirancang lebih besar agar dapat menampung sampah organik rumah tangga sehingga dapat menjadi sarana sederhana untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir.
Warga telah merealisasikan pembangunan 130 titik biopori jumbo dari target 150 unit. Selanjutnya, jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 200 unit untuk mengakomodasi pengolahan sampah organik dari lingkungan rumah tangga maupun fasilitas publik.
Sisa sayuran, kulit buah, hingga limbah dapur lainnya dimasukkan ke dalam tong tersebut untuk diolah menjadi kompos. Menariknya, satu biopori jumbo digunakan bersama oleh dua rumah tangga.
Cukup mengejutkan ketika ternyata gerakan ini bukan lahir karena adanya kewajiban dari pemerintah. Ketua RW 014 Pondok Kelapa, menyebut bahwa warga sebenarnya sudah mulai memilah sampah sejak tiga tahun lalu. Mereka menyadari bahwa jika kebiasaan lama terus dipertahankan, lingkungan akan menghadapi persoalan yang semakin berat. Kehadiran Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber justru menjadi penguat atas inisiatif yang telah tumbuh dari masyarakat.
Hal ini penting untuk kita garis bawahi, sebab sering kali kita berpikir bahwa perubahan harus selalu dimulai dari atas. Padahal, perubahan yang paling bertahan justru tumbuh dari kesadaran kita sebagai warga.
Gubernur DKI Jakarta, bahkan mengapresiasi langkah enam RT di RW 014 Pondok Kelapa yang telah memulai pengelolaan sampah organik berbasis komunitas. Menurutnya, metode biopori jumbo tersebut layak dijadikan percontohan bagi wilayah lain di Jakarta sebagai bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan sampah berkelanjutan menuju Jakarta Zero Waste.
Apresiasi ini bukan tanpa alasan. Selama ini, Jakarta cenderung mengandalkan solusi hilir, tentang memperbesar tempat pembuangan, memperbanyak armada angkut, atau membangun fasilitas pengolahan skala besar. Walaupun semua itu memang diperlukan, tetapi jika tanpa mengurangi sampah dari sumbernya, persoalan akan terus berulang.
Sampah rumah tangga, terutama sampah organik, merupakan jenis sampah yang sebenarnya paling mudah ditangani. Sayangnya, ia sering tercampur dengan plastik, kertas, atau limbah lainnya sehingga kehilangan peluang untuk dimanfaatkan kembali.
Saat kita mulai memisahkan kulit buah dari bungkus makanan sebelum dibuang, sebenarnya kita sudah menjadi warga Jakarta yang bertanggung jawab terhadap sampah. Anak-anak yang melihat orang tuanya memasukkan sisa dapur ke dalam biopori akan tumbuh dengan pemahaman bahwa sampah adalah sesuatu yang harus dikelola.
Tentu, lagi-lagi tantangan terbesar kita adalah mengubah kebiasaan. Masih banyak warga yang merasa memilah sampah itu merepotkan. Tidak sedikit yang menganggap bahwa setelah membayar retribusi kebersihan, urusan sampah sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Padahal, target Jakarta Zero Waste tidak akan pernah tercapai jika masyarakat hanya menjadi penonton.
Kabar baiknya, semangat ini mulai menyebar. Jakarta Selatan menargetkan agar setiap RT memiliki minimal satu biopori sebagai bagian dari upaya menggencarkan pemilahan sampah. Sementara itu, Kelurahan Tomang juga telah memanfaatkan lubang biopori untuk membantu mengurangi volume sampah di wilayahnya.
Bayangkan jika ribuan RT di Jakarta memiliki komitmen serupa, kemudian setiap keluarga akhirnya mulai mengolah sampah organiknya sendiri. Beban tempat pemrosesan akhir pasti akan berkurang. Lingkungan menjadi lebih bersih, dan kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali untuk penghijauan. Langkah kecil ini turut menumbuhkan budaya baru yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Jakarta Zero Waste bukan berarti klaim Jakarta sebagai kota yang sama sekali tidak menghasilkan sampah. Sebab selama manusia hidup, sampah pasti akan selalu ada. Zero Waste adalah tentang bagaimana Jakarta mampu bertanggung jawab atas apa yang dihasilkannya.
Barangkali selama ini kita terlalu sibuk mencari solusi besar untuk persoalan yang sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil. Dengan satu lubang kecil di dalam tanah, mengajarkan kita bahwa masa depan Jakarta dibangun melalui keputusan sederhana yang dibuat setiap hari oleh warganya, dari rumah kita sendiri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

