Pengembangan kawasan pesisir sebagai area pertanian masa depan kerap dihadapkan pada tantangan alam yang cukup berat. Mulai dari kadar salinitas tanah yang tinggi, keterbatasan sumber daya air bersih, hingga risiko degradasi lahan akibat perubahan iklim.
Guna menjaga produktivitas pangan di wilayah pantai ini, para peneliti mulai mengenalkan teknologi true shallot seed (TSS) atau benih botani untuk komoditas bawang merah.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlyna Budi Pustika, menjelaskan bahwa penggunaan benih botani ini memiliki peluang besar dalam menciptakan sistem produksi yang lebih sehat dan efisien.
Langkah ini dinilai mampu mengurangi risiko penyebaran penyakit yang biasanya terbawa melalui bahan tanam konvensional, sekaligus mempermudah proses distribusi benih ke berbagai daerah.
Tantangan budi daya di lapangan memang masih dibayangi oleh serangan hama seperti trips, ulat grayak, hingga lalat bawang sehingga pendekatan Pengelolaan Hama Terpadu terus dikembangkan.
Penerapan metode ini memadukan budi daya tanaman sehat, pengamatan ekosistem secara rutin, serta peningkatan kapasitas petani sebagai pelaku utama dalam mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan.
Efisiensi Biaya Lewat Pendekatan Teknologi
Beberapa inovasi teknologi modern juga telah diuji di lapangan untuk mendukung sistem pertanian yang lebih adaptif. Salah satu kombinasi yang menunjukkan hasil positif adalah penggunaan rumah kelambu (netting house) yang dipadukan dengan sistem irigasi tetes.
Penelitian menunjukkan bahwa penerapan kedua teknologi ini mampu menekan serangan hama sekaligus menjaga produktivitas bawang merah pada kisaran 12 hingga 14 ton per hektare.
Penggunaan irigasi tetes secara nyata membantu penghematan konsumsi air dan pupuk di lahan pesisir yang cenderung kering. Sistem ini mampu mengurangi kebutuhan pupuk hingga sekitar 30 persen dibandingkan dengan cara budi daya tradisional.
Manfaat ekonomi dari penerapan teknologi perlindungan ini juga sudah dirasakan oleh kelompok tani di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.
Penggunaan rumah kelambu di wilayah tersebut terbukti mampu menekan biaya operasional untuk pembelian pestisida kimia antara 30 hingga 70 persen, yang berdampak langsung pada efisiensi pengeluaran petani.
Kemitraan Riset Lintas Sektor untuk Stabilitas Pangan
Modernisasi pertanian ini berjalan melalui skema kerja sama penelitian jangka panjang yang didukung oleh Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR).
Kemitraan yang telah berjalan sejak dekade 1980-an ini melibatkan kolaborasi institusi mulai dari BRIN, Kementerian Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), hingga Universitas Gadjah Mada (UGM). Fokusnya diarahkan pada penguatan kapasitas kelembagaan serta penciptaan solusi praktis yang bisa diterapkan secara luas oleh masyarakat.
Komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah memegang posisi penting dalam sistem pangan nasional karena pengaruhnya yang sensitif terhadap tingkat ketersediaan pangan dan stabilitas ekonomi.
Sebab, penanganan hambatan dari hulu ke hilir seperti biaya produksi yang tinggi, risiko kehilangan hasil pascapanen, hingga efisiensi rantai distribusi memerlukan pendekatan berbasis inovasi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

