Stasiun Binjai adalah stasiun kereta api kelas II yang terletak di Jalan Ikan Paus, Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai, Sumatera Utara. Melalui situs resmi Dinas Pariwisata Kota Binjai, Stasiun Binjai berada di ketinggian +29,59 meter di atas permukaan laut.
Stasiun ini termasuk dalam wilayah Divisi Regional I Sumatera Utara dan Aceh. Saat ini, operasional dan pengelolaan stasiun berada di bawah naungan KAI Bandara. Stasiun ini memiliki lokasi yang sangat strategis karena letaknya bersebelahan dengan terminal bus Kota Binjai.
Stasiun Binjai yang sudah berusia uzur ini menjadi salah satu titik penting yang membantu mobilisasi masyarakat. Bahkan, stasiun legendaris ini dulunya juga merupakan salah satu jalur penting yang menghubungkan kawasan perkebunan dan pelabuhan di wilayah Sumatra Utara.
Sejarah Stasiun Binjai
Stasiun Binjai pertama kali dibuka untuk umum pada tanggal 1 Mei 1887 oleh perusahaan kereta api swasta Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). Di awal pembangunannya, stasiun ini tidak dikenal dengan nama Binjai, tapi Stasiun Timbang Langkat. Namanya disesuaikan dengan nama daerah tempat stasiun itu berdiri.
Kawan GNFI, bangunan yang berdiri dan beroperasi sekarang ini sebenarnya adalah generasi kedua yang dibangun sekitar tahun 1920. Meskipun telah berusia lebih dari satu abad, stasiun ini masih mempertahankan gaya bangunan khas kolonial.
Nama “Timbang Langkat” konon digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama sebelum akhirnya resmi berganti nama menjadi Stasiun Binjai. Sejarah mencatat bahwa stasiun ini dahulu merupakan persimpangan penting bagi jalur kereta api yang menuju ke Besitang di utara dan jalur menuju Kuala.
Salah satu keunikan dari Stasiun Binjai dibandingkan stasiun-stasiun lain di Sumatera Utara adalah keaslian bangunannya. Stasiun Binjai tetap setia mempertahankan gaya bangunan kolonial aslinya sejak masa pembangunannya dahulu, yakni dengan gaya arsitektur Indische Empire alias arsitektur Indis. Arsitektur ini menggabungkan dua kebudayaan berbeda, yakni kebudayaan khas Eropa dan Melayu.
Tak hanya itu, berkat sejarah dan fungsinya, Stasiun Binjai ditetapkan sebagai salah satu situs Cagar Budaya. Hal ini berdasarkan Keputusan Wali Kota Binjai Nomor 188.45-1236/K/Tahun 2021.
Secara teknis, Stasiun Binjai telah mengalami perubahan dari segi fasilitas. Dulu, emplasemen stasiun ini memiliki enam jalur kereta api. Akan tetapi, saat ini hanya tersisa tiga jalur saja.
Jalur 1 ditetapkan sebagai sepur lurus. Di area stasiun, pengunjung masih dapat melihat jejak-jejak operasional kereta api masa lalu, seperti sisa-sisa menara air dan sumurnya, serta corong air yang dulu difungsikan untuk menyuplai air ke lokomotif uap.
Layanan Kereta Api di Stasiun Binjai
Saat ini, layanan utama yang tersedia di Stasiun Binjai adalah kereta api Sri Lelawangsa. Kereta komuter ini melayani rute yang menghubungkan Kuala Bingai, Binjai, hingga Kota Medan. Namun, sekarang rutenya sudah diperpanjang hingga mencapai Bandara Internasional Kualanamu.
Perjalanan dari Medan menuju Binjai rata-rata memakan waktu sekitar 30 menit. Selain kereta api, akses transportasi didukung oleh bus Trans Mebidang koridor 1 yang menghubungkan Terminal Binjai dengan Pusat Pasar di Medan.
Disadur dari akun Instagram Divre I Sumut, @medankeretaapi, Stasiun Binjai terintegrasi dengan moda transportasi lainnya, seperti angkutan kota, ojek online, dan akses yang mudah untuk kendaraan pribadi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


