Kawan GNFI, pada hari Selasa (16/6/2026) masyarakat Jawa akan menyambut Malam Satu Suro. Malam Satu Suro sendiri merupakan waktu yang sakral lantaran memiliki makna simbolis yang mendalam bagi kehidupan masyarakat Jawa. Tak heran jika pada malam ini masyarakat Jawa akan menyelenggarakan sejumlah tradisi yang memiliki nilai sakral.
Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai salah satu keraton aktif memiliki tradisi dalam menyambut Malam Satu Suro. Setiap tahunnya, pihak keraton melaksanakan upacara tradisional, Kirab Pusaka, yang diadakan tepat pada Malam Satu Suro.
Menariknya, pelaksanaan kirab ini mengikutsertakan kerbau yang dikenal sebagai kebo bule. Kehadiran kebo bule kerap mencuri perhatian karena fisiknya yang mencolok, yakni berwarna putih kemerah-merahan. Keikutsertaan hewan ini dalam proses kirab buka tanpa sebab, melainkan memiliki nilai historis dan makna yang mendalam bagi Keraton Surakarta dan masyarakat di sekitarnya.
Asal Usul Kebo Bule di Keraton Surakarta
Kawan GNFI, asal usul tentang kehadiran kebo bule di Keraton Surakarta menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri. Penjelasan mengenai asal usul ini memiliki sejumlah versi cerita.
Kisah tentang kebo bule tidak terlepas dari sosok Susuhunan Pakubuwono II dan peristiwa Geger Pecinan yang sempat terjadi di tahun 1740-an di beberapa wilayah termasuk Keraton Kartasura. Terjadinya peristiwa Geger Pecinan di wilayah keraton membuat Sunan Pakubuwono II pergi dari Kartasura menuju Ponorogo.
Menurut penjelasan Buana dan Sudrajat dalam jurnal Paradigma (2025), ketika Sunan Pakubuwono II kembali ke Kartasura, ia membawa serta sepasang kebo bule. Kebo bule tersebut diketahui merupakan pemberian dari Bupati Ponorogo, Adipati Surobroto.
Penyematan istilah “Kyai Slamet” diketahui merujuk pada dua penjelasan, yakni kerbau yang dibawa oleh Sunan Pakubuwono II merupakan keturunan dari kerbau Kyai Slamet, serta kerbau tersebut merupakan cucuk lampah (pengiring) dari pusaka keraton yang bernama “Kyai Slamet”. Oleh karena itu, kerbau ini kemudian dikenal sebagai Kebo Bule Kyai Slamet.
Bentuk Perlakuan terhadap Kebo Bule
Kawan GNFI, pada peringatan malam Satu Suro tahun ini, pihak Keraton Surakarta Hadiningrat kembali menggunakan kebo bule sebagai cucuk lampah. Pada tahun 2026, kemungkinan terdapat lima ekor kebo bule yang disiapkan sebagai cucuk lampah dalam prosesi kirab malam Satu Suro.
Akan tetapi, tidak semua kebo bule yang dimiliki oleh keraton mengikuti kirab. Terdapat hal-hal tertentu yang diperhatikan dalam memilih calon kebo, seperti kondisi kesehatan, intensitas interaksi dengan manusia, dan berada dalam satu koloni yang sama, sebagaimana dipaparkan oleh Husodo dkk. dalam jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan (2025).
Lebih lanjut, Husodo dkk. memberikan penjelasan terkait bentuk perlakuan terhadap kebo bule yang terpilih. Kebo tersebut akan menjalani gladi dengan tujuan agar familiar dengan rute perjalanan serta membiasakan kebo tersebut untuk berjalan jauh.
Selanjutnya kebo akan menjalani prosesi jamasan. Prosesi ini merupakan bentuk perlakuan khusus yang dilakukan oleh pawang atau abdi dalem dengan tujuan untuk membersihkan tubuh kebo dengan menggunakan air sumur dan air kembang setaman
Ketika prosesi kirab berlangsung, kebo bule akan didampingi oleh 10 orang yang terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim Semut Hitam dan tim Semut Putih. Tim Semut Hitam bertugas untuk memenuhi kebutuhan nutrisi kebo selama prosesi kirab berlangsung. Sedangkan tim Semut Putih bertugas untuk mengontrol perilaku kebo agar dapat berjalan sesuai dengan rute dengan membawa pecut. Kedua tim tersebut memiliki tugas penting dalam menjaga kondisi kebo agar tetap prima dan meminimalisir potensi kebo tersebut mengamuk.
Setelah proses kirab berlangsung, kebo bule akan diarahkan menuju ke kandang mereka di daerah Alun-alun Kidul. Pada saat ini, kebo akan dibiarkan beristirahat untuk memulihkan kembali kondisinya setelah berjalan cukup jauh.
Makna Kebo Bule dalam Prosesi Kirab
Kawan GNFI, penempatan kebo bule sebagai cucuk lampah dalam prosesi kirab malam Satu Suro di Keraton Surakarta bukanlah tanpa alasan. Keraton Surakarta memandang bahwa kebo bule mengandung nilai sakral yang menempatkannya sebagai hewan yang dihormati.
Abdullah dalam jurnal Komunitas (2016) mengidentifikasi makna dari kebo bule itu sendiri melalui pendekatan Etnolinguistik. Menurutnya, kebo bule mengandung makna terkait keselamatan dan keberkahan. Keunikan yang dimiliki oleh kerbau membuatnya menjadi simbol dari kewibawaan raja.
Menariknya, masyarakat turut memaknai prosesi kirab sebagai wujud ngalap berkah. Bahkan, masyarakat rela mengambil kotoran kebo bule tersebut karena dipercayai memiliki khasiat tersendiri.
Selain itu, kebo bule juga menjadi simbol budaya agraris masyarakat Jawa. Kebo bule dipandang sebagai cerminan budaya agraris masyarakat Jawa yang terlihat dari penggunaan kerbau dalam aktivitas bertani. Makna tersebut sekaligus menunjukkan kedekatan masyarakat Jawa dengan kerbau dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kebo bule juga dimaknai sebagai simbol keselamatan dunia dan akhirat.
Kawan GNFI, seperti itulah penjelasan mengenai eksistensi kebo bule pada Keraton Surakarta. Keberadaan kebo bule mampu menambah wawasan mengenai keanekaragaman tradisi yang dimiliki oleh Indonesia. Melalui kebo bule, Kawan dapat menelusuri lebih dalam tentang Malam Satu Suro.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


