Ada kabar baik dari dunia perfilman Indonesia. Karya anak bangsa telah mengharumkan nama tanah air di negara asing dengan 3 filmnya yang memborong penghargaan dalam ajang Golden FEMI Film Festival 2026 di Sofia, Bulgaria, pada Sabtu (6/6/2026).
Golden FEMI Film Festival adalah ajang perfilman internasional yang menghadirkan film-film bernilai seni tinggi dengan fokus pada isu kemanusiaan, keberagaman budaya, perdamaian, serta berbagai tantangan sosial global.
Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan kemampuan para pembuat film Indonesia dalam bersaing di tingkat global, tetapi juga membuktikan bahwa karya lokal semakin mendapat tempat di mata dunia. Film apa saja yang dimenangkan dan apa saja penghargaannya? Yuk, Kawan, kita simak bersama!
Film "Solata" oleh Ichwan Persada
Film karya sutradara Ichwan Persada yang telah tayang di bioskop Indonesia sebelumnya pada 6 November 2025, menceritakan tentang mencari arti makna hidup melalui pengabdian di pelosok negeri.
Angkasa (diperankan oleh Rendy Kjaernett), karakter utama di "Solata", mengalami serangkaian musibah yang bertubi-tubi: ibunya meninggal, pekerjaan yang dicintainya hilang, dan kandasnya hubungan asmaranya dengan Lembayung.
Angkasa lalu memutuskan untuk kabur dari Jakarta dengan menjadi relawan pengajar Kelas Jauh lewat program Nusantara Berbakti di Toraja, Sulawesi Selatan.
TEMPO mewartakan bahwa "Solata" ini berhasil meraih penghargaan "Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator: Cultural Contribution and Humanism" dalam ajangGolden FEMI Film Festival 2026.
Adapun Ichwan Persada menerima langsung penghargaannya di Sofia. Sebelumnya, film ini pernah tampil di Menar Film Festival di Cinema House, Sofia, pada awal tahun silam, yang sekaligus menjadi upaya diplomasi Indonesia di Bulgaria dengan budaya perfilman.
Adapun kabar baik lainnya bahwa film ini dijadwalkan berhadir dalam Tirana International Film Festival (TIFF) di Albania, salah satu festival film internasional yang berstatus kualifikasi Academy Awards (Oscar).
Film Dokumenter "Djum" oleh Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto
"Djum" adalah film dokumenter pendek oleh sutradara muda sekaligus mahasiswa Program Studi Film dan Televisi, Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto.
Tayangan ini diproduksi oleh Selat Sunda Creative, komunitas pembuat film mahasiswa Program Studi Film dan Televisi ISI Yogyakarta dalam mengerjakan karya-karya Ujian Akhir Semester.
"Djum" menceritakan tentang seorang tukang gerobak bernama Jumadi (68) yang sering dianggap rendah oleh sebagian masyarakat karena profesinya.
Setelah konsisten selama 40 tahun dalam profesinya, akhirnya Jumadi mampu membawa anak-anaknya sukses sampai mendapatkan gelar sarjana.
Hanya saja, beberapa bulan menjelang pernikahan anak bungsunya, istri Jumadi terserang stroke. Keadaan itu mengharuskan Jumadi untuk bekerja lebih giat menjalan perannya sebagai seorang kepala keluarga. Jumadi juga rutin merawat istrinya dengan terapi dan meminum obat.
"Djum" berhasil meraih penghargaan “Best Production with Strong Social Message and Humanitarian Contribution Award” pada Golden FEMI Film Festival 2026. Penghargaan tersebut diberikan kepada karya yang menonjolkan pesan sosial yang kuat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam acaranya penganugerahannya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Listiana Operananta, mewakili para sineas Indonesia yang berhalangan hadir.
Film Pelajar "Dolanan Nusantara" oleh Dimas Surya Pratama
Di dalam "Dolanan Nusantara", film ini menunjukkan bahwa permainan tradisional yang perlahan mulai hilang keberadaannya di tengah arus modernisasi dan dunia digital, tersimpan warisan pengetahuan.
"Dolanan Nusantara" mengajarkan kalau permainan tradisional bukan hanya untuk bersenang-senang dalam bermain, tetapi juga menjadi sarana belajar.
Melalui permainan tersebut, konsep matematika dapat dipahami dalam konteks budaya melalui pendekatan etnomatematika. Karya oleh Dimas Surya Pratama dan Loka Production tersebut diganjar "Best Educational Documentary and Cultural Heritage Presentation" yang diterima oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, mewakili para sineas Indonesia.
Dilansir dari KBRI Sofia yang dimuat di laman Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar RI untuk Bulgaria, Listiana Operananta, menegaskan bahwa film beperan yang penting dalam membangun pemahaman antarbangsa.
Ia menilai bahwa keberhasilan tiga film Indonesia meraih penghargaan tersebut menunjukkan bahwa narasi yang diangkat punya daya tarik universal dan mampu menjangkau penonton dari beragam latar belakang budaya.
Keberhasilan "Solata", "Djum", dan "Dolanan Nusantara" menjadi pengingat bahwa karya lokal berpotensi besar untuk mendunia.
Dengan prestasi ini, Indonesia tidak hanya membawa pulang penghargaan, tetapi juga memperkenalkan nilai kemanusiaan, budaya, dan pendidikan kepada dunia.
Yuk, Kawan GNFI, mari kita mulai dukung film Indonesia dengan menonton, membagikan, dan mengapresiasi karya-karya anak bangsa!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


