Di pesisir utara Pulau Ambon, ada sebuah bangunan tua berwarna putih yang masih berdiri gagah menghadap Laut Seram. Namanya Benteng Amsterdam, salah satu peninggalan kolonial paling bersejarah di Maluku yang menjadi saksi perebutan rempah-rempah Nusantara berabad-abad lalu.
Di balik tembok tebal dan menara pengintainya, tersimpan cerita panjang tentang Portugis, VOC, perdagangan pala dan cengkeh, hingga perlawanan masyarakat Maluku terhadap monopoli bangsa Eropa.
Benteng Amsterdam Berdiri di Jalur Rempah Negeri Hila

benteng amsterdam | wikimedia commons
Benteng Amsterdam berdiri di kawasan Negeri Hila dan Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Lokasinya berada tepat di tepi pantai dan menghadap langsung ke Pulau Seram.
Tak heran jika Negeri Hila dikenal sebagai salah satu titik penting dalam jalur rempah Maluku sejak ratusan tahun lalu. Kawasan ini dahulu menjadi jalur keluar masuk kapal dagang yang membawa pala dan cengkeh ke berbagai belahan dunia.
Kisah Benteng Amsterdam dari Loji Portugis hingga Benteng VOC
Sejarah Benteng Amsterdam bermula pada tahun 1512, ketika Portugis yang dipimpin Francisco Serrao membangun sebuah loji perdagangan di kawasan Hila. Bangunan awal ini digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil bumi, terutama pala dan cengkeh yang saat itu menjadi komoditas paling diburu bangsa Eropa.
Pada masa itu, Portugis menjadikan wilayah Ambon sebagai pusat perdagangan sekaligus basis pertahanan untuk menjaga monopoli rempah-rempah di Maluku.
Namun situasi berubah ketika masyarakat Maluku mulai melawan dominasi Portugis. Memasuki akhir abad ke-16, konflik semakin besar dan dimanfaatkan Belanda untuk masuk ke Ambon. Setelah menguasai Pulau Ambon pada tahun 1605, VOC mengambil alih loji Portugis tersebut.
Bangunan itu kemudian diubah menjadi kubu pertahanan oleh Gubernur Jenderal Jaan Ottens pada tahun 1637. Perubahan fungsi ini berkaitan dengan perang antara Belanda dan Kerajaan Hitu yang dipimpin Kapitan Kakialy pada 1633 hingga 1654.
Benteng lalu diperbesar oleh Gerrard Demmer pada 1642 dan pembangunan dilanjutkan Anthony Caan. Penyempurnaan akhirnya dilakukan Arnold de Vlaming van Ouds Hoorn pada pertengahan abad ke-17. Dari sinilah nama Benteng Amsterdam mulai digunakan.
Fungsi Benteng Amsterdam pada Masa Kolonial
Pada awal pembangunannya, benteng ini berfungsi sebagai loji perdagangan rempah. Portugis memakai tempat tersebut untuk menyimpan pala dan cengkeh sebelum dikirim ke Eropa.
Ketika VOC mengambil alih, fungsi bangunan berubah menjadi benteng pertahanan militer. Letaknya yang berada di pesisir membuat benteng ini strategis untuk mengawasi lalu lintas laut di kawasan Ambon utara.
Selain menjadi benteng pertahanan, bangunan ini juga difungsikan sebagai tempat tinggal serdadu Belanda, ruang perwira VOC, gudang logistik dan mesiu, hingga pos pengintaian kapal musuh.
Benteng Amsterdam juga menjadi saksi penting bagaimana VOC memperkuat monopoli perdagangan rempah di Maluku.
Arsitektur Benteng Amsterdam yang Masih Bertahan

Fort Amsterdam auf Ambon alias benteng amsterdam
Dari luar, konstruksi Benteng Amsterdam terlihat lebih menyerupai rumah besar Eropa dibanding benteng perang pada umumnya. Karena itu, Belanda menyebut bangunan ini sebagai blok huis.
Bangunan utama terdiri dari tiga lantai dengan fungsi berbeda di setiap bagian.
Lantai pertama memiliki lantai berbata merah dan dahulu dipakai sebagai tempat tidur serdadu serta gudang perlengkapan perang. Lantai kedua digunakan sebagai ruang pertemuan para perwira VOC. Sementara lantai paling atas menjadi pos pengintai untuk memantau pergerakan kapal di Laut Seram.
Di bagian ujung bangunan terdapat menara pengintai dengan akses tangga kayu yang cukup curam. Dari atas benteng, pengunjung bisa melihat hamparan laut biru dan garis pesisir Pulau Seram dari kejauhan.
Jejak Rumphius di Benteng Amsterdam
Benteng Amsterdam juga berkaitan dengan nama Georg Everhard Rumphius, naturalis asal Jerman yang pernah tinggal di Ambon pada abad ke-17.
Rumphius dikenal lewat penelitian flora dan fauna Maluku, termasuk karya terkenalnya Herbarium Amboinense. Di kawasan benteng, pengunjung masih bisa menemukan jejak kisah Rumphius, termasuk sumur tua yang dikaitkan dengan masa tinggalnya di Hila.
Wisata Benteng Amsterdam di Ambon
Kini, Benteng Amsterdam bukan hanya dikenal sebagai bangunan peninggalan kolonial di Maluku, tetapi juga menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yang ramai dikunjungi di Ambon utara. Perpaduan kisah jalur rempah, arsitektur tua, dan panorama Laut Seram membuat tempat ini punya daya tarik yang sulit dilewatkan.
HTM dan Rute Menuju Benteng Amsterdam
Pengunjung tidak dikenakan tarif masuk tetap saat datang ke Benteng Amsterdam. Wisatawan biasanya hanya memberikan sumbangan sukarela untuk membantu perawatan kawasan cagar budaya tersebut.
Perjalanan menuju benteng dapat ditempuh sekitar satu hingga satu setengah jam dari Kota Ambon menggunakan kendaraan bermotor. Jalur menuju Negeri Hila sudah cukup nyaman dilalui, baik dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum.
Bagi backpacker, perjalanan bisa dimulai dari Bandara Pattimura menggunakan angkutan kota trayek Laha, lalu dilanjutkan dengan minibus AKDP menuju Hila.
Sepanjang perjalanan, pengunjung akan melewati kawasan pesisir Ambon utara dengan pemandangan laut, perkampungan warga, dan deretan pepohonan yang masih asri.
Daya Tarik yang Membuat Wisatawan Datang
Suasana pesisir yang tenang, deretan pohon beringin tua, dan angin laut yang sejuk membuat kawasan ini terasa berbeda dibanding destinasi sejarah lain di Ambon.
Dari lantai atas benteng, pengunjung dapat menikmati hamparan Laut Seram yang membentang luas di depan bangunan. Menjelang sore, kawasan ini juga dikenal memiliki pemandangan matahari terbenam yang indah.
Di area sekitar benteng terdapat museum kecil yang menyimpan berbagai benda peninggalan kolonial, mulai dari perlengkapan perang hingga barang pecah belah berusia ratusan tahun.
Pada momen tertentu, wisatawan juga bisa menyaksikan atraksi budaya Bambu Gila, pertunjukan tradisional khas Maluku yang masih dipertahankan masyarakat setempat.
Benteng Amsterdam bukan sekedar bangunan tua di tepi pantai Ambon. Tempat ini menyimpan jejak panjang perdagangan rempah, perebutan kekuasaan bangsa Eropa, hingga kisah masyarakat Maluku yang hidup di tengah pusaran sejarah dunia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


