Hai, Kawan GNFI!
Dalam upaya memperluas ruang inklusi dan membangun jembatan komunikasi yang lebih erat dengan komunitas Tuli, Kawan GNFI bekerja sama dengan Tim Bisindo dan Aksesibilitas (TIBA) Surabaya sukses menyelenggarakan kelas online bertajuk ‘Say It With Hands’.
Acara kelas dasar bahasa isyarat ini digelar pada hari Selasa (19/5/2026), dan berhasil menarik antusiasme tinggi dengan dihadiri oleh 77 peserta dari berbagai kalangan.
Kelas interaktif ini dipandu oleh Pierre Rainer dari GNFI selaku moderator. Sementara itu, sesi edukasi dan materi utama diisi oleh Pak Wawan, seorang mentor berpengalaman dari TIBA Surabaya, didampingi oleh Kak Nana yang bertindak sebagai Juru Bahasa Isyarat (JBI).
Rangkaian agenda kelas ‘Say It With Hands’ dirancang secara komprehensif, dimulai dari pengenalan dasar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), perbedaannya dengan SIBI, dilanjutkan dengan praktik langsung gerakan bahasa isyarat, dan sesi tanya jawab. Di akhir acara, challenge berhadiah saldo e-wallet dibuat untuk peserta yang aktif.
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam materi edukasi ini adalah mengenai etika pelabelan identitas. Pak Wawan menjelaskan bahwa teman-teman Tuli jauh lebih nyaman dipanggil dengan sebutan "Tuli" daripada "tunarungu". Dengan catatan, penggunaan kata "Tuli" dengan huruf 'T' kapital bukanlah suatu bentuk kekasaran, melainkan sebuah identitas.
Dalam kelas ini, peserta juga diajak untuk memahami faktor penyebab ketulian yang sangat beragam. Sebagai informasi Kawan GNFI, ketulian bisa terjadi karena faktor genetik atau bawaan lahir.
Selain itu, kondisi ini dapat dialami seiring proses penuaan (lanjut usia) karena penurunan kemampuan pendengaran, kebiasaan terlalu sering mendengar suara keras, faktor kecelakaan, hingga akibat penyakit tertentu seperti kejang atau keterlambatan penanganan medis.

Lebih lanjut, Pak Wawan dibantu dengan Kak Nana juga mengupas tuntas mengenai tingkat ketulian berdasarkan satuan desibel (dB):
Non-Tuli: Memiliki ambang pendengaran 0–25 dB.
Tuli Ringan (Hard of Hearing/HoH): Berada di angka 26–40 dB.
Tuli Sedang: Berada di angka 41–60 dB, di mana suara masih bisa masuk sedikit.
Tuli Berat: Berada di angka 61–90 dB.
Tuli Sangat Berat/Total: Berada di atas 90 dB.
Peserta juga diberikan pemahaman mengenai variasi yang ada di dalam lingkaran Teman Tuli. Faktanya, tidak semua Teman Tuli berkomunikasi dengan cara yang sama.
Ada Teman Tuli yang sepenuhnya menggunakan bahasa isyarat, ada yang tetap bisa berkomunikasi secara verbal atau lisan, dan ada pula yang menggunakan Alat Bantu Dengar (ABD) atau implan koklea untuk membantu pendengaran mereka.
Dalam sesi diskusi, dibahas pula perbedaan antara Bisindo dan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). SIBI dinilai sering kali membuat bingung karena struktur bahasanya yang kurang lazim dalam komunikasi sehari-hari komunitas Tuli.
SIBI juga rentan memicu miskomunikasi karena gerakannya dianggap kurang jelas dan terlalu kaku jika dibandingkan dengan Bisindo yang lahir secara alami dari budaya Tuli.
Tak hanya itu, Pak Wawan dengan bahasa isyaratnya juga menjelaskan soal perbedaan budaya dengar dan Tuli hingga cara berkomunikasi dengan teman Tuli.
Sebagai penutup, peserta bersama-sama menyalakan kamera untuk kemudian belajar beberapa kosakata bahasa isyarat dengan pembicara. Mereka diajari menghafalkan alfabet dan membuat gerakan tangan untuk beberapa sapaan ringan.
Melalui acara ini, GNFI dan TIBA Surabaya berharap masyarakat awam dapat lebih menghargai keberagaman cara berkomunikasi serta menciptakan lingkungan yang ramah dan aksesibel bagi semua orang tanpa terkecuali.
Jangan lupa untuk ikuti keseruan kelas online Kawan GNFI lainnya, ya!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


