pameran backbench karya mahasiswa fv uny angkat perspektif yang terabaikan di dunia pendidikan - News | Good News From Indonesia 2026

Pameran Backbench Karya Mahasiswa FV UNY, Angkat Perspektif yang Terabaikan di Dunia Pendidikan

Pameran Backbench Karya Mahasiswa FV UNY, Angkat Perspektif yang Terabaikan di Dunia Pendidikan
images info

Pameran Backbench Karya Mahasiswa FV UNY, Angkat Perspektif yang Terabaikan di Dunia Pendidikan


Pameran seni rupa “Suara dari Bangku Belakang” resmi dibuka pada Sabtu, 16 Mei 2026, di Kastagila Collaborative Space. Acara ini diadakan oleh UKM Kesenian FV UNY yang berlangsung hingga 24 Mei, terbuka untuk umum serta free entry.

Pameran ini menghadirkan karya-karya dari siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum yang menyoroti pengalaman mereka di bangku belakang kelas, posisi yang sering luput dari perhatian dalam sistem pendidikan formal.

Menyoroti Kreativitas dan Perspektif Pelajar

Koleksi dalam Pameran Suara Dari bangku Belakang di Kulon Progo Yogyakarta | Foto: GNFI/Pierre Rainer
info gambar

Koleksi dalam Pameran Suara dari Bangku Belakang di Kulon Progo Yogyakarta | Foto: GNFI/Pierre Rainer


Pameran ini disebut lahir dari keprihatinan terhadap cara pendidikan kerap menyoroti prestasi akademis sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Banyak pelajar yang duduk di barisan belakang dianggap kurang menonjol, padahal mereka memiliki bakat, minat, dan perspektif yang unik. 

Melalui pameran ini, UKMF Kesenian Fakultas Vokasi UNY ingin menunjukkan bahwa setiap individu memiliki narasi yang berharga dan layak didengar, terlepas dari posisi duduk mereka di kelas. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua UKMF Kesenian FV UNY Nur Shodiq.

"Semua yang duduk di bangku belakang itu, duduk di bangku belakang itu nggak seburuk itu. Orang-orang yang duduk di bangku belakang (memang) tidak selalu punya nilai akademis yang baik, (tapi) karena mereka juga punya minat dan bakat tersendiri," papar Nur Shodiq kepada GNFI.

Adapun karya yang dipamerkan berupa lukisan, fotografi, ilustrasi, dan mixed media, menampilkan kritik terhadap pendidikan yang kerap menekankan angka dan standar formal.

Selain menampilkan karya visual, pameran juga menghadirkan artist talk yang memungkinkan pengunjung berdialog langsung dengan pencipta karya, memahami pesan dan narasi di balik setiap karya.

Ruang Inklusi dan Dialog Publik

Sesi dialog dalam Pameran Suara dari Bangku Belakang di Kulon Progo Yogyakarta | Foto: GNFI/Pierre Rainer
info gambar

Sesi dialog dalam Pameran Suara dari Bangku Belakang di Kulon Progo Yogyakarta | Foto: GNFI/Pierre Rainer


Pameran ini bertujuan menciptakan ruang inklusif yang memvalidasi keberadaan setiap pelajar. Pengunjung diajak menilai ulang persepsi mereka tentang keberhasilan akademik dan menyadari bahwa setiap individu memiliki potensi unik yang layak dihargai. 

Selain itu, kegiatan ini memicu refleksi dan diskusi publik mengenai pendidikan yang humanis, serta mengapresiasi seni sebagai sarana kritik sosial dan komunikasi pengalaman belajar.

Nur Shodiq menekankan bahwa pendidikan sejati harus memberi ruang bagi semua suara, bukan hanya mereka yang duduk di barisan depan. Pameran ini menjadi langkah kecil namun penting dalam membangun kesadaran kolektif dan inklusivitas dalam pendidikan.

"Ini adalah event perdana kami dari UKM Kesenian Fakultas Vokasi UNY. Setelah kita rundingkan kemarin, mencari isu-isu apa sih yang relate dengan Gen Z sekarang, nah (tema) Suara dari Bangku Belakang ini kami sudah berdiskusi dengan teman-teman, kalau ini pasti akan relate," tutup Nur Shodiq.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Pierre Rainer lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Pierre Rainer.

PR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.