Ada kenangan yang tidak cukup hanya disimpan dalam galeri foto, ia perlu diceritakan ulang, dirayakan kembali, dan dibagikan kepada dunia. Itulah yang dilakukan AIESEC in Untan hari ini: melihat ke belakang, ke sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa keberagaman bukan sekadar tema peringatan tahunan, melainkan sesuatu yang hidup dan nyata di tanah Kalimantan Barat. Di sinilah, tiga budaya besar yaitu Dayak, Melayu, dan Tionghoa telah berdampingan selama berabad-abad dan membentuk harmoni yang tak mudah ditemukan di tempat lain.
Momen yang kini dikenang kembali ini merupakan bagian dari program incoming Global Volunteer (iGV) AIESEC in Untan, yang menghadirkan mahasiswa dari berbagai negara untuk tinggal, belajar, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal. Dalam program tersebut, para peserta asing diajak menjelajahi situs-situs budaya ikonik Pontianak sebuah pengalaman yang tidak hanya memperkaya wawasan mereka, tetapi juga mengingatkan kita semua betapa berharganya warisan yang selama ini ada di sekitar kita.
Perjalanan kala itu dimulai dari jantung sejarah Pontianak: Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, masjid tertua yang berdiri sejak abad ke-18. Di hadapan bangunan berarsitektur Melayu klasik ini, para peserta berdiri dengan ekspresi yang sulit disembunyikan, kagum sekaligus penasaran. Bagi mereka yang datang dari negara-negara dengan latar belakang budaya yang jauh berbeda, menyaksikan masjid bersejarah yang masih aktif digunakan hingga kini adalah pengalaman yang melampaui sekadar wisata biasa.
Persinggahan berikutnya membawa rombongan ke Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, salah satu cagar budaya paling penting di kota ini. Di dalam ruang bercat kuning cerah yang menjadi ciri khas Kesultanan Melayu, para peserta diperkenalkan dengan artefak, foto-foto bersejarah, dan singgasana yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah peradaban. Para pengelola istana menyambut hangat, membuka cerita-cerita di balik setiap benda yang tersimpan di dalamnya dengan penuh kebanggaan.
Dari nuansa Melayu yang agung, perjalanan berlanjut ke sisi Pontianak yang tak kalah kaya: budaya Tionghoa. Kunjungan ke sebuah kelenteng yang dihiasi ornamen naga dan burung phoenix di atapnya membuka babak baru dalam hari itu.
Di tempat ini, para peserta memahami bagaimana komunitas Tionghoa telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Kalimantan Barat selama ratusan tahun bukan sekadar pendatang, melainkan warga yang turut membangun dan mewarnai peradaban daerah ini dengan tradisi, seni, dan nilai-nilai yang kini menjadi milik bersama. “Saya tidak menyangka satu kota bisa menyimpan begitu banyak budaya yang berbeda. Di sini, semuanya terasa seperti bagian dari satu keluarga besar.” ucap Nithes Thakur pemuda asal India, program iGV AIESEC in Untan.

Puncak dari seluruh rangkaian kunjungan adalah persinggahan di Rumah Betang, rumah panjang adat suku Dayak yang tiang-tiangnya dihiasi ukiran khas bermotif sulur dan flora Borneo. Jika dua destinasi sebelumnya mengajak peserta merenungkan warisan dari balik kaca sejarah, Rumah Betang mengajak mereka untuk benar-benar merasakannya: arsitektur yang megah, motif ukiran yang sarat makna, dan semangat komunal yang masih terpancar kuat dari setiap sudutnya.
Sebagai penutup yang tak terlupakan, kunjungan ke kawasan Wisata Saung Nila menghadirkan perjumpaan langsung dengan para penari berpakaian adat Dayak yang memukau. Di tengah rimbunnya pepohonan Borneo, para peserta dari berbagai penjuru dunia itu berdiri bersama terhubung oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perbedaan bahasa dan asal negara.
Mengenang perjalanan itu hari ini, di momen World Day for Cultural Diversity, terasa seperti menemukan kembali sesuatu yang sempat terlupakan di tengah kesibukan sehari-hari: bahwa kita hidup di tempat yang luar biasa. Kalimantan Barat membuktikannya setiap hari dalam cara orang-orangnya saling menyapa, dalam bangunan-bangunannya yang berdiri berdampingan tanpa saling menegasi, dalam festival-festival yang dirayakan lintas batas suku dan agama. AIESEC in Untan, lewat program incoming Global Volunteer-nya, tidak hanya mengajak pemuda dunia untuk melihat keindahan itu tetapi juga mengingatkan kita yang tinggal di sini untuk tidak berhenti mensyukuri dan menjaganya.
Karena pada akhirnya, dunia yang lebih damai tidak dibangun hanya di meja perundingan. Ia dibangun dari momen-momen seperti ini yang kini kita kenang kembali dengan bangga ketika seorang pemuda dari belahan dunia lain berdiri di depan Rumah Betang, tersenyum, dan berkata: “I never knew a place like this existed.”
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


