Selama ini, banyak perusahaan yang dengan bangga mengklaim bahwa bisnis mereka sudah menerapkan konsep ramah lingkungan atau rendah karbon.
Masalahnya, klaim-klaim tersebut sering kali tidak memiliki dasar hitungan yang jelas alias sekadar kosmetik pemasaran. Menghitung emisi gas rumah kaca (GRK) memang bukan perkara mudah, sebab rumusnya rumit dan standarnya sering kali membingungkan pelaku usaha serta lembaga keuangan di dalam negeri.
Ketidakpastian metodologi inilah yang membuat perbankan sering ragu untuk mengucurkan pembiayaan hijau.
Langkah peluncuran Kalkulator Hijau v.2 oleh Bank Indonesia bersama BRIN bertujuan untuk memutus kebingungan tersebut. Perangkat ini hadir sebagai solusi teknis sekaligus infrastruktur strategis nasional agar penghitungan emisi industri memiliki standar ilmiah yang kredibel dan diakui secara internasional.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menjelaskan bahwa alat ini dirancang untuk menyederhanakan proses yang tadinya rumit.
Dengan adanya sistem yang terstruktur, pelaku usaha tidak perlu lagi meraba-raba jumlah emisi yang mereka hasilkan, sehingga tata kelola ekonomi hijau kita bisa berbasis pada data riil, bukan sekadar prediksi kasar.
Metodologi Internasional untuk Hitungan yang Akurat
Solusi utama yang dibawa oleh Kalkulator Hijau v.2 adalah sinkronisasi metodologi dengan standar global seperti IPCC, GHG Protocol, hingga ISO 14064-1:2018.
Alat ini mampu menghitung emisi secara komprehensif, mulai dari Scope 1 (emisi langsung), Scope 2 (emisi dari listrik yang dibeli), Scope 3 (emisi dari rantai pasok), hingga Scope 4 yang menghitung pengurangan emisi dari penggunaan kendaraan listrik atau proyek carbon offset.
Kemampuan mencakup seluruh lini emisi ini menjadi jawaban bagi industri nasional yang ingin menembus pasar global.
Saat ini, pasar internasional semakin cerewet menuntut laporan keberlanjutan yang transparan. Dengan menggunakan kalkulator ini, daya saing produk ekspor kita bisa meningkat karena proses produksinya dipantau dengan indikator yang jelas dan diakui di luar negeri.
Di sisi lain, kehadiran alat ini juga memperkuat pendekatan kebijakan berbasis sains (science-based policy). Data yang dihasilkan dari kalkulator ini dapat digunakan untuk mendukung kajian Life Cycle Assessment (LCA) yang mengukur dampak lingkungan suatu produk sejak dari bahan baku hingga dibuang.
Proses evaluasi yang terukur ini membuat agenda dekarbonisasi industri tidak lagi menjadi beban, melainkan bagian dari efisiensi manajemen.
Bagi lembaga keuangan, Kalkulator Hijau v.2 merupakan alat yang sangat penting. Sebelum menyalurkan pembiayaan berkelanjutan, bank kini memiliki instrumen standar untuk menilai apakah sebuah proyek benar-benar berkontribusi menurunkan emisi atau hanya sekadar melakukan greenwashing.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


