harta karun logam tanah jarang melimpah tapi kenapa kita masih bingung cara mengolahnya - News | Good News From Indonesia 2026

Harta Karun Logam Tanah Jarang Melimpah, Tapi Kenapa Kita Masih Bingung Cara Mengolahnya?

Harta Karun Logam Tanah Jarang Melimpah, Tapi Kenapa Kita Masih Bingung Cara Mengolahnya?
images info

Dok. Vyacheslav Svetlichnyy/Shutterstock


 

Indonesia selama ini dikenal sebagai pemain besar untuk komoditas nikel dan timah. Namun, ada satu harta karun lain yang potensinya tidak kalah menjanjikan tetapi belum tergarap optimal, yaitu Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements.

Data Kementerian ESDM menunjukkan kita memiliki potensi sebaran LTJ hingga 1,2 juta hektar yang tersebar dari Sumatra, Sulawesi Barat, hingga Papua Barat. 

Sayangnya, potensi raksasa ini masih terganjal oleh masalah klasik, yakni keterbatasan peralatan riset untuk validasi sampel dan minimnya tenaga ahli yang kompeten di bidang ini.

Kondisi tersebut membuat komoditas strategis ini lebih sering menjadi mineral ikutan yang terbuang atau tidak teridentifikasi dengan baik saat pengerjaan tambang utama seperti bauksit atau nikel.

Baru-baru ini, BRIN bersama Badan Industri Mineral (BIM) bertujuan untuk mengurai kebuntuan tersebut. Melalui pendekatan teknologi terkini dan penguatan kapasitas riset, harapannya status potensi mineral yang melimpah ini bisa segera divalidasi menjadi cadangan terbukti yang siap diproduksi.



Berburu Harta Karun Hingga ke Dasar Laut

Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan karena endapan LTJ kita kaya akan kandungan logam dari batuan granit dan vulkanik.

Jika dikelola dengan benar, komoditas ini bisa menjadi motor penggerak bagi Indonesia untuk memimpin industri baterai dan magnet canggih, minimal di tingkat ASEAN.

Solusi untuk memaksimalkan potensi ini tidak hanya pada wilayah daratan. Berdasarkan pemetaan terbaru, Indonesia juga memiliki potensi LTJ yang sangat besar di wilayah maritim.

Sebaran mineral monasit dan senotim pembawa LTJ diketahui tersimpan di bawah lapisan lempung dasar laut, berkaitan dengan endapan letakan pantai purba. Ini adalah ruang baru yang membutuhkan kehadiran teknologi eksplorasi bawah laut yang lebih modern.

Pengembangan teknologi dasar laut ini menjadi jawaban atas kebutuhan energi nasional di masa depan. Namun, teknologi canggih tidak akan berfungsi tanpa adanya regenerasi tenaga ahli.

Pemerintah perlu mendorong keterlibatan generasi muda dan akademisi dalam riset geologi kelautan agar kita tidak terus-menerus bergantung pada konsultan asing untuk membaca data kekayaan alam kita sendiri.

Riset yang masif dengan pendekatan teknologi karakterisasi sampel menjadi solusi utama agar proses pemisahan logam tanah jarang dari mineral utamanya bisa berjalan efisien.

Selama ini, tantangan terbesar ada pada proses pemurnian yang rumit. Dengan penguasaan teknologi pemrosesan yang tepat, nilai jual komoditas tambang Indonesia bisa melambung tinggi karena tidak lagi diekspor dalam bentuk setengah matang.

 

Kolaborasi untuk Lepas dari Status Potensi

Mengubah status dari sekadar "memiliki potensi" menjadi "memiliki cadangan industri" membutuhkan kerja sama yang tidak main-main.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, institusi pengelola mineral, dan pihak akademisi menjadi upaya yang harus untuk memperkuat kapasitas SDM eksplorasi dari hulu hingga ke hilir.

Kita memerlukan peta jalan riset yang detail guna mengidentifikasi titik-titik kritis kandungan LTJ di wilayah potensial seperti Parmonangan, Sibolga, dan Bangka-Belitung.

Kebijakan yang suportif dari pemerintah juga diperlukan untuk mempermudah perizinan riset dan pengadaan alat karakterisasi skala laboratorium industri. Jika ekosistem risetnya sudah siap, investor akan lebih percaya diri untuk menanamkan modal pada fasilitas pengolahan LTJ di dalam negeri.

Sebab, Indonesia tidak boleh lagi hanya bangga dengan angka cadangan di atas kertas sementara penguasaan teknologinya masih tertinggal.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.